Pesan Emak untuk Dua Anak Lelaki: Tawa, Tangis, dan Cinta Love You to the Moon and Back
Hallo dua anak lelaki kesayangan mama. Hari ini ada yang sedikit berbeda di blog ini. Tante Indah dari komunitas Kumpulan Emak Blogger menantang mama untuk menulis proyek #dearsons. Tentu saja tantangan ini langsung mama terima.
Sebab, kalau sudah membahas anak-anak, mama selalu punya segudang cerita seru untuk dibagikan. Uhuiii! Jadi, mari kita mulai surat cinta yang sedikit lebay ini ya.
Pesan Emak untuk Dua Anak Lelaki di Tengah Malam
Tahukah kalian kalau mama sering memandangi wajah kalian selagi tertidur pulas? Bahkan, kebiasaan ini terus berlanjut sampai kalian berdua sudah menjadi mahasiswa dewasa.
Kelakuan mama ini menurut sains modern, bahwa otak seorang ibu mengalami neuroplastisitas atau perubahan permanen setelah melahirkan. Akibatnya, insting pelindung ibu akan terus menyala tanpa mengenal usia anak.
Karena itulah, banyak pikiran berputar di kepala mama saat menatap kalian. Apakah mama sudah menjadi ibu yang baik? Apakah mama sudah mengerahkan seluruh daya untuk kalian? Selain itu, mama sungguh penasaran memikirkan bagaimana sosok mama di mata kalian.
Drama Mie Instan dan Cinta Mama yang Biasa Saja
Banyak anak dengan bangga menyebut ibu mereka sebagai wanita paling sempurna di dunia. Namun, apakah kalian akan menjawab hal yang serupa? Atau, kalian justru jujur menyebut wanita yang melahirkan kalian ini manusia biasa yang banyak kurangnya?
Faktanya, mama memang bisa sewot sampai ke ubun-ubun untuk urusan sepele. Misalnya, saat meja belajar rapi tiba-tiba berantakan karena lemparan kaos kaki bau dan bola. Belum lagi, mama sering ngamuk saat kalian berkelahi tanpa mencari tahu duduk perkaranya.
Selanjutnya, mama juga penasaran dengan pendapat kalian soal sarapan mie instan. Padahal, sebelumnya mama berpidato panjang lebar menentang makanan tidak sehat.
Nah semoga kalian maklum ya. Karena ini ada penjelasan sainnya juga.
Secara psikologis, fenomena mama bawel soal mie instant sering disebut maternal guilt atau rasa bersalah sang ibu. Walau begitu, ketahuilah bahwa rasa bersalah itu selalu mama sembunyikan rapat-rapat di balik segerobak sayuran dalam mangkuk mie kalian.
Pesan Emak untuk Dua Anak Lelaki, Antara Karier dan Daster
Terkadang, mama juga ingin tahu perasaan kalian saat membandingkan mama dengan ibu teman kalian. Mereka mungkin punya karier kantoran yang keren, berdandan cantik, dan wangi setiap saat. Sebaliknya, mama menghabiskan hari di rumah dengan daster andalan. Topik obrolan mama juga berputar di urusan rumah berantakan, tingkah laku crew rumah tangga, atau rencana jalan-jalan.
Namun, hari ini bangga banget banget setelah membaca sebuah jurnal psikologi.Tepatnya ada alasan untuk menghibur diri.
Karena studi psikologi anak membuktikan sebuah fakta menarik. Ketersediaan emosional ibu terbukti jauh lebih krusial bagi ketangguhan mental anak dibandingkan status pekerjaan ibunya. Oleh karena itu, tak banyak yang bisa mama pamerkan, yang jelas akhirnya mama bisa bangga pada profesi ibu rumah tangga ini.
Bahagia banget, karena menjadi ibu dari dua anak lelaki tampan, sehat, dan berbakat adalah puncak prestasi mama sebagai wanita.
Oksitosin, Keputusan Besar, dan Misteri Kehidupan
Mama memutuskan berhenti bekerja saat Koko berusia satu tahun. Sungguh, itu adalah keputusan yang luar biasa berat. Aki dan Uci sudah bersusah payah menyekolahkan mama agar bisa mandiri. Sayangnya, hormon cinta alias oksitosin bekerja terlalu kuat mengikat batin kita. Akibatnya, mama tidak bisa fokus bekerja karena terus terbayang wajah Koko yang menangis sambil melambaikan tangan di pagi hari.
Sejak saat itu, mama memutuskan untuk murni mengikuti tuntutan kata hati. Pilihan menjadi ibu rumah tangga rupanya menjadi investasi terbaik. Mama merasa terbayar tunai saat menjadi saksi pertama setiap kata dan langkah awal kalian. Meskipun hidup ini penuh misteri, petualangan merawat kalian sukses memompa adrenalin mama setiap harinya.
Bukti Cinta Love You to the Moon and Back
Meskipun mama sering bertingkah bak raksasa bermata merah saat mood swing PMS menyerang, mama tetaplah wanita paling beruntung sedunia. Buktinya terlihat nyata saat Koko mengikuti sesi latihan kepemimpinan.
Saat peserta lain menangis tersedu-sedu mengingat trauma masa lalu, Koko justru kebingungan. Koko merasa tidak punya tragedi kesepian karena mama dan papa selalu hadir.
Nah, ilmu psikologi menyebut kondisi ini sebagai secure attachment atau kelekatan aman yang sukses dibangun sejak dini. Mendengar itu, hati mama langsung melambung tinggi ke angkasa.
Baca juga:
Janji Bodyguard dan Impian Cinderella
Begitu juga dengan kamu, Dede. Banyak sekali peristiwa manis yang terukir di antara kita. Mama pernah tersipu malu saat kamu berjanji akan menjadi bodyguard mama setelah menonton film Whitney Houston.
Padahal, waktu itu umurmu baru lima tahun! Selain itu, memori liburan kita di Malioboro juga tak pernah pudar. Saat kita terpisah di tengah lautan manusia, kamu berani melawan arus hanya untuk mencari mama.
Saat bertemu, kamu merangkul mama layaknya pangeran pelindung. Tanpa kamu sadari, kamu sudah mewujudkan impian Cinderella mama.
Wahai anak-anakku, semoga Sang Pencipta selalu mengawal pertumbuhan kalian hingga kita menutup mata nanti. Pesan emak untuk dua anak lelaki ini akan selalu menjadi jejak digital yang tak lekang oleh waktu. Tetaplah melangkah gagah dan selalu ingat, love you to the moon and back!







Mama yang lebay
@eviindrawanto

