Halo Sobat JEI! Pernahkah kita memikirkan, untuk apa sih kita repot-repot mengenali konsep kemiskinan seperti absolut dan relatif? Bukankah di lingkungan masyarakat Indonesia kita sangat mudah menemukan fenomena ini sehari-hari?
Anggap saja ini sebagai bahan refleksi untuk lebih memahami diri sendiri. Percayalah, saat kita sudah paham diri sendiri, kita akan jauh lebih mudah memahami orang lain. Di samping itu, jujur saja, topik ini juga lumayan banyak dicari oleh pembaca setia di blog ini. Baca sampai ke bawah, yuk!

Apa yang Dimaksud dengan Kemiskinan Absolut?
Setiap kali ada kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), angka kemiskinan hampir selalu dipastikan bergerak naik. Kenapa demikian?
Kemiskinan absolut sangat bergantung pada batas kondisi ekonomi atau angka pasti. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) biasanya menggunakan tolak ukur Garis Kemiskinan, yang mencakup kebutuhan minimum pangan (setara 2.100 kkal per kapita per hari) dan non-pangan (sandang, papan, kesehatan, pendidikan).
Kenaikan harga kebutuhan pokok akibat naiknya BBM akan menurunkan standar kesejahteraan ke level tertentu. Misalnya, jika sebelumnya Sobat JEI atau masyarakat pada umumnya bisa makan tiga kali sehari dengan lauk ikan asin plus sayur kangkung, kenaikan harga bisa mencoret ikan asin dari daftar menu, atau mengurangi porsi makan menjadi dua kali sehari.
Kebijakan pemerintah yang memangkas subsidi selalu menekan lapisan masyarakat bawah. Para ahli menyebut mereka yang tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar hidup minimal ini sebagai kelompok yang hidup di bawah garis kemiskinan absolut.
Memahami Kemiskinan Relatif berupa Bencana Berwujud “Perasaan”
Konsep yang jauh lebih menarik untuk diamati adalah kemiskinan relatif. Penderitanya paling banyak, lintas gender, lintas usia, dan bisa terjadi di mana saja.
Berbeda dengan kemiskinan absolut di mana pemerintah mengukur batas kelayakannya menggunakan angka pengeluaran atau kalori harian, kemiskinan relatif justru bermain di ranah perasaan. Lingkungan sosiallah yang secara langsung membentuk standar gaya hidup ini. Siapa yang tidak tiba-tiba merasa miskin ketika kita sehari-hari dengan nyaman menyetir Toyota Avanza atau Innova andalan keluarga, sementara teman-teman di lingkungan sekitar asyik memamerkan Ford Ranger, Fortuner, atau bahkan Lexus?
Atau, siapa yang tidak ngenes saat akhir liburan panjang mendengar teman-teman berceria ria membawa cerita dari Australia, Amerika, atau Eropa, sementara kita untuk bisa liburan ke Jogja saja harus memutar otak dan “menggerakkan langit dan bumi”?
Singkatnya, kemiskinan relatif terasa mematikan karena ia melukai ego. Bila kita menganggap perbedaan tingkat sosial ekonomi ini sebagai wujud ketidakadilan, rasa antipati atau frustrasi akan sangat mudah muncul saat melihat gaya hidup sekelompok kecil orang kaya. Sejatinya, kita juga mendambakan posisi mereka, namun ketidakmampuan menghalangi kita
Perbedaan Kemiskinan Absolut dan Relatif
Untuk memudahkan pemahaman, mari kita bandingkan secara langsung perbedaan mendasar antara kedua konsep ini:
| Indikator Perbandingan | Kemiskinan Absolut | Kemiskinan Relatif |
| Definisi Dasar | Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pokok hidup minimal. | Ketidakmampuan mengikuti standar gaya hidup lingkungan sekitar. |
| Tolak Ukur | Angka pasti (Garis Kemiskinan BPS, kalori harian, pendapatan minimal). | Kesenjangan sosial, perbandingan dengan orang lain. |
| Sifat Kemiskinan | Mutlak dan objektif. | Bergantung pada lokasi, waktu, dan persepsi subjektif. |
| Contoh Kasus | Kesulitan membeli beras atau membayar biaya sewa tempat tinggal. | Merasa kurang karena tidak punya smartphone keluaran terbaru seperti teman sekantor. |
Bisakah Kemiskinan Relatif Punah?
Pemerintah tentu berkewajiban mempersempit jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Menciptakan lapangan kerja yang merata dan membuka akses pendidikan yang terjangkau adalah dua cara ampuh untuk mempersempit jurang ketimpangan tersebut.
Namun pertanyaannya: Jika jurang sosial ekonomi menyempit, akankah perasaan miskin relatif ini musnah dengan sendirinya?
Tentu tidak. Perasaan “kurang” dibandingkan orang lain akan terus bersarang dalam sanubari manusia. Saat kita bergerak naik mencapai kelas sosial tertentu, mereka yang sudah lebih dulu berada di sana juga akan berusaha mempertahankan status quo sambil terus menaikkan standar status mereka sendiri. Jadi, kapan berakhirnya? Jawabannya ada pada seberapa besar rasa syukur kita terhadap apa yang kita miliki saat ini.
FAQ: Pertanyaan Seputar Konsep Kemiskinan Absolut dan Relatif
Para ahli ekonomi mengukur kemiskinan absolut berdasarkan ketidakmampuan seseorang memenuhi kebutuhan dasar fisik minimal (sandang, pangan, papan). Sementara itu, kemiskinan relatif muncul ketika seseorang merasa tidak mampu mengikuti standar gaya hidup rata-rata di lingkungan sosialnya, meskipun mereka sebenarnya sudah memenuhi kebutuhan dasar tersebut.
Contoh paling umum adalah merasa “miskin” karena anak tidak bersekolah di sekolah internasional seperti anak tetangga, atau merasa tidak sukses karena belum bisa liburan ke luar negeri padahal rekan kerja sering melakukannya tiap tahun.
Di Indonesia, indikator ini diukur oleh BPS melalui Garis Kemiskinan (GK), yang merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (setara 2100 kilokalori per hari) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (kebutuhan minimum perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).
Karena sifatnya yang psikologis dan bergantung pada perbandingan sosial. Selama ada perbedaan kelas dan manusia masih memiliki kecenderungan membandingkan gaya hidupnya dengan orang lain (terutama di era media sosial), kemiskinan relatif akan terus ada.
@eviindrawanto
