Pengalaman saya makan pensi di Sungai Janiah memberikan sensasi unik yang jarang diekspos dalam peta wisata Sumatera Barat. Oleh karena itu, saya menuliskan di blog ini. Siapa tahu Sobat JEI ada rencana melihat Sungai Janiah dan berniat mencoba pula.
Pensi yang saya maksud di sini adalah kerang air tawar endemik yang sangat enak dimakan. Hidup di sawah-sawah sungai dan tempat-tempat berair lainnya. Secara ilmiah, peneliti mengklasifikasikan pensi ke dalam keluarga Corbiculidae yang menyimpan protein tinggi dan zinc peningkat imun tubuh.
Kerang mungil ini menampilkan bentuk yang sangat berbeda dari tutut. Spesies ini memamerkan cangkang bergaris hitam-putih, cantik secara visual. Daging di baliknya menyembunyikan warna putih kekuningan.
Dulu di masa kecil, saya sering menikmati gulai pensi hasil panenan nenek dari aliran Sungai Batang Agam. Namun, sejak nenek berpulang, kisah saya dengan makhluk kenyal itu terhenti seketika.
- Baca di sini tentang : Kenangan Ramadan di Kampung Halaman – Aroma Bunga Rampai dan Cinta Monyet di Surau Ruhama
Kenangan Manis Saat Makan Pensi di Sungai Janiah
Tahun demi tahun berlalu begitu saja membawa perubahan. Akhirnya, saya menyambangi kembali rumah legenda ikan sakti ini. Saat itulah, semesta kembali mempertemukan saya dengan memori masa kecil. Tentu saja, makan pensi di Sungai Janiah menawarkan pengalaman yang sangat berbeda dari masakan mendiang nenek.
Masyarakat setempat tidak menggunakan kuah santan kental. Sebaliknya, mereka menumis kerang mungil ini bersama rajangan daun bawang, seledri, serai, jahe, dan garam.
Pendekatan kuliner ini ternyata memiliki fondasi keilmuan yang kuat; teknik menumis tanpa santan sangat efektif mengunci asam amino glutamat yang menciptakan profil rasa gurih alami pada hidangan air tawar.
Saya langsung membeli sebungkus dari pedagang setempat. Kemudian, saya membawa bungkusan itu duduk ke tepi kolam pada sore yang bergelimang cahaya keemasan. Saya mengutil cangkang yang terbelah satu per satu dengan jari. Perlahan, saya membiarkan daging mungil beserta sari patinya mengalirkan kenikmatan di atas lidah.
Akibatnya, hantaman rindu kepada dongeng-dongeng malam sang nenek datang menyapa dengan sangat lembut.
Misteri Ikan Sakti di Balik Kolam Ketenangan






Selain bernostalgia dengan rasa, keberadaan kolam ini juga sukses membangkitkan imajinasi masa kanak-kanak. Ratusan ikan garing bertubuh besar selalu berkerumun gesit setiap kali pengunjung melempar kulit pensi ke dalam air.
Waktu masih kecil, hamparan kolam ini terasa jauh tapi juga menggelisahkan batin. Beruntung, saat saya menatap ikan-ikan itu berenang riang sore ini, misteri masa lalu perlahan lumer tak bersisa.
Peneliti biologi kelautan mencatat bahwa ikan garing atau Tor tambroides memang sering masyarakat keramatkan di berbagai lubuk larangan wilayah Sumatera demi menjaga kelestarian ekosistem sungai secara alami.
Wujud ikan-ikan purba ini mungkin masih terlihat agak menakutkan bagi pandangan awam. Meskipun begitu, sisi mistisnya yang kelam sudah tak lagi membekas di hati saya hari ini.
Jejak Lokasi Sebelum Makan Pensi di Sungai Janiah

Bagi Sobat JEI yang merasa penasaran, masyarakat memelihara lokasi magis ini di wilayah Nagari Tabek Panjang, Baso, Kabupaten Agam. Jarak tempuhnya hanya membentang sekitar 12 kilometer dari hiruk-pikuk Kota Bukittinggi.
Seperti tulisan saya sebelumnya tentang Legenda Ikan Sakti, penduduk lokal menjadikan kolam seluas 50 meter persegi di bawah kaki Bukit Sitanjua ini sebagai area pelestarian turun-temurun. Penduduk setempat percaya dengan teguh bahwa ikan-ikan tersebut meneruskan garis keturunan manusia purba. Oleh karena itu, tidak ada satu pun warga sekitar yang berani menangkap atau memakan ikan tersebut.
Pakar sosiologi budaya melihat fenomena mitos lokal semacam ini sebagai instrumen konservasi tradisional yang sangat efektif mencegah eksploitasi kekayaan alam secara berlebihan. Cerita rakyat ini terus bergulir tanpa henti dari lisan nenek ke nenek buyut hingga menyentuh telinga kita hari ini.
Pasti ada kejadian sejarah awal yang memicu kelahiran legenda unik ini. Namun, biarlah sang waktu yang terus membalutnya menjadi narasi cerita rakyat yang menawan.
Realita Sebungkus Kerang dari Danau Maninjau
Mari kita kembali membahas tentang kudapan kenyal kita pada sore ini. Awalnya, saya merasa sangat heran mengamati keadaan sekitar. Hampir setiap warung wisata di tepian kolam menjual menu tumisan yang persis sama. Apakah warga memanen kerang-kerang segar ini langsung dari dasar kolam ikan sakti?
Ternyata kenyataannya sama sekali tidak demikian. Pedagang mendatangkan bahan baku kerang mentah ini jauh-jauh dari kawasan Danau Maninjau.
Ahli geologi menjelaskan bahwa Danau Maninjau yang terbentuk dari letusan kaldera vulkanik purba memiliki tumpukan sedimen kaya mineral yang sukses menciptakan habitat perkembangbiakan pensi paling optimal di ranah Sumatera.
Jadi, para pedagang menghadirkan camilan ini khusus untuk memanjakan lidah para wisatawan sekaligus menyediakan amunisi umpan bagi sang ikan sakti.
Sayangnya, ada sedikit kekecewaan yang terselip dari sebungkus nostalgia sore ini. Pedagang membungkus tumisan pensi di dalam kantong plastik ukuran kecil. Seringkali, pedagang mengisi kantong itu lebih banyak dengan cangkang kosong yang berbunyi nyaring, sementara daging kenyalnya entah menghilang ke dimensi mana.
Karena itu, walau saya nekat menghabiskan pesanan dan makan pensi di Sungai Janiah sampai lima kantong berturut-turut, rasanya tetap belum sukses memuaskan dahaga rindu ini secara paripurna!
@eviindrawanto2026
Baca juga:
