Makan Malam Keluarga di Resto Yonny Alam Sutera, Menyeruput Hangatnya Kuah Suan Cai Bersama Kesayangan

Hari Kamis, si bungsu WA dan menanyakan apakah punya acara di akhir pekan? Karena dia dan istrinya mau ajak saya dan papanya makan malam di luar. Saya tidak punya acara tapi tetap konfirmasi ke suami apakah dia punya. Kuatirnya kalau saya sudah bikin janji tiba-tiba doi punya acara sendiri, kan mubazir juga bikin agenda. Untungnya tidak.
Sesungguhnya, menemukan tempat yang pas untuk makan malam di kawasan Alam Sutera itu tidak sulit. Sebagai kawasan yang sedang bertumbuh, di sini banyak banget pilihan yang tersedia jika ingin berwisata kuliner. Mulai dari makanan western, asia, sampai lokal, berjejer untuk dipilih. Tergantung selera dan harga saja.
Namun saat si bungsu menawarkan makan malam keluarga di resto Yonny Alam Sutera itu mempermudah pilihan, menghemat energi saya.Selain tentu saja pilihan restonya yang banyak menawarkan menu ikan, daging-dagingan yang masih bersedia kami santap. Yah, seiring bertambahnya umur, makanan yang masuk ke tubuh harus selektif, sudah tak bisa main habek!
Begitu lah Sobat JEI! Jadilah akhir pekan lalu, si bungsu beserta istrinya mengajak saya, suami, dan si sulung untuk memanjakan lidah. Dan tentu saja silaturahmi, pertemuan yang diusahakan sebulan sekali, karena sekarang kami sudah tinggal berpencar.
Pada hari Sabtu yang cerah itu, saya dan suami meluncur santai dari rumah selepas magrib.
Sebagai salah satu mall keren di Tangerang, Living World Mall menyambut kami dengan pendar lampunya yang hangat. Seperti biasa, mall ini sangat padat di akhir pekan dan hari-hari libur lainnya. Untungnya tempat parkir mereka memadai, jadi tidak begitu sulit juga untuk mencari tempat bagi mobil kami.
Karena masih awal, saya dan suami menyempatkan diri lihat-lihat isi mall sebentar. Tidak beli cuma sekadar cuci mata. Maklum lah, saya tipikal ema-emak yang kalau ke mall cuma sedang butuh sesuatu. Gak pernah secara sengaja main ke pusat perbelanjaan kecuali mau belanja.
Seperti dugaan saya semula Living World Mall sore itu sangat padat saat kami melangkah ke dalam. Keriuhannya bikin langkah saya lebih bergegas ke restoran yang ditunjuk si Bungsu.
Eksplorasi Menu Makan Malam Keluarga di Resto Yonny Alam Sutera
Seorang mas-mas karyawan mengiring kami ke tempat duduk. Ia menyodorkan buku menu bergaya oriental begitu kami menduduki kursi kayu yang difernis dengan licin. Saya mempelajari deretan gambar-gambar menu yang menggiurkan. Karena ini adalah pengalaman pertama bagi saya makan di resto ini, bingung juga menentukan. Semua kelihatan enak. Akhirnya pilihannya diserahkan kepada anak-anak, mereka lebih tahu. Lebih dari pada itu mereka juga tahu selera ortunya.
Yang menyenangkan, restoran ini dengan bangga mengusung konsep No Pork No Lard. Tentunya ini penting bagi pelanggan yang muslim.
Dari daftar menu dan interios ruangan, Resto Yonny Alam Sutera ini fokus pada hidangan otentik Tiongkok: Ikan Sawi Asam Klasik (Suan Cai Yu).
Kalau kita telusuri sejarahnya, hidangan Suan Cai Yu berasal dari wilayah Chongqing. Di masak dengan kuah dan sawi yang sudah difermentasi sawi ala Sichuan. Teknik ini terkenal ampuh mengunci rasa umami alami sayuran.
Menyebut Chongqing, imajinasi saya spontan melayang pada banyak penawaran paket tour yang berseliweran di lini masa sosmed. Belum pernah ke sana. Namun sekilas memperlihatkan kota perbukitan yang indah, sering berkabut dan dibelah arus Sungai Yangtze, sungai terpanjang tak hanya di China bahkan Asia.
Nah, dari tepian sungai Chang Jiang (dalam bahasa Tiongkok) dan beraliran deras inilah hidangan Suan Cai Yu lahir. Menetas dari rahim kuliner Jianghu atau masakan ala rakyat pesisir. Embrio dari ekonomi barter, di mana para nelayan setempat pada era 90-an sering menukar hasil tangkapan ikan segar mereka dengan sayur asin buatan warga lokal.
Jadi, pertukaran barter sederhana ini yang secara tak sengaja melahirkan mahakarya kaldu berpadu ikan yang melegenda hingga bisa kami nikmati malam itu.
Rahasia Dibalik Rasa Umami Ikan Suan Cai Yu

Lalu, apa rahasia di balik rasa umami yang menari liar di lidah kita? Mari kita kulik juga sejarahnya.
Jadi rasa umami itu kuncinya terletak pada seni fermentasi sayuran kuno ala Sichuan. Masyarakat daratan Tiongkok menggunakan tempayan tembikar tanah liat khusus yang bernama pao cai guan. Tempayan ini memiliki desain jenius dengan cekungan air di bagian bibir penutupnya. Genangan air ini berfungsi sebagai katup segel udara alami yang mencegah oksigen masuk ke dalam tempayan.
Teknik segel air ini sukses menciptakan lingkungan anaerobik atau kedap udara yang sempurna. Bak barisan tentara mungil yang rajin bekerja, bakteri asam laktat memulai proses transformasinya di dalam kegelapan tempayan. Mereka secara perlahan memecah struktur karbohidrat dan protein pada helaian sawi hijau segar. Selanjutnya, proses panjang ini melepaskan asam amino glutamat secara alami ke dalam serat daun.
Sawi yang awalnya berasa langu, seolah ‘disekolahkan’ sedemikian rupa hingga lulus menjadi primadona kaldu. Teknik fermentasi Sichuan ini terbukti tidak hanya mengunci tekstur renyah sayuran agar tak layu saat dimasak. Sentuhan magisnya juga mengubah sawi asam menjadi bom umami yang meledak lembut saat bersentuhan dengan kaldu ikan.
Sebuah harmoni sains dan tradisi masa lalu yang sukses memanjakan lidah kita, manusia moderen.
Memilih Menu

Awalnya, mata saya sempat melirik nakal ke arah Ayam Tumis Khas Linyi yang tersaji di atas tembikar. Daging Sapi Mala berkuah merah pekat juga seakan melambai-lambai manja, kelihatannya juga enak.
Meski demikian, kami akhirnya tetap berpegang teguh pada rencana awal, pilihan anak-anak.
Anak menantu saya sepakat menjatuhkan pilihan pada dua primadona utama. Pelayan bergerak mencatat pesanan itu. Tak butuh waktu lama, pesanan kami mendarat mulus.
Dugaan saya terbukti sangat tepat. Restoran ini memang merancang porsi hidangannya dalam ukuran ekstra besar. Mereka rupanya sangat memahami filosofi makan tengah khas budaya Asia.
Karena menyantap hidangan dalam porsi besar secara psikologis mampu merangsang hormon oksitosin untuk mempererat ikatan komunal keluarga. Mangkuk saji putih berukuran raksasa menampilkan logo Yonny dengan manis.
Ikan Suan Cai Spesial (Signature)

Menu pertama ini menatap kami dengan garang dan semarak. Tumpukan cabai merah kering menutupi hampir seluruh permukaan kuah kaldu keemasannya. Cabai kering Tiongkok umumnya melalui proses penyangraian lambat di atas wajan. Proses ini sukses melepaskan minyak asiri yang menjadi pelengkap aroma.
Asap tipis mengepul genit membawa aroma pedas gurih. Air liur saya spontan terproduksi merespon aroma tersebut. Saya menyendok kuah kaldu dengan penuh antisipasi. Maklum perut dan lidah saya tidak begitu akrab dengan cabe.
Ajaib hasilnya, tidak begitu terasa sensasi pedasnya. Malah rasa asam dan gurih berpadu dengan harmonis. Kelembutan daging fillet ikan kerapu yang dipilih anak kami, sukses menari lumer di setiap suapan di mulut saya.
Ikan Suan Cai Tradisional
Sebagai peredam, kami menyantap menu klasik ini sebagai penyeimbang rasa. Porsinya sungguh royal memanjakan mata dan lambung. Irisan fillet ikan putih tampak melimpah ruah berenang di permukaan.
Kami mengaduk kuah kekuningan tersebut secara perlahan. Kekayaan isian akhirnya menampakkan wujud aslinya dari dasar mangkuk. Sawi asam memainkan peran sebagai konduktor orkestra rasa. Kuah segar ini lantas mendapat kawan setia berupa tekstur renyah jamur kuping.
Jamur enoki tampil rimbun memeluk bumbu lainnya. Bahkan, kurma cina atau jujube memberikan sentuhan manis samar yang elegan. Riset gizi mencatat bahwa jujube sangat kaya antioksidan pelindung sel tubuh. Profil rasa hidangan ini benar-benar menyempurnakan malam kami.
Fasilitas Unik Melengkapi Makan Malam Keluarga di Resto Yonny Alam Sutera
Pihak restoran menata perlengkapan makan di meja dengan sangat apik. Kami meraih mangkuk-mangkuk kecil putih untuk menyeruput kaldu hangat. Sendok keramik tebal yang mirip paruh bebek terasa pas di genggaman.
Kami juga lincah memainkan sumpit untuk menjepit helaian jamur enoki. Sepiring kecil kulit ikan renyah turut hadir menemani. Kulit ikan ini sukses memberikan sensasi kres yang menyenangkan lidah.
Selain itu, ada satu fasilitas yang sukses membuat saya tersenyum lebar. Restoran memanjakan pengunjung dengan nasi free flow alias ambil sepuasnya!
Kita bisa menyambangi area station dengan beberapa rice cooker kecil tampak berbalut anyaman bambu yang estetik.
Penggunaan bakul bambu modern ini rupanya memiliki fungsi ganda. Anyaman bambu efektif menyerap kelembapan ekstra agar nasi tidak cepat basi, sekaligus menahan panas ruang.
Akhirnya, kami menemukan dua pilihan nasi yang keduanya patut dicoba. Nasi putih pulen biasa siap menemani lauk berbumbu kuat.
Sementara itu, nasi merah sukses mencuri perhatian utama saya. Sang koki memasak beras merah ini bersama campuran kacang tanah utuh. Kombinasi karbohidrat kompleks dan protein nabati tersebut sangat ampuh menyeimbangkan indeks glikemik. Saya sungguh menyukai profil rasa nasi merah ini. Lidah saya langsung mengecap tekstur kaya dan aroma gurih, sementara gigi saya mudah mengunyah butirannya yang lembut.
Layaknya makan bersama keluarga, kami bergantian menyendok kuah asam pedas yang menyegarkan dengan sendok masing-masing. Gak ada rasa sungkan atau merasa jijik, karena kami sudah terbiasa makan dengan cara “sedikit babar” itu.
Irisan ikan yang lumer lantas bertemu dengan suapan nasi merah hangat, sukses memanjakan perasaan saya. Perpaduan ini memicu ledakan rasa bahagia di dalam mulut.
Penutup
Akhirnya perut kami kenyang ditemani hati yang berbunga-bunga. Di usia emas ini saya semakin menyadari bahwa waktu bersama keluarga adalah harta paling berharga.
Menghabiskan waktu dengan anak dan menantu seperti ini, mestinya bukan sekadar rutinitas mengenyangkan perut. Tak masalah bagaimanapun hidangannya, momen seperti ini sukses menghangatkan relung batin saya terdalam.
Ok teman-teman. Jika kalian sepakat dengan saya jangan ragu memasukkan makan malam keluarga di resto Yonny Alam Sutera pada agenda akhir pekan ya. Atau di resto favorit kalian lainnya. Salam bahagia selalu!
Baca juga:
