Bicara soal selera, budaya makan tempe di Indonesia adalah sebuah romansa abadi yang mengalahkan pesona cinta pandangan pertama.

Bayangkan saja, hampir seluruh masyarakat kita menerima potongan fermentasi kedelai ini dengan tangan terbuka. Pesonanya sukses menyamai takhta nasi di piring makan sehari-hari. Tua, muda, kaya, atau miskin, semua takluk pada kelezatan magisnya.
Bahkan, saking cintanya, kita sering menggunakan kata “tempe” untuk meledek kawan, misalnya melalui sebutan “mental tempe”.
Padahal, riset terbaru dari Universitas Massachusetts mengonfirmasi bahwa tempe memiliki profil mikrobioma unik yang justru mampu meningkatkan kecerdasan kognitif otak. Oleh karena itu, rasanya sangat keliru jika kita terus menyamakan kebodohan dengan makanan super bergizi ini.
Jejak Sejarah Budaya Makan Tempe di Indonesia
Leluhur kita di tanah Jawa secara ajaib menemukan teknik fermentasi canggih ini sejak ratusan tahun silam.
Dan itu terlihat dalam jejak emas penciptaannya yang tertulis rapi dalam manuskrip Serat Centhini. Kejadiannya sudah sejak awal abad ke-16. Naskah kuno itu menorehkan hidangan jae santen tempe sebagai menu bangsawan untuk memanjakan lidah penghuni keraton.
Menariknya lagi, sejarawan kuliner ternama Ong Hok Ham mencatat bahwa tempe pada awalnya menyelamatkan nyawa masyarakat Jawa saat kejamnya sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) yang memiskinkan rakyat.
Kini, dari bilik bambu pedesaan yang sederhana, tempe berani terbang melintasi benua hingga mendarat cantik di piring kaum vegan Eropa.
Mengapa Kita Menjadi Produsen Terbesar?
Indonesia kemudian menjelma menjadi raksasa produsen tempe nomor satu di panggung dunia. Selain itu, negara kita juga memegang takhta mutlak sebagai pasar kedelai paling rakus di daratan Asia.
Petani dan pengrajin lokal konsisten menyulap sekitar 50% stok kedelai nasional menjadi balok-balok tempe yang menebarkan aroma wangi. Sementara itu, sisa kedelai lainnya mereka ubah menjadi tahu, tauco, dan kecap manis pengaya rasa.
Yang mengejutkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan konsumsi tempe orang Indonesia menembus angka 6,45 kilogram per kapita per tahun. Angka fantastis ini membuktikan bahwa perut masyarakat kita selalu bernyanyi bahagia saat bertemu perpaduan ragi dan kedelai.
Sisi Gelap Budaya Makan Tempe di Indonesia dan Kedelai Impor
Sayangnya, di balik untaian puisi rasa yang lezat, realitas pahit justru menampar wajah bangsa kita. Indonesia ternyata hanya mampu memanen sekitar 20 hingga 30 persen dari total dua juta ton kebutuhan kedelai tahunan.
Akibatnya, kita harus mengemis sisa kebutuhan raksasa tersebut dari Amerika Serikat dan negara lainnya. Sungguh menggelikan melihat bangsa tempe kelabakan tak berdaya saat harga kedelai dunia meroket tanpa permisi.
Berdasarkan laporan terkini dari USDA (Departemen Pertanian AS), produksi kedelai lokal Indonesia terus merosot tajam karena petani kita lebih memilih menanam komoditas jagung yang harganya lebih pasti.
Tragedi Kenaikan Harga Pasar
Belum lama ini, pengrajin tahu dan tempe nekat menggelar aksi mogok massal secara serentak. Imbasnya, para ibu berdaster menjerit histeris karena kehilangan lauk keramat penolong akhir bulan ini di pasar tradisional.
Sekalipun pemerintah sempat memberikan janji manis melalui program penanaman lahan BUMN, nyatanya kabar itu lenyap menguap bersama tiupan angin. Maka dari itu, kita tidak boleh terus-menerus menyuapi rakyat dengan solusi reaktif yang membuat dahi semakin berkerut.
Sejatinya, kita membutuhkan langkah konkret berkesinambungan agar lauk pauk andalan rakyat ini tidak berubah wujud menjadi makanan mewah sekelas kaviar.
Pesona Kedelai Lokal vs Ancaman GMO
Lantas, mengapa pemerintah tidak serius merawat dan memanjakan kedelai lokal kita yang berkualitas unggul?
Padahal mayoritas kedelai impor Amerika adalah produk rekayasa genetik (GMO) yang sanggup menahan siraman herbisida pembasmi gulma.
Jurnal bergengsi Environmental Sciences Europe pernah menyoroti tingginya bahaya residu glifosat pada tanaman GMO yang berisiko merusak keseimbangan sistem endokrin manusia.
Tentu saja, kita sama sekali tidak ingin mewariskan mutasi genetik kepada anak cucu hanya gara-gara rutin mengunyah mendoan, bukan?
Alhamdulillah, saat ini petani kebanggaan kita di NTB menanam kedelai lokal secara alami tanpa pernah melibatkan campur tangan manipulasi laboratorium Frankenstein.
Masa Depan Budaya Makan Tempe di Indonesia
Kedelai lokal memang memiliki wujud bulir yang lebih mungil, namun ia menyimpan letupan rasa legit yang menggetarkan sukma. Keistimewaannya, tempe yang lahir dari kedelai nusantara ini terbukti jauh lebih tahan lama dan tidak mudah berakhir masam.
Rahasia itu murni terletak pada kondisi bijinya yang baru saja petani panen, bukan hasil timbunan gudang raksasa selama bertahun-tahun layaknya barang impor. Oleh sebab itu, pemerintah wajib segera bangun dari tidur lelapnya dan berlari menghijaukan lahan pertiwi.
Akhir kata, mari kita kawal bersama agar budaya makan tempe di Indonesia senantiasa bersumber dari benih murni ibu pertiwi yang menyehatkan bangsa.
 @eviindrawanto2026
Baca juga:
