Banyak orang mencari cara mencegah tertipu dalam bisnis saat nasi sudah menjadi bubur. Padahal, saat kita menceburkan diri ke lautan wirausaha, ombak resiko pasti langsung menyapa. Bahkan, ada yang bertanya, apakah kami pernah mengalami penipuan bisnis? Jawabannya: pernah! Pernahkah klien mangkir membayar tagihan? Tentu saja sering! Lantas, bagaimana resep jitunya agar kita selalu mulus tanpa goresan penipuan? Kalau mau jujur dan sedikit nakal, jawabannya mudah: jangan pernah berbisnis!

Tapi tentu saja, kita pantang menyerah sebelum bertanding. Selanjutnya, mari kita sadari bahwa dunia ini memang bergelimang resiko. Mengalami gagal bayar hanyalah kerikil kecil dalam perjalanan panjang. Perusahaan kami sudah kenyang memakan asam garam ini. Berikut ini adalah dua contoh kasus ringan sekaligus taktik menghindari kerugian bisnis yang bisa kita pelajari bersama.
Mengapa Cara Mencegah Tertipu dalam Bisnis Sulit Diterapkan pada Brand Besar?
Tak pernah menyangka, sebuah merek mentereng di rak supermarket bisa meninggalkan luka. Bos-bos mereka datang berombongan ke rumah. Mereka bicara manis bak pujangga. Namun, kisah ini berakhir menjadi kenangan pahit.
Awalnya, kami mengawali kerjasama sebagai pemasok gula semut (palm sugar) pada perusahaan mereka. Seiring waktu berlalu, bapak-bapak terhormat itu justru menelan jutaan rupiah modal kami. Jumlahnya mungkin tak seberapa, tapi itu sangat banyak bagi kami. Rasa sakitnya masih menempel sampai sekarang.
Faktanya, riset hukum bisnis menyebutkan realita yang keras. Saat perusahaan besar mengalami sengketa internal atau pailit, pemasok Usaha Kecil Menengah (UKM) sering berstatus kreditur konkuren. Artinya, pemasok kecil antre paling belakang untuk mendapat pelunasan. Oleh karena itu, nama besar bukanlah tameng anti peluru yang menjamin keamanan uang kita.
Perusahaan itu entah salah urus atau dirasuki keserakahan. Sesama pemilik malah bertempur sengit di pengadilan. Sebetulnya, tak masalah mereka berantem sampai berdarah-darah. Hanya saja, perkelahian itu membuat mereka lupa pada kewajiban pelunasan. Sampai detik ini, saya tetap menyimpan faktur tagihan mereka. Walau sudah lewat lima tahun, saya meletakkan faktur itu dalam satu folder khusus. Lembaran itu menjadi monumen pengingat. Bahwa hubungan baik sering kali menguap tanpa sisa saat badai uang melanda.
Waspada Orang Terdekat, Cara Mencegah Tertipu dalam Bisnis dari Lingkaran Sendiri
Ironisnya, penipuan bisnis paling tajam justru kerap datang dari senyum orang yang kita kenal. Sekalipun kita memeluk erat prinsip kehati-hatian, mustahil seratus persen kebal dari niat buruk manusia. Sifat alami kita memang cenderung menurunkan radar waspada terhadap teman, saudara, atau kenalan lama. Logika kita sering berbisik lembut, masa sih mereka tega memangsa kita?
Padahal, teori Affinity Fraud (penipuan berbasis kedekatan) membuktikan sebaliknya. Para penipu sengaja memanfaatkan rasa saling percaya di dalam suatu komunitas. Kesempatan nakal terbuka lebar karena kita sering mengabaikan kontrak hitam di atas putih. Sebuah kenyataan pahit menunjukkan bahwa sebagian orang menutup mata pada persahabatan demi secarik kertas bernilai nominal. Mereka yang menjalankan bisnis tanpa etika tak akan segan mengunyah kenalan, pelanggan, bahkan sahabatnya sendiri.
Oleh sebab itu, cara mencegah tertipu dalam bisnis harus bermula dari ketegasan bersikap. Tak peduli itu teman atau saudara kandung sekalipun. Selama transaksi terkait dengan bisnis, peluang saling merugikan selalu menganga lebar. Berhati-hatilah dan selalu gunakan logika profesional!
Kasus Wanprestasi dan Pentingnya Cara Mencegah Tertipu dalam Bisnis
Kisah duka selanjutnya datang dari jalur pengadaan kemasan. Kasus ini murni wanprestasi alias ingkar janji. Mereka lantang mensyaratkan pembayaran lunas sebelum kurir mengirimkan barang. Awalnya, semua mengalir selancar air sungai di pegunungan. Barang yang kami terima pas sesuai tagihan. Namun belakangan, irama pengiriman mulai sumbang.
Mereka tetap menagih pembayaran penuh, padahal kiriman barang tersendat. Alasannya sungguh puitis dan beragam. Mulai dari pabrik kebanjiran hingga pasokan bahan baku yang seret. Karena kami terus mendesak, akhirnya mereka mengirim barang walau dicicil pelan-pelan. Kami masih memberikan toleransi karena mereka berjanji melunasi sisa hutang barang.
Berdasarkan praktik Vendor Risk Management, sinyal keterlambatan ini sebetulnya adalah red flag alias bendera merah yang menyala terang. Seharusnya, kita langsung menghentikan aliran dana baru.
Sayangnya, sebelum sisa barang genap, mereka sudah merengek meminta tambahan uang lagi. Dalihnya agar produksi mesin kembali lancar. Bodohnya, lagi-lagi diiyakan.
Langkah Terakhir Mencegah Penipuan Bisnis Agar Tak Menangis di Akhir
Karena sedang butuh cepat dan merasa sudah kenal lama, kami akhirnya mentransfer dana tersebut. Tapi sungguh apes, pembayaran terakhir kami lenyap bagai ditelan bumi. Mereka tak pernah mengangkat telepon. Sekalinya menjawab, suara di seberang sana malah santai meminta tambahan dana lagi. Ini sama saja menantang duel ala gladiator, bukan? Puncaknya, alamat kantor mereka pindah tanpa jejak. Fenomena ini dalam dunia bisnis modern sering mendapat julukan Ghost Vendor atau pemasok fiktif.
Begitulah dua sketsa nyata tentang cara tertipu dalam bisnis yang datang tanpa permisi. Awalnya, semua selalu terbungkus rapi dengan pita hubungan baik. Namun, berbagai masalah yang muncul selalu menempatkan satu pihak dalam jurang kerugian.
Oleh karena itu, selalu terapkan protokol keamanan bertransaksi secara disiplin. Jangan biarkan hati nurani mengalahkan logika kalkulator. Semoga Sobat Arenga yang sedang merajut asa di dunia usaha tak pernah merasakan pahitnya kejadian serupa. Tetap semangat dan selalu waspada!
@eviindrawanto
Baca juga:
