
Surga kecil di pojok Indonesia yang saya tulis ini, punya cara unik untuk menguji tekad pengunjungnya. Cerita ini bermula suatu pagi yang cukup hangat di lereng Pegunungan Halimun. Tujuan kami adalah sebuah desa yang berdiri di pinggang bukit dan lembah curam di bawahnya.
Untuk sampai ke sana, kami harus menitipkan mobil di rumah warga dekat pinggir jalan raya. Moda transportasi harus bersambung. Kami harus menumpang motor trail berantai logam pada rodanya.
Penduduk lokal sangat pandai mengakali medan lumpur. Hujan semalaman sukses merubah rute tanah berkerikil jadi arena seluncur es. Menatap lintasan basah itu, nyali saya ciut. Membayangkan risiko naik ojek trail di jalan licin sukses bikin dengkul lemas duluan.
Tapi alih-alih pasrah bertarung dengan gaya gravitasi, saya memilih melangkah pelan. Kami berjalan kaki meresapi tiap jengkal tanah, membiarkan harmoni alam dan manisnya nira segar menyapa jiwa. Inilah ringkasan slow travel kami, merengkuh lelah demi memeluk kedamaian utuh.
Surga Kecil di Pojok Indonesia di Gerbang Pegunungan Halimun
Matahari pagi belum utuh mengusir kabut saat ojok motor trail kami terhenti di bibir lembah. Tanah andisol khas pegunungan vulkanik di kawasan ini memang sangat subur. Namun, saat hujan turun, material tanah liat ini menyerap air dan berubah menjadi lapisan lumpur yang amat licin. Wajar saja warga lokal memodifikasi ban motor mereka dengan lilitan logam. Inovasi sederhana ini menambah traksi atau gaya gesek ban saat melawan medan berat.
Tapi tetap saja, menatap lintasan yang menghubungkan desa terpencil itu dengan peradaban luar cukup menyiutkan hati. Bebatuan menonjol di sana-sini tampak basah dan angkuh. Cuaca pasca-hujan memang sempurna menggalaukan hati kami berdua.
Seolah alam sengaja memasang barikade pelindung berlumpur bagi surga kecil di pojok indonesia yang menanti kami di balik gunung sana.
Drama Menolak Naik Ojek Trail di Jalan Licin
Kalau jaraknya cuma satu atau dua kilometer, saya pasti langsung tancap gas, meneruskan menyeberang dengan berpegangan erat pada bahu driver. Masalahnya, sisa jarak masih menyentuh angka 10 kilometer! Dalam kamus pedesaan, kalkulasi “sekitar” itu sangat elastis dan bisa meregang sampai 15 kilometer.
Dan saya melirik pada satu-satunya sarana transportasi cuma ojek motor garang ini. Diteruskan naik ke sadel boncengan atau sisanya saya teruskan saja dengan berjalan kaki?
Pikiran liar saya mulai berlarian. Membayangkan naik ojek trail di jalan licin memicu insting bertahan hidup saya bekerja keras. Bagaimana kalau ban motor mendadak selip? Opsi pendaratannya sungguh tak estetik. Meluncur ke jurang di sisi jalan, atau mendapat oleh-oleh patah tulang.
Iya lah, otak saya memang sering overthinking saat menghadapi ketidakpastian fisika di jalanan basah seperti ini. Akhirnya, saya mengambil keputusan final. Saya lebih memilih menguji ketahanan dengkul lansia ini dengan berjalan kaki. Biarlah lambat, asal kami tiba dengan utuh.
Menikmati Rute Trekking yang Menguji Kesabaran

Meski napas mulai ngos-ngosan, saya khidmat mengikuti kontur jalan. Jalurnya membalut pinggang gunung bagai pita pita alam yang panjang. Mendaki, menurun, menikung tajam, lalu mendaki lagi. Driver ojol yang kami sewa tadi tetap mengikuti dari belakang.
Maksudnya jika ada rute yang kelihatan lebih aman, saya akan naik lagi ke sadel di belakangnya. Dan ternyata ada beberapa potong jalan yang tidak begitu mengerikan. Lalu saya dan suami kembali naik ke ojek masing-masing.
Kelelahan menguap ketika kami tiba di sebuah jembatan gantung. Air sungai jernih menabrak bebatuan secara konstan. Secara ilmiah, suara gemericik air (white noise) ini terbukti ampuh menurunkan kadar hormon kortisol pemicu stres saya tadi. Saya sampai minta ijin untuk berhenti sejenak di sana menikmati suasana.
Desiran bahagia seketika memenuhi dada. Keindahan murni ini memantik sisi egois saya. Saya sungguh berharap cakar kapitalisme gagal merambah tempat ini.
Karena ingatan saya sekilas melayang ke Sungai Batang Agam di kampung halaman. Dulu sungai itu jernih seperti sungai di depan saya saat itu. Kini fungsinya mati akibat cemaran industri. Saya berdoa pokok-pokok pohon aren di kiri-kanan sungai Halimun ini terus lestari. Biarkan burung-burung tetap bernyanyi bebas untuk generasi masa depan kampung ini.
Nira Segar Teman Perjalanan di Surga Kecil di Pojok Indonesia

Di pertengahan jalan, kami berpapasan dengan seorang bapak ramah. Bahunya memikul dua tabung lodong bambu penampung panen. Tentu saya tak menolak tawarannya ketika ia menawarkan sebagai minuman segar. Ia menyajikan minuman isotonik alami super segar: nira aren!
Karena tak membawa gelas, pemandu kami beraksi lincah. Ia membacok dua lembar daun keladi dari pinggir jalan. Daun itu ia gulung mengerucut, menyulapnya jadi gelas darurat yang ramah lingkungan.
Secara botani, daun talas memiliki struktur nano bernama efek lotus (lotus effect). Sifat superhidrofobik ini menolak air sepenuhnya. Air nira bening tampak berguling-guling cantik di permukaannya. Dari sinilah pepatah lawas “seperti air di daun keladi” lahir.
Sensasi nira yang baru turun dari pohon terasa jauh lebih nikmat karena proses fermentasinya belum terjadi. Cairan manis ini langsung mengisi ulang energi saya di tengah pesona surga kecil di pojok indonesia ini.
Tapi tentu saja kami tahu diri. Nira itu akan dibuat gula aren, sumber pendapatan si bapak hari itu. Jika kami minum, selayaknya lah diganti dengan rupiah, agar tidak merugikannya. Walau pun bapak itu enggan menerima, tapi kami memaksa. Merasa gak lucu harus merugikan orang lain sementara kami dapat tambahan energi baru.
Baca juga:
Rebahan Paripurna dan Terapi Alam Asri
Desa tujuan kami ternyata lumayan bernyawa. Kami sempat berpapasan dengan petani yang memanggul bulir padi bernas di bahunya. Ia baru pulang dari sawah di pagi buta.
Pemandangan yang mencerminkan ritme sirkadian pedesaan yang sehat, yang menyatu dengan alam sejak fajar menyingsing. Setelah dikeringkan nanti, bulir padi itu siap ia simpan ke dalam lumbung leuit.
Dua jam berlalu, kami akhirnya menginjakkan kaki di desa tujuan. Napas saya tinggal satu-satu. Saya menolak keras memikirkan rute pulang nanti. Saya langsung merebahkan tubuh lelah ini ke atas dipan bambu berderit pelan.
Sepertinya Inilah esensi mindfulness dalam slow travel yang sering saya sebut dalam artikel blog ini. Saya mengaktifkan seluruh indera untuk hadir seutuhnya pada momen itu. Menikmati usapan lembut angin dingin pegunungan. Menajamkan telinga meresapi harmoni serangga dan gemerisik daun. Semua kepenatan otot lunas terbayar oleh ketenangan absolut di surga tersembunyi ini.
