Bertemu dan berpisah bukan cuma monopoli drama Korea atau lagu galau, Sobat JEI. Dalam dunia usaha, fase ini sangat nyata. Bisnis itu persis seperti menjalin asmara. Ada masa kita bertemu dengan ide brilian yang bikin kasmaran. Namun, ada kalanya kita harus ikhlas berpisah saat realita tak seindah ekspektasi.
Sebagai contoh, perhatikan pengalaman kami dulu saat nekat mencoba peruntungan membuat Sirup Jeruk Kalamansi. Waktu itu, optimisme kami setinggi langit. Selain rasanya enak, aromanya juga harum nan segar. Apalagi, pemain serupa nyaris belum ada di pasar. Di sanalah, kami sempat berpikir, pintu rezeki akan terbuka lebar.
Lika-Liku Memulai Bisnis Baru dan Drama Merek
Pada awalnya, kami dengan penuh cinta menamai sirup ini “Diva’s”. Nama ini mengikuti bendera perusahaan kami, Diva Maju Bersama. Sayangnya, lika-liku memulai bisnis baru langsung menyapa di gerbang pertama. Saat kami mendaftarkan merek tersebut ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Kemenkumham menolaknya mentah-mentah. Alasannya? Ternyata nama tersebut sudah menjadi milik orang lain.
Faktanya, hal ini sangat lumrah terjadi. Menurut data DJKI, ribuan pengusaha UMKM setiap tahunnya juga mengalami penolakan merek karena kurangnya riset pangkalan data sebelum mendaftar.
Ya sudahlah. Tanpa banyak cincong, kami mengganti mereknya menjadi Arenga. Bagi kami saat itu, hal terpenting adalah mengalirkan omset terlebih dahulu. Urusan membesarkan brand bisa kami susulkan sambil jalan. Sayangnya, rencana tak semulus jalan tol.
Bertemu dan Berpisah dengan Harapan Manis
Meskipun sudah ganti nama, omset tak kunjung meroket. Mungkin, tingkat keasaman jeruk kalamansi terlalu ‘nendang’ untuk lidah orang Indonesia kebanyakan. Padahal, jeruk dengan tingkat pH sekitar 2.4 ini sangat populer di negara asalnya, Filipina. Bahkan, masyarakat di sana biasa meminumnya sehari-hari sebagai jus sarapan penambah imun.
Nyatanya, langkah Sirup Kalamansi kami justru terseok-seok di Tanah Air. Masalahnya bukan cuma di ranah pemasaran, tetapi juga merambat ke dapur produksi. Saya masih ingat betul momen menyedihkan itu. Suatu hari, pelanggan memulangkan berdus-dus sirup yang sudah lunas mereka bayar.
Alasannya sungguh sederhana tapi mematikan: warna sirup berubah.
Tantangan Idealisme Tanpa Pengawet Kimia
Rupanya, cairan sirup alami memang rentan mengalami oksidasi dan perubahan pigmen warna seiring berjalannya waktu. Apalagi, kami bersikukuh tidak memakai bahan pengawet kimia sintetis. Tekad mulia kami untuk memproduksi makanan sehat langsung menabrak tembok realita.
Selain itu, kami enggan menyuntikkan pemanis buatan, meskipun saat itu harga gula pasir murni sedang melambung gila-gilaan. Alhasil, ongkos produksi terbang ke awan. Sementara itu, kami tidak mungkin menaikkan harga jual produk. Logikanya, dengan harga murah saja produk ini susah laku.
Bagaimana pula ceritanya jika kami nekat menaikkan harga? Sungguh sebuah dilema yang membuat kepala pusing tujuh keliling.
Lika-Liku Memulai Bisnis Baru, Masalah Kemasan yang Menggemaskan
Ujian belum selesai, Sobat JEI. Urusan kemasan pun ikut menyumbang drama dalam lika-liku memulai bisnis baru kami. Pada mulanya, kami mengemas sirup kalamansi ke dalam botol plastik jenis PET. Sayangnya, konsumen sering salah sangka. Mereka mengira botol berisi sirup segar itu adalah botol minyak goreng!
Oleh karena itu, kami memutuskan untuk beralih ke botol kaca yang lebih elegan. Di sinilah persoalan baru kembali muncul menampakkan diri. Mencari kemasan botol kaca yang cantik ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Kalaupun barangnya ada, kami harus memesannya langsung ke pabrik besar.
Syaratnya? Kami harus memenuhi batas Minimum Order Quantity (MOQ) yang sangat tinggi. Tahu sendiri kan derita pengusaha mikro? Demi memenuhi batas minimal pesanan pabrik besar, kami harus menguras maksimal budget yang ada.
Rela Bertemu dan Berpisah demi Belajar
Setelah berbulan-bulan berdarah-darah mempertahankan napas usaha, akhirnya kami mengibarkan bendera putih. Kami menyerah. Lagipula, statistik bisnis global memang mencatat bahwa sekitar 20% bisnis rintisan akan gagal di tahun pertama. Angka ini menyadarkan kami bahwa kegagalan adalah hal yang normal.
Di dunia ini, sungguh tak ada yang abadi. Kita pasti bertemu dan berpisah. Ada saat kita datang membawa harapan, ada pula saat kita pergi meninggalkan penyesalan. Dengan hati yang menangis diam-diam, kami menutup lembaran usaha sirup kalamansi ini. Memang benar, modal uang yang kami keluarkan lenyap tak kembali. Namun, modal pengalaman yang kami dapatkan bernilai jauh lebih mahal.
Pada akhirnya, lika-liku memulai bisnis baru selalu sepaket dengan kegagalan dan kebangkitan. Bertemu dan berpisah adalah dua sisi koin yang membentuk mental baja seorang wirausaha. Apakah Sobat JEI setuju bahwa melepaskan sesuatu adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup? Mari kita nikmati saja setiap prosesnya. Sebab, di setiap perpisahan, pasti ada peluang baru yang sedang menanti kita.
@eviindrawanto
Baca juga:

