Manfaat berjejaring sesama pengusaha wanita, yang saya rasakan lebih dari sekadar bertukar kartu nama. Sobat JEI, bayangkan sebuah ruang di mana tawa, ide, dan semangat berpadu menjadi satu harmoni yang indah. Di acara Milad 2 TDA (Tangan Di Atas), saya menemukan esensi nyata dari komunitas yang saling mendukung.

Saya tergelitik menulis tentang secuil kisah manis hari itu. Mulai dari drama menembus macet Jakarta, asyiknya reuni dadakan, hingga bukti bahwa dunia maya justru merajut keakraban nyata. Siapa suatu saat saya butuhkan untuk kembali memompa semangat saat saya butuhkan. Mari selami keseruannya!
Menjemput Manfaat Berjejaring Sesama Pengusaha Wanita di Tengah Macet
Tentu saja, kalau di Jakarta cerita seru sering kali bermula dari drama macet di jalanan. Kami sengaja berangkat agak lambat. Niat hati ingin menghindari penutupan jalan Thamrin. Namun, ibukota rupanya sedang ingin bercanda pagi itu. Hingga jam sepuluh, jalanan tersebut masih tertutup rapat.
Terpaksalah kendaraan kami memutari bundaran air mancur sampai dua kali. Bagaikan gasing yang mencari arah Tanah Abang, kami akhirnya tiba di gedung Bank Mandiri tempat acara berlangsung.
Tentang ini, penelitian dari Journal of Applied Psychology menyebutkan hal menarik. Sedikit rintangan fisik sebelum menghadiri acara sosial justru meningkatkan antisipasi psikologis. Otak melepaskan dopamin lebih banyak saat kita akhirnya mencapai tujuan.
Eh benar juga, rasa lelah mendadak menguap begitu saya memasuki tempat acara. Kehebohan Milad 2 TDA menyambut kami. Bagi saya, kesimpulannya sangat sederhana: sudah lama tahu bahwa komunitas TDA ini memang funtastic!
Hangatnya Komunitas yang Saling Mendukung di Sudut Bangku
Langkah keberuntungan membawa saya mendapat kursi strategis. Saya duduk berdampingan dengan Ibu Umining. Beliau adalah pengusaha busana muslim khusus Barbie yang sangat inspiratif. Sebelumnya, kami pernah bersua di gedung Kementerian Koperasi. Sambil berbisik pelan, momen ini seketika berubah menjadi ajang reuni. Gosip bisnis pun mengalir ringan bak lirik lagu.
Riset dari Harvard Business Review mengonfirmasi kekuatan obrolan seperti yang kami lakukan ini. Percakapan informal antar pengusaha terbukti ampuh membangun rasa saling percaya. Hal ini menjadi fondasi paling kokoh untuk kolaborasi jangka panjang.
Begitu pun komunitas yang saling mendukung selalu lahir dari obrolan tulus seperti ini.
Tak jauh dari sana, duduklah Mbak Dayu Puspa. Aura taksu Bali sepertinya sedang memeluknya erat. Gek Dayu tampak begitu terhipnotis menyimak rentetan acara. Beberapa kali saya melambaikan tangan, namun hanya angin yang membalas. Jarak bangku kami memang lumayan jauh.
Barulah saat jeda makan siang, kami bisa melepas rindu. Saya sempat curhat ingin membeli rumah di Bali saat pensiun nanti. Sambil tersenyum manis, beliau mengamini doa tersebut.
Ruang Nyata Menggali Manfaat Berjejaring Sesama Pengusaha Wanita
Ribuan orang memadati ruangan. Sebagian besar wajahnya masih tampak asing bagi saya. Hal ini sangat wajar karena Milad 2 TDA adalah ajang kopi darat perdana saya di komunitas pengusaha ini.
Namun, hobi sebagai blogger dan blog walking membawa berkah tersendiri. Saya langsung mengenali beberapa wajah. Saya melambai datang menghampiri, memberi salam layaknya kawan lama.
Jadwal acara hari itu sangat padat. Isinya “daging” semua alias penuh ilmu berharga. Sayang sekali jika saya melewatkannya. Alhasil, saya hanya sempat menyapa sebagian teman di sela acara. Untungnya, panggilan alam ke toilet cukup sering melanda para peserta wanita. Antrean ini berubah menjadi lobi dadakan yang asyik.
Di sinilah saya bertemu Mbak Doris Nasution. Astaga, posturnya tinggi besar dan ia masih sangat muda. Saya juga bersua dengan Eka. Kami memiliki kesamaan sejarah sebagai pemasok Carrefour Bali.
Bahkan, kami berdua pernah menjadi calon potensial untuk jejaring Carrefour Paris. Hadir pula Ibu Asmita dan Mbak Ollie dari kutukutubuku.com.
Dalam studi manajemen, interaksi tak terencana ini disebut Watercooler Effect. Ruang santai justru sering kali melahirkan manfaat berjejaring sesama pengusaha wanita yang paling organik.
Baca juga:
Energi Tak Terbatas Tokoh Komunitas yang Saling Mendukung
Membicarakan Ibu Aning Harmanto? No comment! Saking bingungnya saya merangkai kata untuk perempuan luar biasa ini. Beliau adalah representasi sejati manusia yang berhasil memimpin dirinya sendiri. Jangan harap teman-teman bisa melihatnya duduk manis terlalu lama. Di acara networks dia meloncat kesana-kemari, lengkap dengan tawanya yang khas.
Beliau bergerak lincah layaknya baterai energizer. Energinya seolah tak pernah susut dimakan waktu. Dengan sangat luwes, ia mengatur ritme tampil di panggung lalu kembali menjadi penonton.
Studi Energy Contagion dalam kepemimpinan membuktikan fenomena ini. Antusiasme seorang tokoh akan menular langsung menjadi bahan bakar semangat anggota komunitasnya.
Hebatnya, saat manggung ia tak terlihat lelah sama sekali. Namun, semesta mengizinkan saya melihat sisi manusiawinya. Saya cukup beruntung memergokinya sedang duduk terkantuk-kantuk di barisan bangku paling belakang, hehehe.
Tokoh lain yang tak kalah memukau adalah Mbak Dyah Purana. Ia rela terbang jauh dari Surabaya. Alamak, ibu satu ini tampak jauh lebih awet muda. Saat kami bersalaman, sapanya hangat menyentuh sanubari. Rasanya kami sudah bersahabat puluhan tahun dalam komunitas yang saling mendukung ini.
Keajaiban Internet Meluaskan Manfaat Berjejaring Sesama Pengusaha Wanita
Hari itu membuka mata batin saya lebih lebar. Jaringan internet rupanya sangat ampuh sebagai jembatan sosial. Teknologi ini terbukti sukses mendorong orang menjadi lebih dekat secara personal. Sungguh gegabah jika ada yang menuduh pergaulan dunia maya memicu alienasi atau keterasingan.
Milad 2 TDA mematahkan mitos tersebut dengan telak. Riset dari Pew Research Center menegaskan temuan ini. Koneksi awal dari ruang digital sering kali menghasilkan ikatan tatap muka yang jauh lebih solid. Internet meruntuhkan tembok jarak dan waktu.
Fasilitas digital memberi ruang tanpa batas untuk mengoptimalkan manfaat berjejaring sesama pengusaha wanita. Kita bisa membangun lingkaran pertemanan yang positif kapan saja. Sayang sekali, kamera andalan saya tertinggal manis di rumah. Beruntung, jepretan kamera ponsel masih bisa menyelamatkan kenangan indah hari itu, walau ala kadarnya.
