🔑 Key Takeaways: Sisi Gelap & Terang Lawang Sewu
- Dua Wajah Lawang Sewu: Di balik arsitektur Eropa yang megah dan instagramable, Lawang Sewu menyimpan sejarah kelam di ruang bawah tanahnya, menjadi kontras antara keindahan seni dan kekejaman perang.
- Sejarah Kelam Penjara Jongkok: Ruang bawah tanah yang awalnya dirancang Belanda sebagai sistem pendingin air, diubah oleh Jepang (1942) menjadi penjara sadis. Tawanan dipaksa jongkok di dalam bak berair yang sempit dan tertutup rapat.
- Horor Penjara Berdiri: Selain penjara jongkok, terdapat “Penjara Berdiri” (kotak tembok sempit) di mana tahanan dipaksa berdiri berdesakan hingga meninggal karena kelelahan atau kehabisan oksigen.
- Refleksi Kemanusiaan: Artikel ini mengajak teman-teman untuk tidak sekadar memburu konten misteri atau hantu, melainkan melihat tempat ini sebagai monumen duka dan mendoakan para korban agar tenang di sisi-Nya.
- Info Wisata Terbaru (2026): Lawang Sewu kini lebih tertata sebagai museum modern. Ruang bawah tanah sudah bisa diakses kembali (kondisional), dengan tiket masuk terjangkau (sekitar Rp 20.000) dan akses mudah dari Tugu Muda Semarang.
Travel Blog Indonesia – Teman-teman, ada satu wajah Lawang Sewu yang begitu mempesona. Berdiri megah di hadapan Tugu Muda, Semarang, ia bak seorang perempuan bangsawan Eropa yang tersesat di tengah hiruk-pikuk budaya pop modern. Anggun, tua, namun tetap outstanding sendirian.
Namun, wajah cantiknya menyimpan sebuah rahasia kelam. Jika teman-teman menyorotkan pandangan ke bawahโjauh ke dasar perut gedung iniโkalian tidak akan menemukan keindahan arsitektur art deco, melainkan sebuah monumen kesedihan.
Di sanalah terletak “Penjara Jongkok”. Sebuah nama yang bukan sekadar kiasan, melainkan deskripsi harfiah dari penderitaan manusia yang pernah terjadi di sana.
Dari Kantor Megah Menjadi Neraka Bawah Tanah
Dalam lorong waktu, Lawang Sewu telah melewati banyak babak kehidupan. Dibangun pada 1904 sebagai kantor pusat Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), gedung ini awalnya adalah simbol kemajuan transportasi kereta api.
Konon, nama “Lawang Sewu” (Seribu Pintu) berasal dari banyaknya jumlah pintu dan jendelaโmeski hitungan matematisnya “hanya” 928, angka itu sudah cukup untuk membuat orang Jawa masa lalu membulatkannya menjadi seribu.
Namun, ketika Jepang mengambil alih kekuasaan pada tahun 1942, fungsi gedung ini berubah drastis. Ruang bawah tanah yang tadinya berfungsi sebagai sistem pendingin air (agar gedung tetap sejuk), disulap menjadi penjara paling kejam. Lantai yang dingin itu seketika basah oleh air mata dan darah.
Mengerikannya Penjara Jongkok dan Penjara Berdiri
Saat saya berkesempatan turun ke ruang bawah tanah iniโyang kini telah dibuka kembali untuk umum sejak Desember 2024โperut saya rasanya mulai “menari-nari”. Bukan hanya karena sergapan bau lembab yang khas dari gedung tua, tapi rasa mual itu datang dari imajinasi liar tentang apa yang pernah terjadi di sini.
Apa itu Penjara Jongkok?
Bayangkan sebuah bak tembok sempit, ukurannya mungkin hanya sekitar 1×1 meter. Di masa pendudukan Jepang, bak sekecil itu dipaksa memuat 5 hingga 6 orang tawanan. Atapnya rendah, ditutup tralis besi.
Air seringkali dibiarkan menggenang di dalamnya. Para tawanan tidak bisa berdiri, tidak bisa duduk, dan tidak bisa berbaring. Pilihan mereka hanya satu: Jongkok. Berdesakan dalam air kotor, menunggu waktu yang terasa berhenti, seolah-olah mereka telah menandatangani kontrak mati.
Penjara Berdiri: Kotak Sarden Manusia
Tak jauh dari situ, ada horor lain bernama “Penjara Berdiri”. Ini adalah bilik-bilik tembok super sempit di kiri-kanan lorong. Tawanan dimasukkan ke sana, disusun tegak rapat seperti ikan sarden dalam kaleng, lalu pintu dikunci. Mereka dibiarkan berdiri berhari-hari hingga mati lemas karena kehabisan oksigen atau kelelahan.
Jika ada yang belum mati namun ruang dibutuhkan untuk tawanan baru, ujung lorong menjadi saksi akhir hidup mereka. Sebuah ruang eksekusi menanti, di mana tubuh-tubuh tak bernyawa konon dibuang ke sungai di sebelah gedung.
Saya bukanlah petualang yang cukup bernyali untuk menatap ruang eksekusi itu, meski jaraknya hanya beberapa meter. Kaki ini memilih mundur.
Refleksi: Bukan Sekadar Hantu
Banyak orang datang ke sini demi konten horor, memburu penampakan, atau menguji nyali. Tapi bagi saya, Lawang Sewu adalah pengingat betapa gelapnya jiwa manusia bisa berubah saat dikuasai ambisi perang.
Saat meninggalkan lorong lembab itu, saya hanya bisa berdoa dalam hati. Jika benar ada energi atau roh yang tertinggal di sana, semoga Tuhan membukakan pintu surga untuk mereka. Janganlah kita menambah penderitaan mereka dengan melabeli mereka sebagai “hantu gentayangan” demi sebuah cerita misteri.
Mari kita kirimkan doa, semoga mereka menemukan kedamaian abadi. Amin.
Panduan Wisata Terbaru ke Lawang Sewu (Update 2026)
Bagi teman-teman yang ingin merasakan langsung atmosfer sejarah ini, Lawang Sewu kini tampil jauh lebih rapi, bersih, dan tertata sebagai museum modern. Berikut informasi terbarunya agar teman-teman tidak bingung.
1. Jam Buka & Tiket Masuk
Lawang Sewu buka setiap hari.
- Senin: 08.00 โ 17.00 WIB
- Selasa โ Minggu: 08.00 โ 20.00 WIB (Sabtu sering buka hingga 22.00 WIB)
Harga Tiket Masuk (Estimasi 2025/2026):
- Dewasa/Umum: Rp 20.000
- Anak-anak/Pelajar: Rp 10.000
- Wisatawan Asing: Rp 30.000
- Area Immersive (Wahana Baru): Tambahan sekitar Rp 15.000
> Catatan: Ruang bawah tanah (Basement) sempat ditutup lama untuk renovasi, namun sejak akhir 2024 sudah dibuka kembali. Pastikan bertanya pada petugas di loket apakah area tersebut aman dikunjungi saat teman-teman datang (kadang ditutup jika curah hujan tinggi/banjir).
2. Cara Menuju ke Lawang Sewu
Lokasinya sangat strategis di Tugu Muda, jantung Kota Semarang.
- Dari Stasiun Semarang Tawang (Bank Jateng): Jaraknya sekitar 3-4 km. Teman-teman bisa naik Taksi Online (Gojek/Grab) dengan tarif sekitar Rp 15.000 – Rp 25.000 (tergantung jam sibuk). Waktu tempuh hanya sekitar 15 menit.
- Dari Stasiun Semarang Poncol: Lebih dekat lagi! Cukup naik ojek online sebentar, atau naik Bus Trans Semarang yang melewati Tugu Muda.
- Dari Bandara Ahmad Yani: Gunakan layanan taksi bandara atau berjalan sedikit ke luar area bandara untuk memesan taksi online menuju Tugu Muda.
Selamat menjelajah sejarah, teman-teman. Jangan lupa jaga sikap dan kebersihan ya!
Salam, Evi
Foto Penjara Jongkok di Lawang Sewu
Baca juga:




