Sobat JEI, ironi dari pameran pekan lingkungan hidup (PLHI) tahun 2012 ini terasa seperti menonton film romantis yang berakhir dengan adegan horor. Peristiwanya berlangsung di tempat parkir Jakarta Convention Center (JCC).

Padahal, barusa saja saya mendengar pidato penutup pameran dari Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar untuk memicu semangat tentang ekonomi hijau.
Namun, ironisnya saya melihat kenyataan pahit tepat saat melangkah keluar gedung gedung JCC sore tadi. Saya melihat sampah berserakan di mana-mana, seolah-olah pesan “Ubah Perilaku” menguap begitu saja tertiup angin Senayan.
Membedah Ironi dari Pameran Pekan Lingkungan Hidup (PLHI) 2012
Penyelenggaraan acara ini mengusung tema besar “Ekonomi Hijau: Ubah Perilaku, Tingkatkan Kualitas Lingkungan”. Tentu saja terdengar sangat puitis di telinga, bukan?
Secara teoretis, ekonomi hijau bertujuan meningkatkan kesejahteraan manusia sekaligus mengurangi risiko lingkungan secara signifikan. Namun, apa yang saya saksikan di lapangan justru menunjukkan fenomena Value-Action Gap. Fenomena ini merupakan jurang pemisah antara apa yang orang katakan (peduli lingkungan) dengan apa yang sebenarnya mereka lakukan (membuang sampah sembarangan).
Selain itu, menteri menjanjikan konsep zero waste yang sangat ambisius untuk skala pameran sebesar ini. Konsep zero waste seharusnya memastikan tidak ada sisa konsumsi yang berakhir di TPA, melainkan dikelola kembali sejak dari sumbernya.
Ternyata, tumpukan sampah di area parkir menjadi bukti bahwa sistem manajemen limbah di lokasi tidak berjalan seirama dengan pidato di podium. Oleh karena itu, momen ini menjadi ironi dari pameran pekan lingkungan hidup (PLHI) yang sangat nyata dan menyesakkan dada.
Zero Waste atau Zero Action?
Acara ini melibatkan 192 peserta, mulai dari pihak swasta hingga kementerian dan LSM internasional. Meskipun partisipasinya luar biasa, koordinasi di level akar rumput tampaknya mengalami kebocoran yang cukup parah.
Secara teknis, pameran besar seperti ini memproduksi jejak karbon dan limbah padat yang masif tanpa penerapan sistem drop point yang ketat. Sayangnya, kita justru menyaksikan pemandangan yang menabrak semangat ramah lingkungan milik para peserta pameran di dalam gedung
Padahal, riset menunjukkan bahwa perilaku publik sering kali meniru efektivitas infrastruktur yang tersedia di sekitarnya. Jika tempat sampah penuh atau sulit ditemukan, kecenderungan orang untuk abai menjadi lebih tinggi, bahkan di acara lingkungan sekalipun.
Maka dari itu, kegagalan menjaga kebersihan di area parkir mencoreng kampanye “Ubah Perilaku” yang menjadi jualan utama pemerintah. Singkatnya, kita masih terjebak pada seremoni tanpa eksekusi yang konsisten di lapangan.
Mengapa Ironi dari Pameran Pekan Lingkungan Hidup (PLHI) Ini Terjadi?
Saya yakin Pak Menteri akan sangat kecewa jika melihat pemandangan di luar gedung yang sangat berantakan tersebut. Mungkin pihak Event Organizer (EO) perlu mendapatkan teguran keras karena gagal mengawal konsep zero waste hingga ke pintu keluar.
Dalam psikologi lingkungan, sebuah acara seharusnya menciptakan ekosistem yang memaksa orang untuk patuh, bukan sekadar memberikan imbauan moral. Namun, tanpa pengawasan ketat setelah acara resmi ditutup, perilaku lama masyarakat kembali muncul ke permukaan secara otomatis.
Meskipun acara ini menampilkan eco-creative hingga green music festival, esensi utamanya justru ternoda oleh hal-hal sepele seperti plastik dan bungkus makanan. Padahal, integritas sebuah gerakan lingkungan terletak pada detail terkecil, bukan pada kemegahan panggungnya.
Oleh karena itu, semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga agar pameran berikutnya benar-benar bersih dari ironi dari pameran pekan lingkungan hidup (PLHI).
Baca juga:
