Menggali kenangan ikut keramain kartini cilik rasanya seperti membuka kembali kotak waktu magis yang menyimpan berjuta tawa.

Terus terang, kadang terbersit sedikit rasa iri di hati. Khususnya, saat saya melihat rekan-rekan narablog memamerkan foto anak mereka mengenakan pakaian adat Nusantara. Tentu saja, masa-masa heboh perayaan pahlawan emansipasi itu sudah lama berlalu di rumah ini.
Kini, setiap menjelang tanggal 21 April, saya hanya bisa mengusap air mata rindu. Dulu, setiap awal bulan April tiba, saya pasti sudah repot luar biasa. Saya segera menghubungi salon atau perias pengantin di sekitar Serpong.
Nah, ilmu psikologi menyebut kerinduan semacam ini sebagai “nostalgia restoratif”. Perasaan ini ampuh memicu dopamin dan membuat kita merasa lebih terhubung dengan masa lalu.
Oleh karena itu, mengenang kerempongan mencari baju adat selalu terasa hangat. Apalagi, mencari sewaan baju dadakan di kawasan Serpong selalu berakhir nihil. Akibatnya, saya selalu memesan dan membayar sewa baju untuk Valdi atau Adit jauh-jauh hari. Tujuannya agar baju incaran tersebut tidak jatuh ke tangan orang lain.
Membongkar Album Fotografi di Hardisk Tua
Namun, masa iya kita harus meratapi putaran waktu yang bergerak maju? Bukankah tujuan hakiki seorang ibu memang membesarkan anak-anaknya dengan segenap daya upaya? Terlebih lagi, saya masih memiliki simpanan foto-foto masa kecil mereka.
Oleh karena itu, saya buru-buru membongkar tumpukan fail foto di komputer. Sayangnya, sebuah kenyataan menggelitik justru menyapa saya. Ternyata, dulu saya cuma sibuk berburu baju adat impian. Alhasil, saya lupa membekukan kenangan indah itu ke dalam jepretan foto yang mumpuni.
Sebenarnya sih, fenomena ini sangat lumrah menjangkiti para orang tua. Kajian perilaku modern sering menyebutnya sebagai ilusi dokumentasi. Kita terlalu sibuk mengatur pernak-pernik acara. Padahal, kita malah kehilangan kesempatan merekam emosi murni sang anak.
Hasilnya, foto yang tersimpan pun hanya seadanya saja. Duh, terkadang saya merenung dan tertawa sendiri. Entah apa saja yang saya lakukan pada masa itu. Sobat JEI pasti pernah mengalami kepanikan serupa, bukan?
Gaya Valdi dan Keris Pestolnya
Foto paling berkesan muncul ketika Valdi masih duduk di bangku kelas 3 SD. Saat itu, dia tampak sangat bahagia mengenakan beskap pengantin Jawa. Pakaian adat itu memang sedikit kedodoran di badannya. Maklum saja, pakaian tersebut dirancang untuk laki-laki dewasa.
Lucunya, dia memegang keris dengan gaya yang sangat nyeleneh. Dia sama sekali tidak mau menyelipkan keris itu di pinggang. Sebaliknya, dia menggenggam keris tersebut layaknya sebuah pistol koboi.
Menurut ahli psikologi perkembangan anak, tingkah ini merupakan wujud asimilasi bermain. Anak-anak memang mahir menggabungkan benda tradisional dengan imajinasi permainan modern favorit mereka. Meskipun menggemaskan, sebuah pikiran horor tiba-tiba melesat di kepala saya. Bagaimana jadinya kalau dia asyik bercanda bersama teman-temannya?
Lalu, dia mengayun-ayunkan keris itu tanpa rasa bersalah? Walaupun ujungnya tumpul, benda itu tetaplah keris sungguhan yang berat. Akhirnya, saya cepat-cepat mengamankan keris tersebut. Saya hanya menyerahkannya kembali semata-mata untuk properti foto ini sejenak.
Akhir Cerita Kenangan Ikut Keramain Kartini Cilik: Tragedi Bentol
Pagi harinya, Valdi berangkat dengan senyum merekah. Dia tampil sangat gagah dengan paduan blangkon, beskap, dan kain batik panjang. Akan tetapi, pesona pangeran Jawa itu menguap dalam hitungan jam.
Saat saya menjemputnya tiga jam kemudian, pemandangannya sungguh berbeda. Blangkon dan beskap mewahnya sudah teronggok pasrah di dalam kantong plastik. Rupanya, dia mengeluh kegatalan yang amat sangat. Benar saja, area tengkuk dan tangannya sudah dipenuhi bentol-bentol merah.
Secara medis, reaksi kulit ini sering disebut sebagai dermatitis kontak. Pakaian sewaan memang rentan menyimpan tungau debu mikroskopis. Selain itu, sisa deterjen berbahan keras juga sering memicu alergi pada kulit anak yang masih sensitif.
Pada akhirnya, kenangan ikut keramain kartini cilik ini selalu menjadi cerita penutup yang manis dan sedikit gatal untuk dikenang sepanjang masa.
@eviindrawanto2026
Baca juga:
