Nonton anak-anak main bola sore itu seolah melempar saya kembali ke lorong waktu. Masa kanak-kanak memang teramat indah bak puisi. Waktu itu, dunia terasa selalu ramah. Tawa bahagia begitu mudah lepas ke udara. Kalaupun sedih, kita tinggal menangis. Setelah itu, habis perkara.

Memang lah ya, ini sesuai studi psikologi yang menyebutkan bahwa bermain bebas sangat krusial bagi pelepasan hormon bahagia anak. Oleh karena itu, kenangan masa kecil selalu manjur menjadi pelipur lara di usia senja.
Mengenang Jejak Masa Remaja di Kampung
Kemarin sore, saya sengaja mampir ke rumah ibu. Tentu saja, tujuannya sekadar mengobati rindu. Selain itu, saya amat kangen masakan ibu. Racikan bumbu beliau selalu pas di lidah. Karena suami sedang ada keperluan di luar kota dan anak-anak sudah sibuk sendiri, saya putuskan menginap semalam.
Tidur di rumah masa kecil tentu membawa ketenangan. Riset dari Journal of Environmental Psychology bahkan mencatat bahwa aroma rumah keluarga ampuh menurunkan tingkat stres. Jadi, untuk saya momen singgah ini seharusnya membawa memori kanak-kanak kembali ke permukaan.
Namun sayang, rumah ibu kini sudah berubah wujud. Jejak masa remaja saya seolah menguap begitu saja. Karena terlalu luas untuk bapak dan ibu, rumahnya dibagi dua dengan penyusuaian di sana-sni. Nah sebagian ruang akhirnya dikontrakan. Hasilnya lumayan juga untuk tambahan uang belanja beliau.
Berada di rumah ibu, artinya saya kembali menjadi ratu. Gak mengerjakan apa-apa. Hanya sibuk makan dan minum, persis seperti dulu.
Awalnya, saya hanya santai rebahan. Sesekali ke dapur atau ngajakin ibu atau bapak ngobrol. Eh ternyata di masa tua, orang tuaku itu juga tidak kalah sibuk. Ibu pergi ke pengajian, bapak asik nukang di belakang.
Lama-lama kegiatan nganggur ini terasa membosankan juga. Setelah lelah membaca buku strategi bisnis dan berselancar di internet, saya izin keluar sebentar.
Hiburan Sore: Nonton Anak-Anak Main Bola
Saya memutuskan keliling kampung. Trekking tipis-tipis ini sekadar menyegarkan pikiran. Sambil berjalan, saya menyusuri gang, rumah-rumah, dan mushola kenangan. Banyak tetangga lama sudah pindah. Sebagian rumah teman pun sudah direnovasi total.
Memasuki wilayah RT sebelah, langkah saya seketika terhenti. Saya melihat sebuah halaman yang masih cukup luas. Di sana tumbuh rimbun kebun pohon pisang dan singkong.
Beruntung lah mereka yang masih tinggal di sana. Karena ruang terbuka hijau seperti ini terbukti secara ilmiah mampu menyerap polutan lokal dengan sangat baik.
Di halaman itu lah menjadi arena bagi dua bocah. Mereka rupanya sedang main bola. Tertarik oleh riuh tawa mereka, saya mencari tempat duduk di warung penduduk. Sambil menyesap minuman ringan, saya kemudian memutuskan nonton anak-anak main bola di sana.
Lucunya Aturan Main dan Sandal Terbang
Pertandingan ini sungguh di luar nalar. Mereka bermain seru menggunakan dua bola. Pemainnya juga cuma dua orang. Pakai sendal.
Hebatnya lagi, aturannya sungguh bikin sakit perut. Masing-masing anak bersemangat memasukkan bola ke gawangnya sendiri. Saya dan ibu warung tak henti tertawa terbahak-bahak melihatnya.
Sambil terus terkekeh, saya abadikan momen pertandingan tersebut dengan kamera ponsel. Tiba-tiba, bola melambung tinggi ke udara. Kocaknya, sandal si pemain ikut terbang bersama bola. Kaki mungilnya rupanya selip saat menendang saking semangatnya.
Gelak tawa pun kembali pecah seketika.
Pelajaran Berharga dari Nonton Anak-Anak Main Bola
Pada akhirnya, tak ada pihak yang menang. Tak ada pula pihak yang kalah. Dalam dunia mereka, semua orang adalah saudara. Yang paling penting hanyalah rasa gembira. Filosofi bocah ini sejalan dengan prinsip mindfulness yang sekarang saya coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka hidup penuh pada momen saat ini, tanpa cemas memikirkan hasil akhir.
Pelajaran sederhana ini sering dilupakan oleh orang dewasa. Bermain itu memang memerdekakan jiwa. Keseruan nonton anak-anak main bola sore itu benar-benar menjadi oase di hati saya. Nah, permainan apa yang paling Sobat JEI sukai waktu kecil dulu?
@eviindrawanto.com2026
Baca juga:


