Menjalani fitrah kehidupan kadang bisa kita selami saat sedang dekat dengan alam. Kali ini saya belajar dari lebah di suatu siang yang sejuk di Cisarua, Bogor.
Saat itu, saya melihat seekor kupu-kupu kuning terbang tak jauh dari tempat saya sedang istirahat. Melepas lelah usai trekking di kebun teh. Hawa sejuk membuat saya terkantuk sebetulnya, tapi kupu-kupu yang sedang mencari madu itu terlalu sayang untuk dilewatkan kamera saya.
Lalu, seperti maling, sayapun mulai mengendap perlahan menembus semak. Dalam gerak sunyi mendekati gerombolan tanaman merambat dengan bunga putih kecil yang sedang mekar. Selain kupu-kupu kuning jadi incaran saya, juga terlihat beberapa ekor lebah. Terbang kian kemari lalu hinggap di mahkota bunga.
Penampilan bungu itu sungguh mirip bunga chamomile yang cantik. Kelopak bunganya bersusun sangat teratur. Sementara itu, putik sari kekuningan di tengahnya kelihatan sangat menggoda bagi serang-seranga terbang itu.
Namun sesungguhnya, bunga cantik yang saya incer ini adalah jenis Aster liar atau Daisy liar, yang kemungkinan besar berasal dari genus Erigeron (sering dikenal dengan nama Fleabane). Mengingat sifat tumbuhnya yang merambat dan menjuntai, ini sangat mirip dengan spesies Erigeron karvinskianus.
Pantas saja penampakannya mengingatkan saya pada bunga Chamomile. Keduanya memang masih berada dalam satu keluarga botani yang sama, yaitu Asteraceae (keluarga kenikir-kenikiran). Ciri khas utama dari keluarga tanaman ini adalah bentuk bunganya yang majemuk—memiliki deretan kelopak putih kecil yang tersusun rapi mengelilingi cakram putik sari berwarna kuning cerah di bagian tengah, persis seperti dalam foto.
Bunga liar semacam ini tumbuh subur di daerah sejuk seperti kebun teh di Cisarua. Dan mereka memang menjadi primadona bagi para serangga karena produksi nektarnya yang melimpah. Momen yang tertangkap di foto ini juga sangat indah, berpadu sempurna dengan kehadiran kupu-kupu kuning (dari jenis Eurema atau kupu-kupu belerang) yang sedang fokus menjalani fitrahnya menikmati manisnya nektar!
Belajar dari Lebah yang Fokus Menikmati Nektar
Sebenarnya, kawasan hijau itu sudah sangat ramai oleh berbagai makhluk hidup. Mula-mula, saya melihat kupu-kupu dengan tiga warna mempesona, yaitu hitam, kuning, dan putih. Mereka terbang ceria kian kemari mencari madu.
Sayangnya, mereka terlalu peka terhadap kehadiran manusia. Akibatnya, saya sangat kesulitan memotret sayap indah mereka.
Di sisi lain, lebah dan semut menunjukkan perilaku berbeda. Serangga-serangga ini asyik membenamkan kepala ke dalam kolam putik sari. Mereka sangat sibuk menghisap nektar manis. Karena terlalu menikmati hidangan, mereka sama sekali tidak menghiraukan kehadiran saya.
Oleh karena itu, kita benar-benar bisa belajar dari lebah mengenai fokus tingkat tinggi. Secara saintifik, kemampuan lebah menemukan bunga segar berasal dari deteksi medan listrik. Bunga yang penuh nektar memiliki muatan listrik positif alami.
Sementara itu, lebah yang terbang membawa muatan negatif. Tarikan elektromagnetik inilah yang memandu lebah menuju bunga secara akurat bak radar canggih.
Menemukan Keindahan Lewat Lensa Pembesar
Teman-teman tentu tahu rasanya mengamati alam sekitar secara dekat. Penggunaan lensa pembesar jelas memberikan sensasi magis tersendiri. Struktur alam yang awalnya samar mendadak menjadi sangat rumit. Detail kecil ini sukses membangkitkan apresiasi keindahan dari dalam jiwa kita.
Riset psikologi lingkungan membuktikan sebuah fakta menarik. Mengamati pola fraktal alami pada susunan kelopak bunga bisa secara drastis menurunkan hormon kortisol. Oleh sebab itu, aktivitas sederhana ini sangat efektif untuk meredakan stres.
Pada saat-saat istimewa itulah, berbagai pertanyaan bermunculan di pikiran saya. Padahal, area sekitarnya sangat rimbun oleh pepohonan raksasa. Namun, mengapa lebah dan serangga lain hanya berkumpul di area bunga tersebut? Apa sinyal rahasia yang mengundang mereka datang untuk panen besar?
Rahasia Sains di Balik Kehadiran Serangga
Anak saya kemudian memberikan jawaban yang praktis namun filosofis. Dia menyarankan saya agar tidak terlalu memusingkan pertanyaan tersebut.
Pasalnya, insting serangga bekerja dengan sangat spesifik. Sains biologi menyebut sistem pelacak ini sebagai kemoreseptor. Perangkat sensorik pada antena serangga sangat sensitif mendeteksi senyawa volatil (aroma) bunga.
Bahkan, mereka bisa mencium molekul gula dari jarak puluhan meter. Perangkat canggih serupa juga dimiliki oleh berbagai makhluk hidup lain. Fitur biologis ini secara otomatis menuntun mereka menuju sumber makanan yang paling tepat.
Menjalani Fitrah Kehidupan Sesuai Rancangan
Seluruh alam semesta pada dasarnya telah memiliki jalan hidup yang ditetapkan oleh Sang Pencipta. Kupu-kupu, lebah, dan semut terlahir dengan bekal insting pendeteksi rasa manis yang luar biasa. Semuanya berjalan mulus selaras dengan ketetapan Sang Perencana. Siklus ini membuktikan bahwa setiap makhluk sekecil apa pun sudah memiliki jaminan rezekinya di alam bebas.
Menjalani Fitrah Penghindaran Terhadap Udang
Saya pun manggut-manggut menyetujui pemikiran cerdas tersebut. Akan tetapi, tiba-tiba pikiran komedi saya muncul memprotes keadaan. Mengapa Tuhan tidak menciptakan tubuh saya agar ramah terhadap udang yang enak itu?
Gara-gara sering gatal alergi setelah makan seafood, saya terpaksa mundur teratur dari meja makan. Akhirnya, saya harus sabar menjalani fitrah penghindaran terhadap lautan udang goreng. Kesimpulannya, hidup ini memang penuh misteri dan kejutan. Jadi, mari kita terus belajar dari lebah yang selalu ikhlas dan fokus menikmati rezekinya hari ini.
@eviindrawanto2026
Baca juga:
