Cara jeli UMKM menemukan pasar bermula dari sebuah tarian sunyi antara harapan dan kenyataan. Halo, Sobat ARENGA! Pernahkah kalian merasa seperti pujangga yang menulis puisi indah, namun tak tahu siapa yang sudi membacanya?
Setidaknya begitulah nasib saya di awal merintis usaha.
Idealnya, kita mencari penonton dulu, baru menyusun liriknya. Sayangnya, dompet tak setebal buku telepon dan sumber daya sungguh terbatas. Maka, kita seringkali nekat meracik produk terlebih dahulu, lalu pusing tujuh keliling mencari siapa yang mau beli. Terutama saat awal mula mengaduk manisnya Arenga Indonesia, saya pun sempat termangu di sudut dapur sambil bertanya-tanya mencari pelanggan pertama.
Riset Minim? Terapkan Cara Jeli UMKM Menemukan Pasar
Kenyataan memang sering mengajak kita bercanda. Dana cekak dan sumber daya manusia (SDM) yang terbatas memaksa kita berpikir dari arah sebaliknya. Kita ciptakan mahakaryanya dulu, baru berteriak di keramaian pasar.
Sebagai pengingat, riset dari CB Insights menunjukkan bahwa sekitar 42% bisnis rintis rontok karena produk mereka ternyata tidak menyelesaikan masalah konsumen.
Mengerikan, bukan? Oleh sebab itu, kita tak boleh asal tabrak. Meskipun kita membuat produk lebih dulu, kita tetap wajib memutar otak. Sobat Arenga, pertanyaan ajaibnya selalu sama: di mana para pelanggan ini bersembunyi, dan bagaimana kita menyapa prospek utama tanpa terlihat seperti pedagang obat keliling?
Cara Jeli UMKM Menemukan Pasar Lewat Iklan Berjalan
Bagi saya, jalanan adalah guru terbaik yang tak pernah memungut SPP. Saya banyak menyerap ilmu dari lingkungan sekitar.
Contohnya, lihat saja kelakuan kreatif beberapa teman saya. Mereka mengubah mobil pribadi menjadi semacam brosur berjalan yang menawan. Riana, kawan saya yang mendistribusikan produk pengurang berat badan, menempelkan tulisan di kaca belakang mobilnya: “Ingin menambah atau mengurangi berat badan? Hubungi ahlinya di no…”.
Sementara itu, Kika melukis logo kupu-kupu terbang berwarna merah muda lembut di sekujur mobilnya. Secara mengejutkan, mobil-mobil Jepang itu selalu sukses membius pandangan para ibu di halaman sekolah anak kami.
Menariknya, studi dari Outdoor Advertising Association of America (OAAA) menyebutkan bahwa iklan luar ruang berdampak tinggi mampu memicu interaksi pencarian online hingga 38%. Ini jelas bukan kebetulan semata. Mereka membuktikan bahwa calon pelanggan ada di mana-mana, cukup sejauh mata memandang.
Menajamkan Insting & Cara Jeli UMKM Menemukan Pasar
Setelah merenung sejenak, saya menarik sebuah kesimpulan yang melegakan. Setiap individu yang melintas di hadapan kita adalah kanvas prospektif yang siap menerima warna produk kita. Kita hanya butuh mata jeli dan otak kreatif untuk mengenali mereka.
Mari kita bedah kasus ibu-ibu di sekolah tadi. Mungkin mereka tidak rutin mengopi, sehingga merasa tak membutuhkan palm sugar secara langsung. Namun, tunggu dulu! Bukankah mereka memiliki suami yang mungkin hobi menyesap kopi pekat? Bukankah gula aren bubuk sering menjadi primadona dalam adonan kue legit mereka?
Lebih dari itu, data dari Harvard Business Review menggarisbawahi bahwa perempuan mengendalikan sekitar 70-80% keputusan belanja rumah tangga. Jadi, kita tinggal membisikkan bahwa gula aren adalah pilihan sehat sebagai bumbu masak masa kini. Kita bisa membangkitkan kembali memori mereka bahwa racikan palm sugar ini sudah sejak lama memeluk resep herbal dan jamu warisan nenek moyang.
Mulai Langkah Cara Jeli UMKM Menemukan Pasar
Pada akhirnya, perjalanan menemukan pembeli mirip dengan menanti cinta sejati; butuh keberanian untuk menyapa duluan.
Kawan pasti setuju bahwa mempraktikkan cara jeli UMKM menemukan pasar itu tidak terlalu sulit. Syaratnya, kita tidak boleh berhenti belajar dan harus mau berkeringat mengeksekusi ide. Jangan biarkan produk unggulan kalian hanya menjadi pajangan sepi di rak dapur. Teruslah tebarkan jala kreativitas kalian.
Mari kita temukan mereka yang menanti kelezatan produk kita dengan senyuman dan sapaan hangat.
@eviindrawanto
Baca juga:
