
UMKM pangan harus terus belajar meracik strategi, layaknya koki yang tak pernah lelah menyempurnakan resep andalannya. Tidak terkecuali dalam seni mencari peluang di pameran yang selalu menjanjikan kejutan manis.
Jurnal kali ini merangkum keikut sertaan Arenga Indonesia dan petualangan kami di Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Jasa Boga Indonesia (APJI) ke-3.
Bertempat di Puri Agung Sahid Hotel, Jakarta, Kementerian Koperasi dan UKM menyelenggarakan hajatan ini pada 10-11 Desember lalu. Lewat tulisan singkat ini, saya merangkum keriuhan parade tumpeng non-beras, padatnya lokakarya BPOM, hingga bocoran merayu hotel berbintang. Siapkan kopi susu gula aren teman-teman, mari kita selami ceritanya!
Kenduri Besar dan Aksi Mencari Peluang di Pameran
Melangkah masuk ke ruang Puri Agung hari itu terasa seperti menghadiri kenduri raksasa. Hawa semangat para pengusaha serasa mengepul di udara. Panitia menyulap ruangan menjadi panggung megah bagi aneka produk UKM sektor makanan dan kerajinan tangan. Arenga Indonesia menempati salah satu booth yang disediakan Kementerian Koperasi, bersama dua usaha lainnya.
Tentu saja, perusahaan katering raksasa anggota APJI ikut unjuk gigi. Mereka memamerkan aneka hidangan yang sukses membuat perut tiba-tiba bernyanyi kegirangan.
Selama pameran berlangsung, satu hal yang sukses mencuri panggung adalah parade tumpeng non-beras. Bayangkan, gunungan estetis ini tercipta dari susunan umbi-umbian dan jagung. Sebuah harmoni visual yang puitis sekaligus mengenyangkan.
Yang ingin dikemukan dalam tumpeng ini adalah yang sesuai riset gizi modern, diversifikasi pangan lokal seperti ini mampu menekan angka ketergantungan pada beras putih secara signifikan. Itu sekaligus menaikkan indeks ketahanan pangan daerah. Tak perlu ragu karena itu adalah bukti nyata dan tentunya kelihaian koki juga dalam mengolah bahan baku jadi makanan lezat.
Di sela-sela pameran dan parade, kami menyempatkan diri berkeliling. Ajang unjuk gigi berbagai produk seperti ini ibarat memancing di laut lepas. Ini juga kesempatan untuk mencari peluang di pameran, kita hanya butuh umpan produk yang pas dan senyum komunikasi yang ramah untuk menggaet mitra potensial.
Alasan Utama UMKM Pangan Harus Terus Belajar
Setelah puas mencicipi ragam tester dan menyapa kanan-kiri, kami bergeser ke menu utama: lokakarya. Seremonial berlalu, panitia selesai meninjau stan, dan sesi serius pun mulai. Inilah momen paling esensial. Mengapa? Karena UMKM pangan harus terus belajar agar bisnisnya tidak layu sebelum berkembang. Wawasan baru ibarat ragi berkualitas yang mengembangkan adonan bisnis kita menuju transformasi nyata.
Nutrisi Ilmu dari BPOM dan Kebijakan Pertanian
Sesi pertama membedah strategi mengungkit nilai UKM pangan lewat peningkatan keamanan produk. Direktur Surveyland dan Penilaian Keamanan Pangan BPOM membawakan materi ini dengan renyah. Berdasarkan data riset pasar, mengantongi label sertifikasi BPOM nyatanya mampu mendongkrak kepercayaan konsumen hingga tiga kali lipat.
Jadi, mengurus izin bukan sekadar tumpukan birokrasi, melainkan investasi reputasi masa depan.
Lanjut ke sesi dua, Direktur Pengolahan Ditjen P2HP Departemen Pertanian mengupas kebijakan bahan baku. Industri sangat membutuhkan standar yang pasti. Kestabilan rantai pasok adalah denyut nadi bagi dapur produksi mana pun.
Sesi tiga kemudian diisi oleh Ir. Sri Ernawati, MEc (Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian UKM). Beliau memaparkan kerangka pemberdayaan usaha kecil secara terpadu.
Otak kami mulai penuh dengan gizi ilmu, namun perut akhirnya menuntut jatah makan siang.
Kolaborasi Finansial dan Mencari Peluang di Pameran B2B
Setelah energi kembali penuh, lokakarya berlanjut menyajikan topik-topik daging. Deputi Bidang Pembiayaan menguliti kebijakan dana segar bagi UKM.
Memahami alur permodalan ternyata sama krusialnya dengan memahami komposisi untuk membuat gula aren cair.
Kemudian, Ketua APJI membagikan pengalaman nyata usaha kecil saat menembus perizinan industri pangan. Percaya deh, mendengar kisah jatuh bangun langsung dari pelakunya tentu jauh lebih gurih daripada sekadar membaca buku panduan teoretis. Sayanya jadi makin bersemangat untuk memajukan Arenga Indonesia.
Merayu Hotel Bintang Lima
Ini dia sesi yang paling memancing rasa penasaran: “Kiat Sukses Jasa Boga Masuk Hotel”. Bapak Lukman, Ketua Koperji Sulawesi Selatan, tanpa pelit membongkar rahasianya. Standar perhotelan itu ketat dan minim toleransi kesalahan. Kita wajib menyajikan konsistensi rasa, ketepatan waktu presisi, dan presentasi visual yang paripurna.
Menembus pasar Business-to-Business (B2B) perhotelan menuntut mental baja dan standar kebersihan setingkat ruang operasi medis. Sekali lagi, fakta ini membuktikan UMKM pangan harus terus belajar agar mampu melayani ego dan ekspektasi tinggi hotel-hotel mewah tersebut.
Pada hari kedua, ritme acara masih berdegup kencang. Karena booth ada yang urus, kami kembali berkeliling mencari peluang di pameran sembari menyimak presentasi alternatif permodalan bagi UKM. Temu bisnis berjalan lancar.
Acara puncak akhirnya mempertemukan Koperji dan Fokus Pangan Indonesia dalam penandatanganan kesepakatan kerja sama. Ini konklusi yang manis. Sebab pada akhirnya, sendiri kita mungkin sekadar camilan ringan, namun bersama kita bisa meracik hidangan utama yang mengguncang dunia industri pangan!
Maju terus UMKM Pangan Indonesia!
eviindrawanto.com
Baca juga:
