Key Takeaways
- Artikel ini menjelaskan pengalaman penulis mengunjungi Masjid Kudus dan Makam Sunan Kudus yang kaya akan sejarah dan budaya.
- Menara Kudus menjadi simbol akulturasi budaya Hindu dan Islam dengan arsitektur yang unik.
- Masjid Kudus (Masjid Al-Aqsha) mengusung arsitektur khas Jawa dan menyimpan banyak makna sejarah.
- Info praktis untuk pengunjung mencakup jam buka, parkir, dan aturan berpakaian yang sopan.
- Mengunjungi Masjid Kudus adalah perjalanan spiritual dan budaya yang menekankan toleransi dalam sejarah Islam di Jawa.
Travel Blog Indonesia – Halo Teman-teman pembaca setia! Apa kabar rencana perjalanan rohani kalian tahun ini?
Kalau sebelumnya saya pernah menulis selintas tentang simbolisasi akulturasi budaya di Kudus, kali ini saya ingin mengajak teman-teman menyelam lebih dalam. Baru-baru ini saya kembali menengok salah satu ikon Wisata Religi Jawa Tengah yang paling memikat hati: Masjid Menara Kudus dan Makam Sunan Kudus.
Artikel ini sudah saya update dengan informasi terbaru per 2026, jadi teman-teman tidak perlu bingung soal jam buka, parkir, atau mitos-mitos yang beredar. Yuk, simak perjalanan “emak lebay” ini menelusuri jejak Wali Songo!
Pesona Magis Menara Kudus: Candi atau Menara?
Pertama kali berdiri di hadapan bangunan ini, saya selalu tercenung. Di depan mata saya, berdiri tegak sebuah menara setinggi 18 meter dengan dasar persegi 10×10 meter. Kalau teman-teman perhatikan, bentuknya sama sekali tidak seperti menara masjid di Timur Tengah.
Ini adalah Menara Kudus, sebuah mahakarya akulturasi budaya Hindu Islam yang jenius. Tubuhnya tersusun dari bata merah tanpa semen—mengingatkan saya pada Candi Singosari di Jawa Timur. Di pinggang menara, terlilit 32 piring keramik bergambar motif biru putih. Hiasan ini mirip sekali dengan yang ada di pagar Istana Kasepuhan Cirebon.
Bukan kebetulan, karena Sunan Kudus (Syekh Ja’far Shodiq) dan Sunan Gunung Jati memang sama-sama anggota Wali Songo. Bedanya, jika Cirebon dipimpin Sultan Gunung Jati, Kudus adalah wilayah dakwah Sunan Kudus yang penuh toleransi.
Menyelami Masjid Al-Aqsha Menara Kudus
Masuk lebih dalam, kita akan disambut oleh Masjid Menara Kudus yang nama aslinya adalah Masjid Al-Aqsha. Kenapa Al-Aqsha? Konon, batu pertama pendirian masjid ini pada tahun 1549 dibawa langsung oleh Sunan Kudus dari Baitul Maqdis, Palestina.
Di sinilah letak keunikan arsitekturnya. Ada Lawang Kembar atau pintu gerbang ganda yang sangat kental dengan nuansa Majapahit. Atapnya berbentuk tajug tumpang dua, bukan kubah. Ini adalah bukti nyata bagaimana Islam masuk ke tanah Jawa bukan dengan menggusur, melainkan merangkul budaya yang sudah ada.
Mitos Rajah Kalacakra dan Larangan Sapi
Sambil duduk di serambi masjid mengamati para santri yang sedang wudhu, saya teringat sebuah legenda yang bikin merinding, yaitu Mitos Rajah Kalacakra. Konon, rajah ini tertanam di gerbang masuk menuju makam. Mitosnya, pejabat tinggi yang nekat melewati gerbang ini bisa luntur kekuasaannya atau lengser! Percaya atau tidak, banyak pejabat yang memilih lewat jalan samping kalau berkunjung ke sini.
Selain itu, ada satu fakta unik yang teman-teman harus tahu. Di Kudus, kita tidak akan menemukan orang menyembelih sapi saat Idul Adha. Ini adalah bentuk penghormatan Sunan Kudus kepada umat Hindu yang menganggap sapi hewan suci. Sebagai gantinya, masyarakat Kudus mengonsumsi daging kerbau. Jadi, jangan heran kalau kuliner khas di sini adalah Sate Kerbau, bukan Sate Sapi!
Baca di sini tentang: Makam Prabu Hariang Kancana atau Mbah Panjalu: Wajah Baru Sang Nusa Gede
Ziarah ke Makam Sunan Kudus: Hening yang Menyejukkan
Puas mengagumi masjid, saya melangkahkan kaki ke belakang, menuju Makam Sunan Kudus.
Di Update 2026 ini, alur masuknya semakin tertata rapi. Teman-teman akan diminta melepas alas kaki. Saran saya, bawalah kantong plastik sendiri untuk menyimpan sepatu/sandal dan membawanya masuk (ditenteng), karena kadang tempat penitipan penuh saat musim liburan atau saat tradisi Buka Luwur berlangsung di bulan Muharram.
Kompleks makam ini teduh sekali. Lantainya bersih, dinaungi atap-atap kayu jati tua yang kokoh. Saya melewati makam para pangeran dan murid-murid beliau sebelum sampai ke cungkup utama yang tertutup kelambu.
Meskipun awalnya saya merasa “tidak pantas” berada di tengah para peziarah yang khusyuk—maklum, niat awal saya kan lebih ke traveling—tapi suasana hening di sana ajaibnya membuat hati tenang. Saya duduk bersimpuh, melantunkan doa sebisa saya. Teringat pesan Ibu saya dulu: “Ziarah itu mendoakan yang di dalam kubur, bukan meminta kepada kuburan.”
Baca di sini tentang : Menelusuri Jejak Wali Songo: Panduan Lengkap Ziarah Makam Sunan Gunung Jati Cirebon & Makam Putri Ong Tien
Info Praktis Update 2026 (Jam Buka & Parkir)
Buat teman-teman yang mau berkunjung, catat info ini ya:
- Jam Buka: Masjid Menara Kudus buka 24 jam untuk ibadah. Namun, area Makam Sunan Kudus biasanya memiliki jam operasional ziarah mulai pukul 05.00 WIB hingga sekitar pukul 22.00 WIB.
- Tiket Masuk: Tidak ada tiket resmi alias gratis! Teman-teman hanya perlu mengisi kotak infaq seikhlasnya.
- Parkir: Area parkir tepat di depan masjid terbatas. Untuk mobil pribadi atau bus rombongan, biasanya diarahkan ke Terminal Bakalan Krapyak. Dari sana, teman-teman bisa naik ojek, becak, atau shuttle angkutan wisata yang seru!
- Pakaian: Karena ini area suci, pastikan berpakaian sopan dan menutup aurat ya.
Mengunjungi Masjid Menara Kudus dan Makam Sunan Kudus bukan sekadar wisata foto. Ini adalah perjalanan menembus lorong waktu, menyaksikan bagaimana toleransi dan keindahan seni bisa berpadu sempurna dalam sejarah Islam di Jawa.
Sampai jumpa di cerita perjalanan berikutnya! Jangan lupa sapa saya di kolom komentar kalau kalian sudah pernah ke sini.
Salam hangat, Evi Indrawanto
Foto di Masjid Dan Makam Sunan Kudus
Baca juga:



