Daftar isi

Travel Blog Indonesia โ Saya selalu punya ketertarikan khusus pada wisata religi. Ada sesuatu yang magis saat kita menapak tilas jejak para penyebar agama, seolah menyerap energi ketenangan yang mereka tinggalkan berabad-abad silam. Setelah mengunjungi Makam Sunan Kudus, hati saya tergerak untuk melengkapinya dengan mendaki ke utara, menuju atap kota Kretek ini.
Tujuan kali ini adalah Makam Sunan Muria yang bertahta di lereng Gunung Muria, tepatnya di Puncak Colo, Jawa Tengah.
Beliau adalah putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh, yang memiliki nama asli Raden Umar Said. Perjalanan kali ini bukan sekadar ziarah, tapi juga ujian fisik dan mentalโterutama saat harus memilih moda transportasi menuju puncaknya!
Menuju Puncak: Ujian Iman atau Ujian Adrenalin?
Tidak sulit mencapai lokasi pemakaman yang berada di kawasan wisata Colo ini. Dari pusat kota Kudus, Teman-teman tinggal lurus saja menyisir punggung Muria sejauh kurang lebih 18 KM. Jalannya mulus, berkelok cantik, dan semakin ke atas, udara sejuk khas pegunungan mulai menyapa kulit.
Namun, tantangan sesungguhnya dimulai saat Teman-teman tiba di area parkir. Lokasi makam sesungguhnya masih berjarak cukup jauh di atas sana. Untuk mencapai tempat peristirahatan terakhir Sang Wali, tersedia dua pilihan klasik:
- Jalan Kaki: Meniti ratusan anak tangga (konon lebih dari 400-700 anak tangga!) yang siap membuat betis “kondekan”.
- Naik Ojek: Pilihan bagi mereka yang ingin cepat, atau mungkin… yang punya nyali lebih.
Sebagai “turis” yang kadang manja tapi penasaran, godaan naik ojek selalu besar. Tapi ingatlah, ojek di Muria itu legendaris.
Sensasi Ojek “Valentino Rossi” Muria
Jika Teman-teman memilih naik ojek, bersiaplah. Di tahun 2026 ini, armada ojek Muria semakin terorganisir, seragamnya rapi, motornya pun rata-rata sport atau matic bertenaga besar. Tapi satu yang tidak berubah: skill abang ojeknya yang rasa pembalap MotoGP!
Jalan menuju puncak itu mengecil, terjal, dan berkelok tajam dengan jurang di sisi kiri. Abang ojek di sini sepertinya sudah hafal setiap kerikil di aspal, sehingga mereka melibas tikungan dengan percaya diri tinggi.
Jantung saya selalu berdebar kencang setiap kali motor miring di tikungan. Sekalipun saya mencoba menghibur diri dengan memandang hutan hijau yang asri, mulut tak henti komat-kamit berdoa. Bahkan, tak jarang saya menepuk bahu si abang, “Pelan-pelan ya, Mas!” Padahal bagi mereka, itu sudah kecepatan santai.
Mengapa Sunan Muria Memilih Tempat Sunyi?
Sesampainya di gerbang atas, sambil menata napas yang memburu (entah karena tangga atau ojek), saya merenung. Apa yang ada di benak Raden Umar Said saat memutuskan tinggal di puncak gunung ini?
Sejarah mencatat bahwa Sunan Muria lebih suka hidup menyendiri (uzlah), jauh dari hiruk-pikuk kekuasaan, untuk mendalami agama dan berbaur dengan rakyat jelata seperti petani dan nelayan. Di tengah kabut tipis yang hampir selalu memeluk area makam, rasanya masuk akal. Di sini hening. Di sini, jarak antara kening dan sajadah terasa begitu dekat dengan Langit.
Suasana di Dalam Cungkup
Area makam kini semakin tertata. Lantunan ayat suci berdengung lembut, bersahutan dengan desau angin gunung. Saat masuk ke area makam inti, Teman-teman harus melepas alas kaki.
Melihat kain kelambu putih yang menaungi makam, ada getaran haru yang menyusup. Di sinilah berbaring sosok yang menyebarkan Islam dengan damai, menggunakan kesenian gamelan dan tembang sinom. Para peziarah duduk bersimpuh, khusyuk. Saya pun larut, menitipkan doa, menyerap kedamaian yang sulit didapat di kota besar.
🔴 UPDATE INFO 2026: Panduan Terkini
Bagi Teman-teman yang berencana ke sini di tahun 2026, ada beberapa perubahan dan info penting dibanding kunjungan saya bertahun-tahun lalu. Berikut rangkumannya:
1. Tarif Ojek Terbaru (2026) Lupakan harga Rp10.000 atau Rp15.000 yang dulu pernah ada.
- Naik: Sekitar Rp 20.000 – Rp 25.000 per orang.
- Turun: Biasanya sedikit lebih murah atau sama.
- Catatan: Siapkan uang pas tunai. Meskipun zaman sudah digital, transaksi tunai di sini lebih mempercepat antrean yang sering mengular.
2. Fasilitas Lebih Nyaman Jalur pejalan kaki (tangga) kini sudah lebih rapi dengan atap kanopi yang lebih baik di banyak titik, jadi Teman-teman tidak perlu takut kehujanan saat menaiki tangga. Toilet dan tempat wudhu juga sudah direnovasi menjadi jauh lebih bersih dan layak.
3. Metode Pembayaran Di area pedagang oleh-oleh bawah, beberapa toko besar sudah menerima QRIS. Tapi untuk pedagang kecil (buah parijoto, pentol, air mineral) dan kotak amal, uang tunai (cash) masih menjadi raja.
4. Waktu Terbaik Berkunjung Tahun 2026 wisata religi semakin booming. Jika Teman-teman ingin menghindari lautan manusia:
- Hindari malam Jumat Legi atau hari libur nasional.
- Datanglah di pagi hari (setelah Subuh) atau sore hari menjelang Maghrib. Udara lebih segar dan antrean ojek tidak terlalu “brutal”.
Tips Sangat Berguna Bagi Peziarah (Wajib Baca!)
- Siapkan Jaket Tebal: Puncak Muria itu dingin, Teman-teman! Apalagi jika datang saat subuh atau malam hari. Anginnya bisa menusuk tulang.
- Alas Kaki yang Tepat: Jangan pakai heels atau sandal licin. Pakailah sneakers atau sandal gunung yang nyaman. Jika memilih jalan kaki, lutut akan sangat diuji. Jika naik ojek, sepatu yang menutup kaki lebih aman.
- Obat Anti Mabuk: Bagi yang mudah pusing, perjalanan meliuk-liuk naik ojek bisa memicu mual. Minum obat anti mabuk sebelumnya jika perlu.
- Oleh-oleh Legendaris: Buah Parijoto. Jangan lupa beli buah unik berwarna ungu kemerahan ini. Rasanya asam-sepat-manis. Mitosnya, ibu hamil yang makan buah ini anaknya akan rupawan. Di tahun 2026, harganya mungkin berkisar Rp 15.000 – Rp 25.000 per ikat tergantung musim. Bisa juga beli Sirup Parijoto yang lebih awet dibawa pulang.
Jadi, Yuk Kita Kunjung Sunan Muria di Dataran Tinggi Colo
Hampir satu jam saya hanyut dalam suasana di sana. Saat berjalan menuruni tangga (kali ini saya memilih jalan kaki turun untuk menikmati pemandangan), saya merasa “isi ulang” energi batin telah selesai.
Gunung Muria bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah tempat di mana kita diajak menunduk, baik secara fisik saat mendaki, maupun secara hati saat berdoa.
Jadi, kapan Teman-teman menyusul ke sini? Salam dari ketinggian 1.600 mdpl!
Evi Indrawanto.
Foto-Foto Suasana di Makam
- Baca juga : Pemerahan Susu Muria Kudus

Baca juga :










