Key Takeaways
- Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon adalah destinasi wisata religi penting di Indonesia, menyimpan sejarah Syarif Hidayatullah.
- Pengunjung tidak dapat mengakses makam langsung, hanya sampai di Pintu Pasujudan, dan bisa menikmati arsitektur yang memukau di sekitarnya.
- Terdapat juga Makam Putri Ong Tien, istri Sunan Gunung Jati, sebagai simbol akulturasi budaya Tiongkok dan Islam.
- Kompleks makam buka 24 jam dan gratis, tapi penting untuk bersedekah seikhlasnya dan menjaga kebersihan tempat.
- Pakaian sopan wajib, serta disarankan untuk datang di hari kerja untuk menghindari keramaian.
Travel Blog Indonesia – Halo, Teman-teman! Pernahkah kalian merasa butuh “jeda” dari hiruk-pikuk duniawi dan mencari ketenangan batin yang sulit dijelaskan kata-kata? Jika iya, mungkin sudah saatnya mengarahkan kompas perjalanan ke Kota Udang. Bukan hanya sekadar berburu Empal Gentong, tapi mari kita melangkah lebih dalam ke jantung spiritual Jawa Barat: Makam Sunan Gunung Jati.
Bagi saya pribadi, ziarah ke makam para wali bukan sekadar ritual keagamaan yang kaku. Ada “tulah” indah yang membuat hati selalu rindu untuk kembali. Entah itu rasa haru, bahagia, atau sekadar perasaan damai yang menyusup diam-diam saat kita duduk bersimpuh di sana.
Pesona Wisata Religi di Tanah Wali
Makam Sunan Gunung Jati yang terletak di Cirebon, Jawa Barat, adalah salah satu destinasi Wisata Religi terpenting di Indonesia. Di sinilah bersemayam Syarif Hidayatullah, salah satu anggota Wali Songo yang memiliki darah bangsawan. Beliau adalah putra dari Nyai Rara Santang (putri Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi) dan Syekh Maulana Akbar, seorang ulama besar dari Gujarat, India.
Sebagai satu-satunya Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tatar Pasundan, sosoknya begitu dihormati. Lokasi makam ini sebenarnya berada di bukit kecil yang dikenal sebagai Gunung Sembung. Namun, pemandangan bukit itu kini mungkin tak lagi terlihat jelas karena tertutup oleh bangunan megah dan ratusan pusara yang mengelilinginya.
Saat kalian tiba di sana, mungkin kalian akan disambut oleh suasana yang padat dan riuh. Bapak-bapak penjaga kotak amal mungkin akan cukup agresif menyodorkan kotak sedekah. Jangan kaget, ya! Anggap saja itu bagian dari dinamika tempat wisata populer yang telah menaikkan nama Cirebon ke jagad wisata rohani internasional.
Misteri 9 Pintu dan Arsitektur Penuh Makna
Satu hal yang perlu Teman-teman ketahui sebelum berkunjung: kita tidak bisa melihat makam sang Sunan secara langsung dari dekat. Makam asli Syarif Hidayatullah terletak di puncak bukit, tertutup di balik sembilan pintu gerbang (Lawang Sanga) yang memiliki nama-nama unik seperti Pintu Jinem, Pintu Rararoga, hingga Pintu Teratai.
Bagi peziarah umum seperti kita, batas akses hanyalah sampai di pintu ke-3 atau ke-4, yang dikenal sebagai Pintu Pasujudan. Di depan pintu berwarna coklat tua inilah, ribuan peziarah biasanya memanjatkan doa dengan khusyuk. Konon, pintu ini hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu, seperti saat Salat Jumat atau peringatan Maulid Nabi.
Namun, jangan kecewa. Justru di pelataran inilah kita bisa menikmati keindahan arsitektur yang memukau. Dinding-dinding kompleks makam dihiasi oleh keramik dan porselen kuno. Bagi pecinta seni, ini adalah surga visual! Ada porselen Delft-biru bergaya Eropa, hingga guci-guci Tiongkok kuno yang memancarkan aura anggun dan misterius. Benda-benda ini seolah menjadi saksi bisu kemegahan masa lalu Kesultanan Cirebon.
Kisah Cinta Abadi di Makam Putri Ong Tien
Berjalan sedikit dari area utama, kalian akan menemukan sebuah pemandangan yang menyentuh hati dan sarat akan nilai toleransi: Makam Putri Ong Tien.
Siapakah dia? Putri Ong Tien (Tan Hong Tien Nio) adalah istri tercinta Sunan Gunung Jati yang berasal dari Tiongkok. Kisah cinta mereka adalah bukti nyata akulturasi budaya yang indah. Sayangnya, sang putri wafat di usia muda, yakni 23 tahun.
Di area Makam Putri Ong Tien ini, suasana terasa sangat berbeda. Nuansa Tionghoa begitu kental dengan dominasi warna merah, ornamen naga, serta keberadaan meja sembahyang lengkap dengan hio (dupa) dan lilin. Uniknya, makam ini terletak berdampingan harmonis dengan makam-makam Muslim lainnya.
Ini adalah perwujudan nyata dari Bhinneka Tunggal Ika. Di satu tempat, lantunan tahlil berpadu dengan aroma hio yang dibakar oleh peziarah Tionghoa. Sebuah pesan damai yang menampar siapa saja yang masih meragukan indahnya toleransi di negeri ini.
Info Terkini: Lokasi, Tiket, dan Cara Menuju ke Sana
Agar rencana perjalanan Teman-teman lancar, berikut saya rangkumkan hasil riset terbaru (2024-2025) untuk panduan kalian:
- Lokasi: Jl. Alun-Alun Ciledug No. 53, Astana, Kec. Gunungjati, Kabupaten Cirebon. Jaraknya hanya sekitar 4,5 km dari pusat kota atau Stasiun Cirebon.
- Jam Buka: Kompleks makam buka 24 jam setiap hari. Jadi, kalian bisa datang kapan saja, bahkan tengah malam untuk suasana yang lebih hening.
- Harga Tiket: Tidak ada tiket masuk resmi alias Gratis. Namun, siapkan uang receh atau uang kertas pecahan kecil untuk sedekah seikhlasnya di kotak-kotak amal atau untuk juru kunci (kuncen).
Cara Menuju Lokasi:
- Kendaraan Pribadi: Dari pusat kota Cirebon, arahkan kendaraan ke utara menuju Jalan Raya Sunan Gunung Jati (jalur Pantura menuju Indramayu). Waktu tempuh hanya sekitar 10-15 menit.
- Transportasi Umum: Dari Stasiun Cirebon Kejaksan, kalian bisa naik angkot (angkutan kota) kode GG (Gunung Sari – Gunung Jati) yang berwarna biru telur asin. Atau, yang paling praktis, gunakan ojek online/taksi online langsung ke titik lokasi “Makam Sunan Gunung Jati”.
Tips Penting untuk Peziarah
- Pakaian Sopan: Wajib mengenakan pakaian tertutup. Bagi wanita, disarankan memakai kerudung/jilbab. Bagi pria, memakai peci/kopiah akan lebih menghormati tradisi setempat, meski tidak wajib.
- Siapkan Uang Receh: Kotak amal tersebar di banyak titik. Memberi itu baik, tapi lakukanlah sesuai kemampuan dan keikhlasan. Jangan merasa tertekan jika ada oknum yang sedikit memaksa.
- Waspada Pemandu Liar: Terkadang ada orang yang menawarkan jasa doa atau memandu secara agresif. Jika tidak berminat, tolaklah dengan halus namun tegas.
- Waktu Terbaik: Jika ingin menghindari keramaian yang membludak, hindari datang saat malam Jumat Kliwon atau hari libur nasional. Datanglah di hari kerja biasa.
- Jaga Kebersihan: Kompleks ini adalah situs sejarah dan religi. Tolong jangan buang sampah sembarangan, ya!
Bagi saya, mengunjungi Makam Sunan Gunung Jati bukan sekadar berwisata. Rasanya seperti menyambungkan kembali energi batin yang sempat redup. Entah kalian datang untuk berdoa, mengagumi sejarah, atau sekadar mencari ketenangan, tempat ini akan menyambutmu dengan caranya sendiri.
Sudah siap merencanakan Ziarah Cirebon berikutnya?
Selamat menjelajah dan menemukan kedamaian, Teman-teman!
Yuk tonton videonya ๐
Baca juga tentang makam di Sumatera Barat Makam Keramat di Pulau Angso Duo
.
Baca di sini tentang: Makam Sunan Muria di Gunung Muria Masjid Menara Kudus dan Makam Sunan Kudus Jejak Sunan Kalijaga Goa Kreo Semarang
Baca juga:






