Key Takeaways
- Bamboo Rafting di Loksado Kandangan menawarkan pengalaman unik menyusuri Sungai Amandit dengan rakit bambu yang aman dan ramah lingkungan.
- Pengalaman ini mencakup keindahan alam dan interaksi dengan budaya Suku Dayak, membuat setiap momen terasa mistis dan penuh petualangan.
- Sejarah Bamboo Rafting awalnya sebagai moda transportasi, kini menjadi atraksi wisata unggulan di Geopark Meratus, menarik wisatawan domestik dan internasional.
- Untuk menuju Loksado, pilihlah transportasi seperti sewa mobil atau angkutan umum dari Banjarmasin, dengan harga sewa rakit sekitar Rp 300.000 – Rp 350.000.
- Tips penting termasuk memilih waktu terbaik berkunjung dan membawa perlengkapan yang tepat agar pengalaman Bamboo Rafting lebih nyaman.
Pernahkah Teman-teman membayangkan meluncur di atas air jernih berwarna hijau zamrud, membelah hutan hujan tropis purba, hanya beralaskan bilah-bilah bambu?
Jika belum, saatnya memasukkan Bamboo Rafting Loksado ke dalam bucket list liburan kalian. Terletak jauh di jantung Pegunungan Meratus, tepatnya di Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan, pengalaman ini bukan sekadar arung jeram biasa. Ini adalah perjalanan menembus waktu, merasakan denyut nadi kehidupan Suku Dayak Meratus yang menyatu dengan alam.
Bagi saya, perjalanan ke wisata Loksado selalu meninggalkan jejak rindu. Bukan hanya karena adrenalin yang terpacu saat rakit menabrak jeram, tapi karena suasana mistis dan damai yang menyelimuti Sungai Amandit. Mari saya ajak Teman-teman kembali menyusuri kenangan dan panduan terbaru menikmati surga tersembunyi di Kandangan, Kalimantan Selatan ini.
Pesona Balanting Paring: Lebih dari Sekadar Wisata Air
Masyarakat lokal menyebutnya Balanting Paring. Dalam bahasa Banjar dan Dayak, “Lanting” berarti rakit, dan “Paring” berarti bambu.
Perjalanan bamboo rafting Loksado ini biasanya dimulai dari dermaga di Desa Loksado. Saat itu, matahari mungkin terasa terik, namun seketika sirna begitu kaki menyentuh air Sungai Amandit yang dingin dan bening.
Rakit yang digunakan bukan sembarang rakit. Ia terdiri dari 16-20 bilah bambu jenis Paring Banar yang diikat sejajar. Tanpa paku, tanpa mesin. Hanya ikatan kuat dan keahlian sang Joki (pengendali rakit).
Sensasi Menyusuri Sungai Amandit
Berbeda dengan rafting menggunakan perahu karet yang melambung-lambung, naik lanting bambu memberikan sensasi menyatu dengan air. Kita akan duduk manis di Paundanan (tempat duduk di tengah rakit), sementara Joki berdiri gagah di depan, memegang Pinanjak (galah bambu) untuk mengarahkan laju rakit.
Ada momen-momen mendebarkan ketika rakit kami kandas di bebatuan atau tersangkut jeram. Sang Joki harus melompat ke air, mendorong sekuat tenaga. Bahkan kadang, penumpang pun harus ikut turun membantu. Basah? Sudah pasti. Tapi justru di situlah keseruannya!
Di sepanjang perjalanan yang berkelok mengikuti kontur Pegunungan Meratus, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan aktivitas asli suku Dayak. Anak-anak yang mandi sambil tertawa lepas, ibu-ibu yang mencuci pakaian, hingga bapak-bapak yang mengangkut hasil bumi. Jika beruntung dan membawa lensa tele, Teman-teman bisa memotret biawak atau musang yang mengintip malu-malu dari rimbun semak belukar.
Saat hujan turun di tengah pengarungan, suasana berubah drastis menjadi mistis. Aroma sungai menguap ke permukaanโcampuran bau tanah basah, lumut, bunga hutan, dan entah kenapa, kadang tercium aroma manis seperti buah-buahan. Kabut tipis turun perlahan memeluk sungai, membuat wisata alam Loksado ini terasa seperti negeri dongeng.
Sejarah dan Fakta Unik: Dari Transportasi Jadi Wisata Dunia
Sebelum menjadi primadona wisata Kalimantan Selatan, Balanting Paring sejatinya adalah moda transportasi vital.
Jejak Warisan Leluhur
Puluhan tahun lalu, sebelum akses jalan darat terbuka lebar, sungai adalah jalan raya bagi masyarakat Dayak Meratus. Rakit bambu digunakan untuk mengangkut hasil hutan seperti kayu manis, getah karet, dan kemiri (keminting) menuju pasar di kota Kandangan.
Setelah sampai di hilir, bambu-bambu tersebut tidak dibawa kembali ke hulu, melainkan dijual. Jadi, rakit itu sendiri adalah komoditas dagang.
Bagian dari Geopark Meratus
Kini, tradisi tersebut telah bertransformasi. Bamboo rafting Loksado telah diakui sebagai salah satu atraksi unggulan dalam kawasan Geopark Meratus. Pemerintah setempat bahkan rutin mengadakan Festival Bamboo Rafting setiap tahunnya, menarik wisatawan domestik hingga mancanegara untuk merayakan budaya sungai yang lestari ini.
Ini bukan sekadar liburan, tapi juga bentuk dukungan kita pada pelestarian budaya tak benda. Dengan menyewa jasa joki lokal, kita turut memutar roda ekonomi masyarakat adat yang menjaga hutan Meratus.
Cara Menuju Loksado dari Banjarmasin (Update Terbaru)
Bagi Teman-teman yang berasal dari luar pulau, pintu masuk utamanya adalah Bandara Syamsudin Noor di Banjarbaru/Banjarmasin. Dari sana, perjalanan menuju Loksado memakan waktu sekitar 3,5 hingga 4 jam via jalur darat.
Berikut opsi transportasi yang bisa dipilih:
- Sewa Mobil (Rental): Ini cara paling nyaman. Biaya sewa mobil + supir dari Banjarmasin berkisar antara Rp 500.000 – Rp 700.000 per hari (tergantung jenis mobil). Rutenya: Banjarmasin – Banjarbaru – Martapura – Rantau – Kandangan – Loksado.
- Angkutan Umum (Colt L300): Dari Terminal Km 6 Banjarmasin, cari taksi colat (L300) jurusan Kandangan. Setelah sampai di Terminal Kandangan, Teman-teman harus menyambung lagi dengan angkutan pedesaan menuju Loksado. Opsi ini lebih murah tapi memakan waktu lebih lama.
- Bus DAMRI (Perintis): Kabar gembira! Kini terkadang tersedia rute perintis DAMRI yang melayani jalur menuju tempat wisata. Pastikan cek jadwal terbaru di terminal atau aplikasi DAMRI, karena jam operasionalnya bisa berubah.
Tips dan Harga Sewa Bamboo Rafting
Agar liburan Teman-teman ke wisata Loksado Kandangan berjalan mulus, berikut beberapa tips penting:
- Harga Bamboo Rafting Loksado: Tarif sewa rakit saat ini berkisar antara Rp 300.000 hingga Rp 350.000 per rakit. Satu rakit maksimal dinaiki 3 orang penumpang + 1 joki. Harga ini bisa berubah saat musim liburan atau festival.
- Waktu Terbaik: Datanglah saat musim kemarau atau peralihan. Saat musim hujan lebat, debit air Sungai Amandit bisa terlalu tinggi dan berbahaya (banjir bandang), sehingga aktivitas rafting ditiadakan. Namun, jika air terlalu surut, rakit akan sering kandas.
- Pakaian: Gunakan pakaian yang nyaman dan cepat kering (dry-fit). Jangan lupa bawa baju ganti. Sandal gunung lebih disarankan daripada sepatu sneakers.
- Perlindungan: Bawa dry bag untuk mengamankan dompet, HP, dan kamera. Ingat pengalaman saya yang menyesal tidak bawa pelindung kamera? Jangan sampai momen estetik terlewat karena takut gadget basah.
- Tabir Surya & Topi: Meski airnya dingin, matahari Kalimantan bisa sangat menyengat.
- Penginapan: Di Loksado kini sudah banyak tersedia homestay, resort, hingga glamping di pinggir sungai. Salah satu titik finish rafting biasanya di area Tanuhi yang juga memiliki kolam air panas alami.
Bamboo Rafting Loksado adalah bukti bahwa petualangan seru dan ketenangan jiwa bisa didapat dalam satu paket perjalanan. Suara gemericik air, sapaan ramah warga Dayak, dan hijaunya Pegunungan Meratus sedang menunggu Teman-teman.
Jadi, kapan kita balanting bareng?
Punya pengalaman seru atau pertanyaan seputar rute ke Loksado? Tulis di kolom komentar ya, Teman-teman!
Foto-Foto Menyisir Sungai Amandit Balanting Paring
Baca juga cerita wisata lainnya :
- Menziarahi Jejak I-Tsing di Candi Muaro Jambi
- Menjelang Pesta Rakyat Situ Bungur 2014
- Ikan Bakar Masak Habang Rumah Makan Berkat
Baca juga:
Baca juga:
- Baca juga tentangย 4 Manfaat Jalan-Jalanย di sini
Baca juga:





