Pasar Terapung Lok Baintan Banjar – Destinasi ini sejatinya adalah sebuah perjalanan waktu. Ia telah melewati pergantian tahun dan musim, menyaksikan wajah-wajah yang datang dan pergi. Pastinya banyak yang sudah berubah, entah itu lansekap destinasinya maupun lingkungan sekitarnya. Begitu pun kita, para pejalan, yang mungkin uban di kepala sudah bertambah beberapa helai sejak kunjungan pertama.
Namun, demi kecintaan pada travel stories dan keinginan berbagi jejak, cerita perjalanan menyusuri Sungai Martapura ini hadir kembali. Bukan sekadar nostalgia, tapi sebuah panduan hidup bagi Teman-teman yang ingin merasakannya di tahun 2026 ini.
Menjemput Subuh di Sungai Martapura
Kata orang bijak, tujuan traveling bukanlah sekadar tempat, tetapi cara baru kita dalam melihat sesuatu. Saya memeluk erat kata-kata itu—sekaligus merapatkan jaket—saat udara subuh menyelinap masuk ke dalam badan perahu klotok yang hampir tanpa dinding.
Perjalanan ke Pasar Terapung Lok Baintan biasanya dimulai sangat pagi. Usai salat subuh, dermaga di sekitar Menara Pandang Siring atau area Soto Banjar Bang Amat sudah menggeliat. Suara mesin klotok yang menderu pelan membelah keheningan Sungai Martapura adalah musik pembuka hari itu.
Sungai yang berair cokelat ini, dalam remang pagi, terlihat abu-abu misterius. Saat haluan perahu membelah air, aroma khas sungai menguap ke udara. Mungkin bagi sebagian orang baunya asing, tapi bagi saya, aroma lumpur dan air payau ini adalah napas kehidupan Kalimantan.
Langit perlahan berubah warna. Dari gelap, menjadi biru tua, hingga semburat oranye muncul di ufuk timur. Di kiri-kanan sungai, kehidupan mulai beriak. Rumah-rumah panggung kayu (rumah lanting) mulai menampakkan aktivitasnya; ada warga yang mencuci muka, mandi, hingga menggosok gigi di tepian sungai yang sama. Sebuah realitas sosial yang terpampang jujur di depan mata.
Pesona Acil-Acil Pasar Terapung Lok Baintan
Sekitar satu jam perjalanan dari pusat kota Banjarmasin, perahu klotok kami mulai melambat. Kami tiba di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk.
Pemandangan di depan mata sungguh magis. Puluhan jukung (sampan kecil) tanpa cadik bergerak lincah, dikendalikan oleh para perempuan tangguh yang biasa dipanggil Acil. Mereka mengenakan caping lebar (tanggui) dan bedak dingin (pupur dingin) di wajah untuk menghalau terik matahari yang mulai naik.
Transaksi di Atas Air: Barter yang Masih Bertahan
Di sini, hukum ekonomi modern seolah melunak. Meski uang tunai tetap berlaku, tradisi barter atau bapanduk masih bisa Anda temukan sesekali antar pedagang. Jeruk ditukar dengan sayur, pisang ditukar dengan kue.
Barang dagangan mereka didominasi hasil kebun sendiri. Jeruk Banjar yang manis segar, rambutan, sayur-mayur hijau, hingga kue-kue tradisional (wadai) seperti bingka, amparan tatak, dan untuk-untuk. Insting belanja saya langsung meronta. Rasanya ingin memborong semua sayuran segar itu, meski logika melarang karena tidak mungkin membawanya segar sampai ke rumah. Akhirnya, kami membeli buah kupas dan kue untuk dinikmati langsung di atas perahu.
Tips Fotografi: Momen terbaik memotret adalah saat matahari baru muncul (sekitar pukul 06.00 – 07.00 WITA). Cahaya keemasan (golden hour) yang menyinari jukung-jukung yang saling merapat (formasi yang sering disebut bunga teratai oleh fotografer) adalah shot terbaik.
Update Wisata & Panduan Praktis 2026
Bagi teman-teman yang berencana berkunjung tahun ini, berikut adalah informasi terkini yang sudah saya rangkum agar perjalanan Anda lebih nyaman dan budget-friendly.
1. Harga Sewa Klotok Terbaru (2025-2026)
Biaya sewa perahu klotok bervariasi tergantung titik keberangkatan dan negosiasi:
- Dari Dermaga Siring/Pusat Kota: Sekitar Rp 450.000 – Rp 500.000 per kapal (pulang-pergi). Kapasitas bisa muat 10-15 orang, jadi sangat disarankan untuk sharing cost dengan teman atau traveler lain.
- Dari Dermaga Soto Bang Amat/Benua Anyar: Sekitar Rp 300.000 – Rp 400.000. Jarak tempuh lebih dekat dibanding dari Siring.
- Open Trip: Banyak operator wisata lokal kini menawarkan paket open trip perorangan dengan harga kisaran Rp 75.000 – Rp 100.000 per orang jika Anda traveling sendirian.
2. Waktu Terbaik Berkunjung
Pasar ini sejatinya buka setiap hari, namun Jumat, Sabtu, dan Minggu adalah hari paling ramai.
- Jam Buka: Mulai pukul 05.00 WITA.
- Jam Bubar: Sekitar pukul 08.30 – 09.00 WITA pedagang sudah mulai pulang. Jangan datang kesiangan!
3. Festival Pasar Terapung
Pemerintah Kabupaten Banjar kini rutin mengadakan Festival Pasar Terapung Lok Baintan. Terakhir digelar meriah pada November 2025. Jika Anda ingin melihat formasi jukung yang sangat banyak dan atraksi budaya, cobalah cek jadwal festival tahunan ini sebelum memesan tiket pesawat.
Kuliner Legendaris: Soto Banjar Bang Amat
Perjalanan pulang dari pasar terapung rasanya hambar jika tidak mampir ke Soto Banjar Bang Amat di Benua Anyar. Lokasinya persis di tepi sungai, bahkan kita bisa memarkir klotok langsung di dermaga restorannya.
Soto Banjar di sini memiliki kuah yang rich namun tetap ringan. Gurih kaldu ayam kampung berpadu dengan aroma rempah (kayu manis dan kapulaga) yang kuat. Seporsi soto berisi ketupat, bihun, suwiran ayam, dan separuh telur (biasanya telur bebek), lalu dikucuri jeruk nipis. Segar!
- Harga Update 2026: Siapkan budget sekitar Rp 35.000 – Rp 40.000 per porsi. Jangan lupa pesan Sate Ayam bumbu kacangnya yang juga juara, sekitar Rp 15.000 untuk 5 tusuk. Ditemani iringan musik Panting (musik tradisional Banjar) yang sering dimainkan live di sana, sarapan ini menjadi penutup perjalanan yang sempurna.
Refleksi: Akankah Terus Bertahan?
Melihat acil-acil yang semakin tua dan generasi muda yang mungkin lebih memilih bekerja di darat, kekhawatiran itu tetap ada. Apakah pasar terapung ini akan bertahan 10 atau 20 tahun lagi?
Pasar Terapung Lok Baintan bukan sekadar objek wisata; ia adalah nadi kehidupan masyarakat sungai yang sudah berdenyut ratusan tahun sejak zaman Kesultanan Banjar. Walaupun kini fungsinya bergeser menjadi atraksi wisata, keberadaan kita sebagai pengunjung yang membeli dagangan mereka adalah salah satu cara merawat tradisi ini agar tetap hidup.
Jadi, jika Anda ke sana, jangan hanya memotret. Belilah dagangan mereka. Sebungkus kue atau seikat rambutan mungkin receh bagi kita, tapi bagi mereka, itu adalah alasan untuk kembali mengayuh sampan esok hari.
Selamat menjelajah Borneo!
Foto-Foto Pasar Terapung Lok Baintan
Baca juga –> Masjid Jami Air Tiris Kampar Riau
Sungai Martapura – Menuju Pasar terapung Lok Baintan Banjar
Baca juga –> Foto Matahari Terbit di Tempat Wisata Eksotis
Pasar Terapung Lok Baintan Setua Kerajaan Banjar
Hari Pasar di Lok Baintan
Baca juga Goyang Lidah Dengan Kuliner Lokal di Night Market Phnom Penh
Wisata Susur Sungai Martapura
Baca juga:













