
Renungan menyambut 2016 rasanya tak lengkap jika saya tidak membahas resolusi. Meski jujur saja, saya lebih sering mengeksekusi jauh lebih sedikit dari apa yang sudah terlanjur ditulis. Tapi pertama-tama izinkan saya mengucap salam pada Sobat JEI. Selamat datang di lorong waktu yang baru! Tulisan ini merangkum sekilas isi kepala tentang bagaimana saya menikmati pergantian tahun, menghapus memori lama, dan niat untuk terus berkembang bersama blog kesayangan ini.
Saya juga menyinggung sedikit realita menjaga kewarasan berbisnis, hingga rencana tipis-tipis soal gym dan tumpukan buku. Mari kita nikmati perjalanan setahun ke depan bersama-sama, ya teman-teman!
Renungan Menyambut 2016 di Atas Meja Kerja

Sudah tanggal lima saja, dan belum ada postingan baru yang mengudara di Jurnal Evi Indrawanto ini. Memang harus diakui tidak ada tradisi resolusi yang kaku di blog ini. Karena resolusi yang saya buat lebih sering berakhir menjadi ilusi semata ketimbang diujudkan ke dalam realita.
Jadi ya, begini saja cara saya menandai pergantian tahun. Saya cukup menaruh kalender baru bertema pariwisata di atas meja kerja. Lalu menuliskan sedikit catatan di blog ini.
Melihat pemandangan indah jelas jauh lebih menyejukkan mata daripada menatap gambar iklan komersial. Atau membaca tentang berita politik. Lebih baik merawat kalender fisik dan mencoretnya untuk menandai hari libur yang saya rasa lebih bermanfaat. Bahkan kelakuan saya ini ada penjelasannya ilmiahnya lho!
Menurut studi neurosains, menulis dan menandai target secara manual di atas kertas mampu mengaktifkan Reticular Activating System (RAS) pada otak kita. Otak secara otomatis menjadi lebih fokus menyaring informasi yang relevan dengan tujuan tersebut.
Jadi, baiklah! Mari kita pancing mimpi-mimpi indah di awang-awang agar segera turun ke bumi. Siapa tahu, tahun ini kaki saya benar-benar bisa menginjak lokasi wisata seperti gambar-gambar di kalender itu.
Menyediakan Ruang Tumbuh dan Berkembang Bersama Blog
Duduk manis di depan komputer ditemani alunan biola Vanessa Mae, saya menengok kembali perjalanan di tahun 2015. Rasanya tidak ada prestasi yang kelewat mentereng. Saya sudah tidak begitu antusias mengikuti lomba, jadi tak ada piala yang bisa dipamerkan. Kopdar sesama blogger pun berkurang drastis. Namun, saya mensyukuri proses pelan untuk berkembang bersama blog ini.
Satu hal yang paling saya sesali adalah minat baca buku yang kian mengering. Mengapa konsentrasi membaca buku kian susah, sementara menonton drama Korea berjam-jam ditemani Pie Susu Bali terasa begitu mudah?
Jawabannya ternyata bersembunyi pada hormon dopamin. Layar visual yang bergerak cepat menyajikan lonjakan dopamin instan. Rupanya otak saya perlahan terbiasa dengan hiburan cepat saji dan mudah terdistraksi saat dihadapkan pada teks statis.
Ohya, meski kehidupan ngeblog tahun lalu terasa agak kelam, saya tetap merasa bahagia. Mengapa? Sebab setelah Drakor, saya punya lebih banyak waktu untuk jalan-jalan dan berdialog mesra dengan diri sendiri.
Baca juga:
Menjaga Realita Bisnis dan Bunga-Bunga Kehidupan
Bunga-bunga kehidupan memang tak selalu mekar merekah. Namun, jika Sobat JEI memfokuskan mata pada keindahannya, semua akan tampak menawan. Di dunia entrepreneurship, saya terpaksa terus memacu diri. Saya selalu mencari motivasi harian agar tenaga tetap terisi penuh demi melancarkan bisnis suami di ARENGA Indonesia.
Saya sadar betul, kerajinan bekerja di ARENGA Indonesia memegang peranan krusial. Kelancaran administrasi berkaitan langsung dengan asap dapur, kelangsungan pendidikan anak-anak, tanggung jawab sosial, hingga tabungan traveling masa depan.
Riset dari Harvard Business Review bahkan menegaskan bahwa sistem administrasi yang tangguh adalah tulang punggung bertahannya sebuah bisnis rintisan keluarga.
Jadi, saya merangkap tugas dengan senang hati. Saya mengatur keuangan, membuat tagihan, menjadi debt collector, hingga mengepel kantor sendirian. Hasilnya sungguh manis. Alhamdulillah, pelanggan terus bertambah dan produk ARENGA kini makin mudah warga temukan di berbagai supermarket area Jakarta.
Jangan Jadi Daun Kering di Atas Sungai
Sebagai seorang dengan kepribadian sanguis sejati, saya adalah perencana yang sangat buruk. Saya lebih suka berimprovisasi dengan kejutan masa kini. Hidup mengalir seperti air terasa lebih puitis di telinga. Mengalir cantik selagi situasi menyenangkan, dan berbelok anggun saat keadaan mengharuskan.
Namun, realita sosial dan logika tak membiarkan manusia mengalir tanpa arah. Kita harus mengambil alih kemudi dan menjadi kapten untuk kapal nasib sendiri. Apalagi jika di dalam kapal itu kita membawa nasib orang lain.
Menurut psikologi kepribadian, individu sanguis memang menyukai spontanitas yang tinggi, tetapi mereka tetap membutuhkan struktur minimal agar tak kehilangan arah. Jika Sobat JEI tidak membuat rencana sendiri, bersiaplah untuk dimasukkan ke dalam rencana orang lain. Sungguh terdengar mengerikan, ya?
Sebenarnya tugas saya lebih mudah. Karena untuk urusan bisnis, suami sudah menyiapkan agenda yang rapi jali. Saya tinggal mengeksekusinya saja. Tak ada yang perlu dikeluhkan.
Rencana Sederhana agar Terus Berkembang
Lalu, bagaimana dengan rencana pribadi? Rasanya campur aduk. Saya bisa saja diam tak merencanakan apa-apa, tapi saya pasti akan membusuk pelan-pelan di zona nyaman.
Untuk urusan ngeblog, saya akan membiarkannya mengalir saja. Saya tetap menulis selagi ada dorongan batin. Toh, walau tanpa janji muluk, saya terbukti mampu berkembang bersama blog ini secara konsisten. Tahun lalu saja, lebih dari 100 tulisan tentang traveling sukses tayang dan semoga bisa menghibur pembaca yang mampir ke sini.
Target perbaikan utamanya justru ada di sektor kesehatan fisik. Saya harus memompa semangat agar kembali rajin mengunjungi gym. Kemalasan dan banyak jalan-jalan membuat stamina saya anjlok tajam. Secara medis, massa otot dan tingkat metabolisme memang akan menurun drastis jika kita kurang bergerak, yang pada akhirnya memicu kenaikan berat badan. Ini sama sekali tidak boleh saya biarkan selama 2016!
Untuk urusan literasi, saya mematok target yang cukup ringan. Saya usahakan menamatkan dua buku dalam sebulan. Majalah bulanan yang rutin datang juga harus saya baca secara layak. Sayang sekali jika selama ini mereka hanya transit sejenak di rumah sebelum berlabuh ke tukang loak. Mari kita nikmati puncak pemekaran diri kita sebelum semuanya menguncup dan menua.
Selamat datang 2016, mari ukir cerita baru!
