
Key Takeaways
- Keraton Pakungwati Kasepuhan Cirebon adalah situs bersejarah yang dibangun pada tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuana.
- Situs ini menyimpan banyak kisah, termasuk hubungan Ratu Ayu Pakungwati dan Sunan Gunung Jati yang memperluas wilayah Cirebon.
- Walaupun terabaikan, reruntuhan di dalam kompleks keraton menawarkan pengalaman magis seolah kembali ke masa lampau.
- Untuk mengunjungi Keraton Pakungwati, gunakan transportasi seperti kereta api atau mobil pribadi dan patuhi aturan adat setempat.
- Harga tiket masuk sangat terjangkau, dan disarankan untuk menyewa pemandu wisata agar tidak melewatkan detail sejarah.
Selamat datang kembali, Teman-teman! Pernahkah kalian merasa seperti ditarik lorong waktu saat menginjakkan kaki di sebuah situs tua? Perasaan magis itulah yang menyergap saya saat mengunjungi Keraton Pakungwati atau yang sering disebut Dalem Agung Pakungwati. Ini bukan sekadar tumpukan bata merah, melainkan cikal bakal Istana Kasepuhan Cirebon yang menyimpan jutaan cerita.
Jika Teman-teman berencana melakukan perjalanan sejarah ke Cirebon, artikel ini saya tulis khusus untuk kalian. Mari kita bedah tuntas mulai dari sejarah, misteri, hingga panduan praktis cara menuju ke sana agar perjalanan kalian lebih nyaman dan bermakna.
Jejak Sejarah Keraton Pakungwati: Sang Cikal Bakal
Keraton Pakungwati Kasepuhan Cirebon atau Dalem Agung Pakungwati adalah akar dari kemegahan Kesultanan Cirebon. Kompleks ini dibangun oleh Putera Mahkota Pajajaran, Pangeran Cakrabuana, pada tahun 1430. Namun, ada sisi menarik dari sejarah ini. Tak lama setelah membangunnya, Pangeran Cakrabuana (atau Walangsungsang) menyerahkan keraton ini kepada putrinya yang jelita, Ratu Ayu Pakungwati.
Nama putri cantik inilah yang kemudian abadi sebagai nama Keraton Pakungwati, kerajaan Islam pertama di Jawa dan situs tertua di Cirebon.
Kisah berlanjut ketika Ratu Ayu Pakungwati menikah dengan sepupunya, Syarif Hidayatullah, yang kita kenal sebagai Sunan Gunung Jati. Kepemimpinan pun beralih ke sang suami. Pada tahun 1479, Sunan Gunung Jati memperlebar area keraton ke arah barat. Dari titik inilah, negara Cirebon tumbuh menjadi kerajaan Islam yang sangat berpengaruh di sepanjang pantai utara Jawa.
Menelusuri Reruntuhan di Dalam Komplek Kasepuhan Cirebon

Walau nama Keraton Pakungwati sering disebut dalam buku sejarah, sisa reruntuhannya tampaknya tak banyak dikunjungi wisatawan umum. Kebanyakan orang yang wisata ke Keraton Kasepuhan lebih fokus pada istana utama yang memang masih megah dan terawat. Jujur saja, saat mencari referensi foto reruntuhan ini di internet pun cukup sulit.
Saat saya berkesempatan masuk ke situs purbakala ini, jantung rasanya berdegup kencang. Bukan takut, tapi excited! Rasanya benar-benar seperti masuk ke mesin waktu, membayangkan anggota kerajaan yang baru berdiri itu berlalu-lalang di sini ratusan tahun silam.
1. Petilasan Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati

Di sebelah kiri situs, terdapat ruang terbuka yang terhubung oleh pintu dengan aksara Arab di atasnya. Inilah Petilasan Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati. Di dalamnya, terdapat Sumur Kejayaan.
Masyarakat setempat percaya air dari sumur ini memiliki khasiat. Orang-orang menggunakannya untuk berbagai ritual, seperti siraman widodareni, nujuh bulanan, membangun rumah, atau syareat tertentu lainnya. Dulunya, sumur ini berfungsi sebagai tempat mengambil wudhu.
Namun, ada satu hal yang membuat saya agak sedih. Perempuan dilarang masuk ke area inti petilasan ini. Saya hanya bisa melongokkan kepala dari luar, itu pun sudah membuat pemandu wisata saya ketakutan. Padahal, di dalamnya hanya ada beberapa gazebo. Tapi ya sudahlah, kita wajib menghormati aturan adat setempat. Saya juga tidak mau kualat, he-he.
Sebagai solusinya, kaum wanita yang ingin mengikuti acara seperti Maulid Nabi biasanya menunggu di bangunan bernama Paseban, yang terletak di muka petilasan. Selama bulan Ramadan, tempat ini juga sering ramai untuk tadarus Al-Qur’an.
2. Misteri Sumur Upas dan Sumur Bandungan

Masuk lebih dalam, Teman-teman akan menemukan Sumur Upas atau Sumur Soka. Sumur ini unik karena berada di bawah pohon soka yang bunganya langsung keluar dari batang kayu, bukan di ujung ranting. Sayangnya, sumur ini sekarang sudah tidak digunakan karena mengeluarkan gas berbahaya. Konon, dulu sumur ini berfungsi sebagai mulut lorong rahasia menuju ke tempat yang dirahasiakan.
Selain itu, ada sumur yang dianggap lebih keramat, yaitu Sumur Agung atau Sumur Bandungan. Hingga detik ini, air dari sumur tersebut masih menjadi incaran para peziarah yang ingin ngalap berkah.
3. Reruntuhan Taman Sari

Pemandu wisata yang saya sewa khusus (karena saya sempat “kabur” dari rombongan besar) kemudian menunjukkan bekas reruntuhan Taman Sari. Ini adalah tempat pemandian putri-putri istana zaman dahulu.
Kalau saya perhatikan, Keraton Pakungwati awal ini lebih mirip rumah besar yang hangat ketimbang istana kerajaan yang kaku. Taman sarinya pun mungil. Sayangnya, bentuk aslinya kini sulit kita bayangkan secara utuh karena banyak tambalan perbaikan yang terlihat agak dipaksakan.
Contohnya, dinding bata merah yang mengelilingi Sumur Bandungan tampak menutup separuh mulut gua buatan pada situs aslinya. Saat saya mengintip ke dalam, terlihat mulut gua mungil yang masih berair, sisa kejayaan taman sari masa lalu.
Menjelang keluar, saya sempatkan mengagumi susunan bata merah yang menjadi pagar kompleks. Hebatnya, pagar ini disusun tanpa semen! Para arsitek masa lalu mengaturnya secara matematika agar bata yang satu mengikat yang lain. Entah perekat apa yang mereka gunakan, tembok itu masih kokoh hingga hari ini.
Baca juga:
Panduan Wisata dan Informasi Terbaru 2026
Bagi Teman-teman yang ingin napak tilas sejarah ini, berikut adalah hasil riset terbaru saya mengenai kondisi, akses, dan biaya perjalanan ke sana.
Lokasi dan Rute Menuju Keraton Kasepuhan Cirebon
Secara administratif, situs ini terletak di Jalan Kasepuhan No. 43, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.
- Menggunakan Kereta Api: Ini cara paling nyaman. Teman-teman bisa turun di Stasiun Cirebon (Kejaksan) atau Stasiun Cirebon Prujakan. Dari stasiun, jaraknya hanya sekitar 3-4 km. Kalian bisa memesan ojek online atau taksi dengan biaya sekitar Rp15.000 – Rp25.000.
- Menggunakan Mobil Pribadi: Jika berangkat dari Jakarta, gunakan Tol Trans Jawa (Tol Cikopo-Palimanan). Waktu tempuh normal sekitar 2,5 – 3 jam. Keluar di Gerbang Tol Plumbon atau Ciperna, lalu ikuti Google Maps menuju “Keraton Kasepuhan”.
Harga Tiket Masuk Keraton Kasepuhan (Update 2026)
Berdasarkan pantauan terbaru, harga tiket sedikit mengalami penyesuaian namun masih sangat terjangkau:
- Tiket Masuk Reguler: Rp15.000 – Rp20.000 per orang.
- Paket Terusan (Museum Pusaka + Dalem Agung): Sekitar Rp25.000 per orang.
- Jasa Pemandu Wisata (Guide): Sangat disarankan! Biayanya sukarela, namun umumnya wisatawan memberi sekitar Rp50.000 – Rp75.000 per grup. Tanpa guide, Teman-teman mungkin akan melewatkan detail sejarah penting seperti cerita Sumur Upas tadi.
Jam Operasional
Kompleks keraton buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari sekitar pukul 09.00 agar tidak terlalu panas saat berkeliling area reruntuhan yang terbuka.
Tips Tambahan untuk Pengunjung
- Pakaian Sopan: Karena ini adalah situs sejarah dan religi, kenakanlah pakaian yang sopan dan tertutup.
- Hormati Aturan Adat: Seperti yang saya alami, ada area khusus yang tidak boleh dimasuki wanita (terutama yang sedang berhalangan). Patuhi instruksi abdi dalem atau pemandu.
- Bawa Uang Tunai: Beberapa loket atau donasi di area sumur keramat biasanya lebih mudah menggunakan uang tunai.
Bukankah reruntuhan Keraton Pakungwati ini menarik, Teman-teman? Mengunjunginya bukan hanya soal liburan, tapi juga merawat ingatan kita tentang sejarah besar bangsa ini.
Salam,
Evi Indrawanto
Baca juga:



