Cap Gomeh : Nonton Parade Tatung di Singkawang

Jangan tiru adegan ini di rumah

Cap Gomeh diperingati oleh masyarakat  Tionghoa tiap tanggal 15 setelah Imlek. Di Indonesia biasanya ditandai oleh berbagai festival. Pemda Kab. Tangerang tiap tahun membuat Festival Cisadane dengan mengadakan lomba perahu naga. Namun tahun ini saya mengalihkan pandang Ke  Singkawang – Kalimantan Barat. Karena di tempat inilah Festival Cap Gomeh berlangsung paling meriah, paling unik dan konon tak ada duanya di dunia.

Acara sudah berlangsung sejak tiga hari sebelumnya. Namun puncaknya terjadi tanggal 6-2-2012 dengan diadakannya parade Tatung di pusat kota Singkawang. Ditengah kemeriahan itu rasanya tak seperti sedang  di Indonesia. Sekalipun Singkawang dijuluki Hongkong-Indonesia, pada panas terik siang itu menurut saya Singkawang tak mirip kota manapun. Mungkin juga karena pertama kali melihat acara ini. Jalan merah oleh  lampion, ribuan lampion, kibaran panji warna-warni dan pengunjung yang membludak tak terkira. Itu memicu adrenalin yang membuat dada berdebar.

Tatung adalah seseorang yang badannya kerasukan dewa atau roh leluhur. Sebelum parae di mulai, sehari sebelumnya mereka membuat upacara bersih jalan yang akan di lalui serta minta ijin kepada para dewa dan roh leluhur di klenteng. Tujuannya agar upacara hari itu berjalan mulus. Membersihkan jalan bukan dengan menyapu tapi meyakinkan bahwa besok tak ada kekuatan mistik yang mengganggu. Maklum mereka akan memperagakan bermacam ilmu kebal, kalau di ganggu mungkin tatung akan kena sesuatu yang tak diinginkan.

Ini juga jangan ditiru

Awal-awal muncul sih biasa-biasa saja. Lelaki dan perempuan mengenakan busana tradisional china. Merah, kuning, pink dan hijau. Tapi eh makin lama makin ekstrim. Ada yang duduk diatas paku, berdiri gagah diatas pedang runcing, main-main dengan ular, dan yang paling menyeramkan adalah ada mulut  yg ditusuki dengan bilah-bilah kayu panjang. Diantara ada yang lucu, menusukan beberapa jeruk bali di bilah yang mencuat dari mulut mereka.

Tatung perempuan

Dulu saya masuk pasukan ‘sok2an” gak percaya ilmu mistik. Suka skeptis kalau diceritakan bahwa ada orang yang sanggup makan beling. Tapi untung gak takabur dan pelaku ilmu mistik gak ada yang tahu. Saya insap etelah nonton debus langsung suatu ketika di TMII. Biar lah Amerika sukses meluncurkan Hubble yg sudah berkelana ke sudut alam semesta, tapi di Indonesia masih ada kekuatan mistik. Dan masih banyak orang percaya dan mempraktekannya.

Ditambah lagi kemarin melihat attraksi para tatung ini, benaran logika  jadi mati. Lah kok bisa duduk diatas paku-paku runcing tanpa pantatnya tertembus. Kalau tidur diatas paku rata statis sih gak aneh, lah ini sambil di usung? Goyang kiri kanan, kadang naik-kadang turun, tergantung kekuatan para pengusung. Medan duduk tak stabil tapi mereka tak tertusuk paku? Ckck..Belum lagi telapak kaki nancap diatas pedang dan sambil di bawa jalan pula? Gila saja kalau gak percaya mereka punya ilmu kebal. Terus muka di tusuki begitu tanpa rasa sakit?

Menghisap darah hewan langsung dari sumbernya

Dan satu lagi, ini, saya gak tahan dan hampir muntah melihatnya. Tatung juga memangsa hewan hidup, menghisap darahnya langsung dari leher seekor anjing dan ayam yang baru saja di potong. Wekkk..

Merah dan kepala manusia di mana-mana

Kawan tahu, tradisi tatung itu berasal dari China namun di negara asalnya sendiri tatung sudah punah. Tapi di Singkawang dan di kantong-kantong Pecinan Indonesia, tatung masih lestari. Mungkin setelah ini akan tambah besar karena Pemda Kalimantan Barat  akan membuat acara serupa lebih besar tahun besok. Agenda tahunan ini ternyata menyedot ribuan turis, gak hanya lokal, Indonesia bahkan manca negara.

Yang dipikul

Hebatkan Indonesia?

Gimana kawans, ada yang pengen ke Singkawang tahun besok?

Salam,

— Evi

 

43 thoughts on “Cap Gomeh : Nonton Parade Tatung di Singkawang

  1. Wuaa…ngeriii…. kaya’nya gak sanggup nonton langsung deh mbak… 🙁
    Tapi..salut deh sama mereka..dan juga pada mbak yg berhasil mengabadikannya dalam gambar2 apik ini…
    Oya, kata Tatung kalau di keluarga kami adalah panggilan untuk alm ayah dari cucu2nya..berasal dari kata (eyang) kakung, hehe… sebagaimana Yang Uti adalah panggilan untuk ibu.. *maaf, OOT nih* 🙂

    1. Iya Mbak Mechta, suguhan parade ini emang banyak di luar kebiasaan..Saya mulai dari shock sampai tenang lagi terus shock lagi. Mbah Tatung dan Mbah Tuti hidup rukun ya Mbak 🙂

  2. uniiiii… klo yg tusuk benda tajam, aku masih tahan lihatnya.
    tapi klo isep darah.. serem banget… hedeehhh.

    uni jalan-jalan melulu nih..
    aku kapan diajak 😛

    1. Iya yg ngisap darah itu termasuk sadis..Tapi konon itu sdh rada lebih halus..Gak tahu deh gimana lebih sadisnya lagi, mungkin nyekek ular kali ya May hehehe..Ayo deh kapan kita jalan2 bareng 🙂

  3. selalu kagum dengan foto yang di shoot langsung dari bunda..
    ketika mampir ke sini langsung ngeri sekaligus takjub, fotonya keren, orangnya keren, budayanya keren..
    tapi….
    takutttt….

    1. Tatung itu sebuah cara hidup yg sangat berbeda dr orang Indonesia kebanyakan. Kita gak terbiasa, jd wajar aja kalo ngeri Tina 🙂

  4. Di Manado juga Cap Go Meh masih dirayakan seperti ini, mbak dan masih pake tatung-nya (kalo kami lebih kenal sebutannya dengan Tang Sin). Beberapa tahun lalu pernah ada kejadian, ada seorang Dotu (tua2 Minahasa yang umumnya dipercaya memiliki kekuatan gaib) yang tidak diharapkan tiba2 datang saat tatung lagi memamerkan aksinya, si tatung kalah sampe luka parah…serem!

    Yang paling aku suka dari festival ini sebenarnya adalah arak2an mobil yang suka dibikin bentuknya kayak teratai trus ada dewi2nya kayak Dewi Kwan Im gitu, mbak, dan biasanya yang jadi dewi tuh anak cewek yang masih muda belia…cantik banget deh liatnya 😀

    1. Gangguan semacam itu tampaknya yg menakutkan bagi Tatung Jeng.

      Dalam carnaval ini jg ada arakan2 kereta cantik sprt yg di Manado. Aku jg berhasil motretnya tp emang gak ditampilin disini, gak serem hehe.

  5. Btw, mbak, tapi aku gak tahan deh liat yang isap darah itu. Keknya blom pernah liat yang kayak gitu di manado…mbak Evi apa gak pingsan ya waktu moto itu? 😀

    1. Pertama2 sih keleyengan, lama2 yah biasa. Habis parade ekstrim begitu, bikin otak menyesuaikan diri Jeng Lis. Mualnya aja yg gak hilang 🙂

  6. keren Bu Ev photo photonya..
    tatung mirip debus ya Bu..?
    acungan jempol buat pemda Kalbar, moga aja acara tatung yang di rencanakan tahun depan di gelar dengan lebih besar akan berjalan sesuai rencana

    1. Seni kebalnya kayaknya emang mirip debus Kang Yayan. Iya semoga Kalbar sukses dng agenda tahunan ini. Kemarin itu kan banyak sekali uang yg masuk ke sana

  7. Hebat mbak, saya sampe merinding hanya dengan baca dan lihat foto di posting mbak Evi ini…
    Saya belum pernah acara unik kayak gini mbak, mungkin karena saya terlalu penakut, jadi ada yang serem-serem di TV aja udah langsung ganti channel 😉

    1. Mungkin itu jg yg jadi sebab, pd festival cap go meh ini Singkawang begitu ramai, mb Irma. Orang ingin melihat sesuatu yg belum pernah dilihatnya:)

  8. wedow mbak, antraksi cap gomehnya, serem juga,
    debus aja gak pernah lihat.
    tetapi yang namanya Budaya tetap membuat berdecak kagum.

    1. Betul Bro. Di tempat asalnya Tatung sdh punah, namun di Indonesia msh bertahan. Itu yg nambah kekayaan pd budaya kita

    1. Orang jawa kaya bahasa, nemu aja istilah untuk menamai sesuatu. Mengenai gak bs makan, asal melupakannya saat makan, pasti bisa P Mars haha..

  9. Itu toh yang namanya Tatung… menyeramkan…
    aku mau lihat barongsai aja deh

    hebat betul ya, di negara asalnya udah nggak ada, tapi di Singkawang masih terjaga

    1. Kita kan selalu menyimpan kenangan terhadap tanah leluhur Mbak Mon. Mungkin suku Tionghoa yg di Singkawang tak terkuali, sebagai kenangan terhadap tanah leluhur, beberapa budaya tetap mereka jaga..Akhirnya saat di tanah leluhur budaya tsb tak digunakan lagi sementara di kita tetap bertahan 🙂

  10. Whuaaaa…
    mba Eviiii…kenapa postingan kali ini horor sekali sih mbaaaa…
    aku gak kuaaaaat…

    Kebayang kalo nonton langsung..*bergidik ngeri*
    langsung ngumpet di dada abah aja deh…hihihi…

    1. Hahahaha..nemplok di dada Abah tapi sesekali tetap ngintip dari jejari yg dibuka lebar ya..Namanya juga si Bibi banyak akalnya…

  11. Wahhhhhh mbakkkkk ngeriiiii…saya buka pas ada anak saya, saya langsung lari ke komentar heeeee….dia nanya…Pa foto yang tadi, saya jawab, udah hilang heeee

    1. Hehehe…Sebetulnya tadi gak berminat posting Bli..tapi harus, agar posting tentang Tatung tersebut meluncur ke bawah. Sekarang diatas sdh ada tentang di Dreamcather, kalau kebetulan buka dekat anak-anak lagi. Maaf telah mengagetkan anak-anak ya Bli 🙂

  12. huuuuuuuuuu…..asli , aku gak baca tulisannya …. hiks 🙁
    begitu liat gambar diatas langsung ngeri dan mulesss…………. 🙁
    salam

  13. budaya indonesia memang beranekaragam. atrksinya luar biasa keren abis, menurut saya gak ada tontonon ngeri, Soalnya saya pecinta Film pembunuan/utilasi seperti film “Invitation Only”

    1. Iya begitu lah Mas Tandho, segala sesuatu dilihat menurut sudut pandang kita. Ada yang seram nonton pertunjukan seperti ini dan ada pula yang tidak 🙂

  14. Ping-balik: Festival Cap Go Meh dan Tabu-Tabunya | Jurnal Transformasi

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?