Sobat JEI, Jiuzhaigou National Park bukan sekadar destinasi liburan biasa, melainkan bukti nyata bahwa surga bisa jatuh ke bumi. Bagi kalian yang memimpikan pengalaman Wisata Jiuzhaigou yang paripurna, tempat ini menawarkan perpaduan sempurna antara legenda romantis dan keajaiban geologi di Lembah Sembilan Desa. Artikel ini akan mengupas tuntas keindahan alam yang membuka mata, rute perjalanan, harga tiket, hingga tips khusus bagi turis asing agar liburan berjalan mulus.
Mitos dan Sains di Balik Lembah Sembilan Desa
Keindahan tempat ini bermula dari sebuah legenda rakyat Tibet yang menyentuh hati. Alkisah, seorang pemuda bernama Dage jatuh cinta pada Dewi Langit, Woluo Semo. Dage tidak memberikan cincin emas, melainkan cermin dari angin dan awan. Sayangnya, roh jahat mengganggu hubungan mereka hingga yang membuat Semo ketakutan dan menyepak cermin tersebut pecah menjadi 114 keping. Pecahan berkilau inilah yang jatuh ke bumi dan membentuk danau-danau jernih di kawasan ini.
Namun, sains punya penjelasan yang tak kalah memukau. Menurut para ahli geologi, Lembah Sembilan Desa (arti harfiah dari Jiuzhaigou) terbentuk dari aktivitas glasial dan hidrologi selama ribuan tahun.
Warna biru danau yang Sobat JEI lihat bukan sihir. Fenomena ini terjadi karena tingginya konsentrasi kalsium karbonat di dalam air. Sebuah studi limnologi menjelaskan bahwa partikel-partikel kecil ini menghamburkan cahaya biru dan hijau dari spektrum matahari (efek Tyndall), membuat air tampak seperti permata cair. UNESCO pun mengakui keunikan ekosistem ini dengan menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1992.
Taman nasional JiuZhaigou Tempat Indah Ilham Dari Cerita Rakyat
Setidaknya begitu lah cerita Rakyat Tibet mengenai asal muasal Lembah Jiuzhaigou yang terletak di Barat Daya China ini. Terhampar seluas 72.000 hektare dengan ketinggian 4.800 meter dari permukaan laut. Bertengger dengan tenang di Pegunungan Min Shan.
Bila musim dingin ia akan membeku memutihkan apapun dengan salju. Musim semi Lembah Jiuzhai bertransformasi jadi kebun bunga dengan danau-danau berair jernih seperti cermin.
Sementara Lembah Jiuzhai sendiri secara harfiah berarti “Desa Sembilan Lembah”, mengikuti sembilan desa Tibet yang tersebar di seluruh taman. Penduduk setempat menyebutnya Haizi.
Juli Liburan Musim Panas di Cina
Matahari pagi bulan Juli meluncur dari sela tajuk pohon willow dan pinus. Bulatan-bulatan cahaya dari tajuk pepohonan itu jatuh ke atas payung pengunjung yang sedang antri membeli tiket masuk ke kawasan Taman Nasional Jiuzhaigou.
Baca juga Wisata Chengdu dan Surga di Sekitarnya
Permukaan licin dari payung warna-warni itu menyebarkan cahaya ke segala arah membentuk gerimik seperti pelangi di tengah gerimis. Rasanya seperti memandang seorang bayi dari surga saat cahaya lembut itu jatuh ke atas wajah seorang bayi yang tertidur damai dalam bedong instant di depan tubuh ibunya.
Saya memenuhi paru-paru dengan udara bersih. Sekalipun matahari sudah tertawa sejak tadi, pukul delapan saat itu saya belum melepaskan baju hangat karena hawa tetap dingin. Dalam benaman ratusan kepala manusia saya mengedar pandang sekeliling. Tak terlihat apa-apa selaian wajah-wajah yang sedang menikmati liburan namun asyik dengan pikiran dan aktivitas masing-masing.
Baca juga Perjalanan Menakjubkan Chengdu-Jiuzhaigou – Meliuk di Punggung Naga
Tahu bahwa Juli adalah awal libur musim panas rakyat Tiongkok. Tahu juga bahwa mereka menyebut Jizhaigou yang telah ditasbihkan UNESCO sebagai warisan dunia tahun 1992 ini sebagai sepotong surga yang wajib dikunjungi minimal satu kali seumur hidup.
Namun tak menyangka kerumunan massa di depan pintu masuk sedemikian dahsyatnya. Mungkin mencapai seribu orang. Dan ini masih pagi.
“ Ini China, mama. Tahu berapa milyar penduduknya?” Bisik anak saya saat saya mengeluh bahwa kami datang bukan di musim yang tepat. “ Dan kita datang di saat yang tepat.” Tambahnya lagi.
Masih mengerutu dalam hati karena tidak tahan berdesakan tour guide kami akhirnya datang menyelamatkan. Di tangannya sudah terganggam segepok tiket. Ternyata pengelola Taman Nasional Jiuzhaigou menyediakan jalur khusus untuk turis asing. Senang juga karena tak perlu terlalu lama berdesakan dalam barisan ribuan manusia.
Berkeliling di Taman Nasional Jiuzhaigou Naik Bus atau Jalan Kaki
Ada dua pilihan dalam mengeliling Lembah Jiuzhaigou. Berjalan kaki atau naik bus. Mengingat luasnya Lembah Sembilan Desa ini pengelola memang menyediakan bus hop on hop off. Jangan kuatir lalu lintas kendaraan tidak akan sampai merusak lingkungan karena mereka tidak menggunakan bahan bakar minyak.
Namun cara terbaik tentu dengan berjalan kaki di atas jalan papan yang tertata rapi. Dengn berjalan kaki akan lebih banyak dalam menikmati dan memotret seluruh pemandangan yang tersaji. Begitu pun tak perlu takut tersasar karena di setiap pengkolan tersedia peta dan keterangan kita sedang berada di mana.
Bagi wisatawan yang punya waktu terbatas dan manja seperti saya naik bus cara terbaik. Bayangkan jika harus berjalan kaki meliput seluruh area yang terdiri dari 6 danau besar ditambah beberapa air terjunnya yang menakjubkan. Kalau saya paling-paling cuma dapat dua.
Sebetulnya kalau pun memilih jalan kaki tak perlu kuatir juga. Sebab bus-bus berwarna hijau ini punya halte di sepanjang rute jalan papan. Jadi kalau lelah tinggal menyerah saja dan naik bus melanjutkan perjalanan tanpa membayar lagi.
Tiket masuk sudah meliputi tour dengan bus.Kami menggunakan bus private. Artinya hanya diisi oleh rombongan kami dan tidak mampir di halte untuk menurunkan atau memunggut penumpang.
Air Terjun Pearl Shoals (Zhen Zhu Tan)
Tujuan pertama adalah air terjun Pearl Shoals (Zhen Zhu Tan), berada di puncak ketinggian 2.433 m, lebar 310 m dan terjun dari atas tebing setinggi 40 meter. Amboi. Konon kalau dilihat dari atas Pear Shoal terlihat seperti bulan sabit. Konon lagi ini lah air terjun yang paling banyak difoto di Jiuzhai Valley dan paling banyak di gunangan sebagai latar belakang foto pranikah pasangan pengantin China. Saya manggut-manggut menyetujui mengingat reputasinya memang aduhai.
Untuk pertama kali saya mendengar Pearl Shoals adalah air terjun yang tumbuh (accreting). Artinya ia tumbuh keluar alih-alih mengikis mundur bibir jurang yang dilewati seperti kebanyakan seperti kebanyakan air terjuan biasa. Alasan untuk ini adalah bahwa kalsium karbonat dalam kandungan air menggabungkan diri dengan akar, daun, dan cabang-cabang pohon untuk menghasilkan matriks semen. Tanaman batu akan terus tumbuh setelah ia terbentuk.
Danau dan Air Terjun Silih Berganti
Kemudian bus bergerak menuju Long Lake. Terlepas dari cerita Legenda Dewi Semo, benar, Rakyat Tiongkok tak berlebihan bila menyebut Lembah Jiuzhagou sebagai sepotong surga di China Barat Daya. Sepanjang perjalanan saya terus bertemu air kebiruan sebening Kristal dari danau-danau kecil, sungai, di tambah tumbuhan menghijau dan bunga-bunga warna-warni menyemangi lembah yang sejuk.
Puncak pegunungan baru karang yang meruncing menentang langit biru terkadang membuat saya seperti berhenti bernapas. Seolah Lembah Jiuzhaigou menghamparkan dirinya yang telanjang di depan kami membuat kamera dan video dari peserta tour tak berhenti berbunyi. Berturut-turut kemudian kami juga menyingahi Swan Lakes, Panda Lakes, Long Lakes, Arrow Bamboo Lakes, dan Five Flower Lakes. Hanya satu kalimat saya untuk danau-danau ala mini: Menakjubkan.
Baca juga Surga Kecil di Pojok Indonesia
Karakter turis rombongan harus bergerak cepat. Mencapai sebanyak mungkin destinasi, mengambil gambar sebanyak mungkin kemudian pergi. Saya sampai iri melihat beberapa turis menggunakan kaki mereka dalam menelusi jalan papan itu.
Mereka terlihat lebih damai dan punya kesempatan menjelajahi bagian lembah lebih ke dalam dan kurang terlihat dari jalan beraspal. Ah tapi untuk itu kita harus menginap berhari-hari di sini. Di hotel saya bertemu seorang turis dari Belanda yang bercerita bahwa ia melakukan perjalanan kebalikan dari hari pertama. Dan dia terus takjub bagaimana ia mendapat pemandangan yang sama sekali berbeda dari hari kemarin.
Fasilitas dan Konservasi di Lembah Sembilan Desa Dengan Toilet Yang Menggegerkan
Turis tetap lah turis. Sekalipun sudah mengaku travel blogger yang berarti seharusnya siap menerima berbagai perbedaan kultur dan lingkungan dari destinasi yang dikunjungi, saya tetap geger memasuki toilet di Taman nasional Jiuzhaigou ini.
Kalau saja metabolisme saya mampu menahan saya takan melakukannya. Sungguh tak tega memasuki dan jongkok di atas toilet bertatakan kantong plastik yang sudah berisi hajat orang lain sebelumnya. Sekalipun sudah menutup hidung dengan beberapa lagis selendang keluar dari sana saya tetap muntah-muntah.
Tapi sebenarnya kita gak perlu buru-buru merasa jijik. Ini adalah bentuk upaya konservasi ketat pemerintah China. Menurut riset manajemen taman nasional di dataran tinggi, sistem pembuangan air konvensional berisiko mencemari air tanah yang sangat murni di kawasan ini. Karena suhu dingin, proses penguraian limbah berjalan lambat. Maka, sistem packing-out limbah adalah cara terbaik menjaga Lembah Sembilan Desa tetap lestari.
Aturan ketat lain meliputi larangan merokok, larangan menyentuh air danau, dan larangan memetik tanaman. Kedisiplinan inilah yang membuat alamnya tetap terjaga.
Begitu lah Pemerintah China menjaga tempat ini dengan disiplin. Tak boleh ada yang dibuang dengan tak semestinya. Tidak boleh mencelupkan anggota tubuh ke dalam air, dilarang keras merokok dan memetik bunga-bunga atau daun yang tumbuh di dalam taman. Sementara isi kantong-kantong berharga itu nanti akan di daur ulang jadi pupuk.
Panduan Menuju Lokasi dan Harga Tiket
Bagi Sobat JEI yang ingin merencanakan perjalanan, berikut data terbaru untuk menuju ke sana:
Cara Menuju ke Jiuzhaigou
- Pesawat: Terbang dari Chengdu (Bandara Shuangliu/Tianfu) menuju Bandara Jiuzhai Huanglong (JZH). Penerbangan memakan waktu sekitar 1 jam. Dari bandara, lanjut naik bus atau taksi sekitar 1,5 jam ke taman nasional.
- Kereta Cepat: Kini tersedia kereta cepat dari Stasiun Chengdu East ke Stasiun Zhenjiangguan. Dari sana, sambung dengan shuttle bus resmi menuju lokasi wisata.
- Bus: Opsi paling hemat namun melelahkan (8-10 jam perjalanan dari Chengdu).
Estimasi Harga Tiket Masuk
Harga tiket Jiuzhaigou National Park bervariasi tergantung musim:
- Musim Puncak (1 April – 15 November):
- Tiket Masuk: CNY 190 (sekitar Rp415.000)
- Tiket Bus Wisata: CNY 90 (sekitar Rp195.000)
- Total: CNY 280
- Musim Sepi (16 November – 31 Maret):
- Tiket Masuk: CNY 80 (sekitar Rp175.000)
- Tiket Bus Wisata: CNY 80 (sekitar Rp175.000)
- Total: CNY 160
Catatan: Harga dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan pengelola dan kurs mata uang.
Bagaimana Sobat JEI, siap memasukkan Wisata Jiuzhaigou ke dalam bucket list liburan berikutnya? Persiapkan fisik dan kamera, karena surga ini menanti kedatangan kalian.
@eviindrawanto



