Daftar isi
Ziarah Makam Syekh Waliyuddin
Begitu banyak serpihan pulau yang tersebar di Indonesia, tak terkecuali di sekitaran Pulau Jawa. Pulau-pulau kecil, rekahan dari pulau besar, terkadang tak bernama. Namun, ada satu yang meski mungil, namanya terus menggema di telinga para peziarah: Pulau Cangkir. Terletak di Desa Kronjo, Kabupaten Tangerang, pulau ini seolah menolak untuk diabaikan meski ombak terus menggerus tepiannya.
Di tahun 2026 ini, Pulau Cangkir tetap berdiri kokoh sebagai tujuan wisata rohani, rumah bagi makam Syekh Waliyuddin atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Jaga Lautan. Beliau adalah sosok karismatik, putra dari Sultan Banten pertama, Maulana Hasanudin, dan cucu dari Sunan Gunung Jati (Maulana Syarif Hidayatullah) dari Cirebon.
Perjalanan yang Semakin Terbuka
Jika dulu perjalanan menuju ke sini terasa seperti petualangan “penuh bantingan” dengan jalanan sempit dan berlubang, kini akses menuju Pulau Cangkir sudah jauh lebih baik. Pemerintah daerah dan desa setempat telah membenahi infrastruktur.
Kendaraan roda empat maupun bus rombongan peziarah kini bisa mengakses area parkir dengan lebih nyaman. Tak perlu lagi drama tawar-menawar sewa mobil bak terbuka atau mini van dengan harga selangit seperti satu dekade silam. Pengelolaan wisata kini lebih tertata di bawah manajemen BUMDes dan pengawasan ketat aparat setempat, memastikan kenyamanan pengunjung dari praktik pungutan liar yang dulu sempat meresahkan.
Memasuki kawasan Desa Kronjo, pemandangan khas desa nelayan masih menyambut. Halaman-halaman rumah yang dipenuhi jemuran ikan asin menjadi pemandangan otentik yang tak lekang oleh waktu. Di sebelah kanan, aliran anak sungai Cidurian yang bermuara ke Pulau Cangkir tampak sibuk dengan perahu nelayan yang bersandar atau melaju pulang melaut. Sementara di kiri, kotak-kotak tambak ikan bandeng terhampar sejauh mata memandang.
Wajah Pulau Cangkir Terkini
Setibanya di lokasi, Pulau Cangkir menyuguhkan pesona yang memadukan wisata religi dan maritim. Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung kini dikenakan tarif retribusi resmi yang terjangkau, berkisar Rp20.000 per orang, ditambah biaya parkir yang wajar (sekitar Rp5.000 untuk motor dan Rp10.000 untuk mobil).
Meskipun ancaman abrasi masih menjadi tantangan alam yang nyata bagi pulau seluas sekian hektar ini, upaya pelestarian terus dilakukan. Penanaman bakau (mangrove) yang dulu jarang terlihat, kini mulai menghijau di beberapa titik sebagai sabuk pengaman alami, menambah keasrian jalur masuk yang menghubungkan daratan utama dengan pulau.
Jembatan penghubung yang menjadi nadi utama pulau ini pun kini terpantau rutin kondisinya, terutama saat musim pasang air laut atau rob. Pihak kepolisian sektor Kronjo bahkan aktif memantau kondisi debit air untuk memastikan keamanan para peziarah di tahun 2026 ini.
Kekhusukan di Makam Pangeran Jaga Lautan
Daya tarik utama tempat ini tentu saja makam keramat Syekh Waliyuddin. Memasuki area pemakaman, suasana khusyuk langsung menyergap kalbu. Meski di luar angin laut berhembus kencang dengan aroma garam yang menusuk, di dalam area makam, udara terasa sejuk dan menenangkan.
Di antara lantunan doa para peziarah yang datang dari berbagai pelosok Banten hingga luar Jawa, saya menyempatkan diri untuk tafakur. Menatap makam yang terawat baik, mendoakan mereka yang datang dengan segunung hajat agar dikabulkan Yang Maha Kuasa.
Tak jauh dari makam, mitos “Gentong Air” masih lestari dan dipercaya oleh masyarakat. Gentong ini berisi air yang konon memiliki karomah. Ajaibnya, meski berada di tengah pulau yang dikelilingi air laut asin, air di dalam gentong ini tetap tawar layaknya air sumur pegunungan. Air ini tak pernah surut meski diambil setiap hari oleh ratusan peziarah yang percaya akan khasiatnya, mulai dari penyembuh penyakit hingga untuk keberkahan.
Epilog
Pulau Cangkir di tahun 2026 bukan sekadar onggokan tanah di utara Tangerang. Ia adalah bukti bahwa spiritualitas mampu menjaga sebuah tempat tetap hidup. Pepohonan besar seperti pohon Kepuh yang menaungi pulau ini menjadi saksi bisu pergantian zaman.
Bagi teman-teman yang ingin menepi sejenak dari hiruk-pikuk kota, atau sekadar ingin berwisata religi sembari menikmati debur ombak pantai utara, Pulau Cangkir kini lebih siap menyambut dengan wajah yang lebih ramah dan tertata.
–Evi
Baca juga:

