
Project Photo Challenge 365 awalnya saya anggap sebagai gerbang kreativitas tanpa batas. Niat hati ingin melakukan marathon memotret dalam satu tahun penuh demi melatih mata artistik dan mengisi blog. Namun, kenyataannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Sobat JEI, artikel ini akan mengupas tuntas mengapa tantangan memotret untuk blogger ini begitu menggoda di awal namun berat di tengah jalan, serta pelajaran berharga dari kegagalan saya di hari ke-69.
Mengapa Tantangan Memotret untuk Blogger Itu Penting?
Bagi seorang kreator konten, visual adalah raja. Saya terjun ke proyek ini dengan semangat tinggi. Tujuannya sederhana: merekam kehidupan sehari-hari lewat lensa. Saya ingin melatih mata agar mampu melihat objek biasa menjadi karya artistik.
Menurut James Clear, penulis buku Atomic Habits, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan dampak luar biasa. Dalam konteks fotografi, ini berarti melatih “otot visual” kita setiap hari. Harapan saya, rutinitas ini akan memacu kreativitas dan menjadi bahan bakar tulisan di blog Jurnal Evi Indrawanto.
Senjata Andalan dalam Marathon Memotret dalam Satu Tahun
Dukungan perangkat sangat krusial. Beruntung, saya mendapat hadiah kamera saku digital dari suami. Ukurannya yang compact membuatnya jadi penghuni tetap tas saya. Kamera ini selalu siap menemani aktivitas saya yang padat, baik sebagai ibu rumah tangga maupun entrepreneur.
Fotografer ternama Chase Jarvis pernah berkata, “The best camera is the one that’s with you.” Kalimat ini terbukti benar. Dengan kamera yang mudah dibawa, saya bisa memotret momen menarik kapan saja tanpa beban berat.
Manfaat Nyata Project Photo Challenge 365 bagi Produktivitas
Hasilnya memang terasa instan di awal. Berkat stok foto yang melimpah, saya hampir tidak pernah mengalami writer’s block. Foto-foto tersebut bercerita banyak hal.
Sebuah studi dari Psychological Science menunjukkan bahwa mengambil foto dari pengalaman pribadi dapat meningkatkan keterlibatan memori visual dan kenikmatan atas momen tersebut. Saat menengok ke belakang, galeri foto ini menjadi mesin waktu yang merekam jejak langkah saya, meskipun sudah tersaring oleh “lensa subjektif” saya.
Realitas Pahit: Gugur di Tengah Jalan
Hari pertama Project Photo Challenge 365 dimulai dengan manis di sekitar Serpong. Langit cerah dan cahaya tembaga matahari sore menyapa hangat. Saya antusias menyambut esok pagi.
Namun, semangat transformasi itu ternyata rapuh. Saya menyerah di hari ke-69. Rutinitas harian membunuh antusiasme saya. Merekam urutan hari secara konsisten ternyata menyedot energi mental yang besar.
Penelitian dari University College London menyebutkan bahwa rata-rata manusia membutuhkan waktu 66 hari untuk membentuk kebiasaan baru. Ironisnya, saya berhenti tepat setelah melewati ambang batas rata-rata tersebut. Rasa jenuh dan dalih kesibukan menjadi pembenaran utama.
Refleksi Akhir untuk Sobat JEI
Kegagalan saya menyelesaikan marathon memotret dalam satu tahun ini memberi pelajaran penting. Konsistensi bukan soal alat, tapi soal manajemen energi. Banyak teman blogger lain juga berguguran, bahkan lebih awal dari saya.
Bagaimana dengan Sobat JEI? Apakah kalian pernah mencoba tantangan memotret untuk blogger semacam ini? Bagikan pengalaman kalian di kolom komentar, ya!
— Evi
