Sobat JEI, maksud saya dalam perjalanan panjang menggapai rasa syukur ini, bukanlah sebuah sirkuit balap yang bisa kita selesaikan dalam semalam dengan kecepatan tinggi.

Orang bijak sering berkata bahwa kebahagiaan sejati berakar dari kemampuan kita berterima kasih pada apa yang ada, bahkan saat realita sedang hobi mengajak bercanda. Namun, jujur saja, proses ini melibatkan energi mental yang tidak sedikit. Kita perlu melatih otot-otot jiwa agar bisa menghargai setiap momen, entah itu semanis madu atau sepahit kopi tanpa gula aren.
Penelitian psikologi menyebutkan bahwa manusia memiliki “bias negativitas,” yaitu kecenderungan otak untuk lebih peka terhadap hal buruk daripada hal baik.
Oleh karena itu, bisa dimaklumi kan jika kita tidak serta-merta menjadi manusia yang pandai berterima kasih tanpa latihan? Syukur yang tulus sering kali muncul bukan karena kewajiban agama semata, melainkan sebuah ledakan kesadaran dari dalam diri. Ia adalah sebuah seni melihat cahaya di celah dinding yang retak.
Mengapa Perjalanan Panjang Menggapai Rasa Syukur Sering Terhambat?
Dalam perjalanan panjang menggapai rasa syukur, musuh terbesar kita bukanlah orang lain, melainkan kelemahan diri sendiri. Kadang, gangguan kecil saja cukup untuk membuat rasa syukur menguap seperti embun terkena sinar matahari pagi.
Emosi yang mudah tersulut atau rasa marah yang meledak sering kali menjadi penghalang utama. Kita tahu syukur itu penting, namun mempraktikkannya saat hati sedang mendidih adalah tantangan yang berbeda. Itu sangat sukar, Kak!
Secara ilmiah, saat kita marah, otak bagian amigdala mengambil alih kendali, sehingga logika sering kali “pindah rumah” sementara waktu.
Hal itulah yang membuat kita sulit melihat sisi positif. Padahal, melatih rasa syukur secara rutin dapat meningkatkan kadar dopamin dan serotonin dalam otak. Namun, tetap saja, perjalanan menuju titik imbang tersebut membutuhkan konsistensi dan kesabaran ekstra menghadapi drama kehidupan sehari-hari.
Perjalanan Panjang Menggapai Rasa Syukur Saat Menghadapi Pelanggan
Suatu hari, saya menghadapi ujian nyata dalam perjalanan panjang menggapai rasa syukur ketika seorang pelanggan mendadak “amnesia” soal tagihan. Dengan wajah tanpa dosa, mereka beralasan bahwa hari itu bukan hari Jumat, jadwal rutin pembayaran di perusahaan mereka. Rasanya saat itu ada gumpalan amarah yang mencekik tenggorokan hingga terasa kering. Dalam hati, saya ingin berteriak menanyakan sudah berapa banyak hari Jumat yang mereka lewatkan tanpa kabar.
Anehnya, kekecewaan itu justru merembet ke mana-mana seperti api di padang ilalang. Muncul pikiran-pikiran “andai saja” yang merusak suasana hati.
Saya mulai menyesal berhenti bekerja kantoran hingga harus menjadi penagih hutang seperti ini. Saya bahkan sempat berpikir, andai suami kaya raya, mungkin saya tidak perlu berpayah-payah mengelola usaha kecil ini sendirian. Pikiran destruktif ini mulai membakar ketenangan jiwa saya secara perlahan.
Logika di Balik Perjalanan Panjang Menggapai Rasa Syukur
Untungnya, saya teringat sebuah teknik sederhana: berhitung sampai sepuluh sebelum menumpahkan amarah. Jeda singkat ini ternyata mampu merangsang saraf vagus untuk menenangkan sistem saraf pusat. Akal sehat pun perlahan kembali pulang. Saya mulai menyadari fakta bahwa mereka adalah pelanggan pertama kami yang tetap setia hingga kini. Meskipun sering telat membayar, mereka tidak pernah benar-benar lari dari tanggung jawab.
Setelah berhasil memasukkan beberapa cc oksigen ke dalam dada, logika saya mulai bekerja dengan jernih. Lagipula, apa gunanya menyemburkan energi negatif kepada staf keuangan yang hanya menjalankan perintah atasan? Marah-marah hanya akan membuat mereka kesal tanpa menyelesaikan masalah pembayaran. Dengan memahami posisi mereka, saya perlahan mampu menggeser emosi negatif menjadi sebuah pengertian yang lebih logis dan bijaksana.
Menyeimbangkan Emosi dalam Perjalanan Panjang Menggapai Rasa Syukur
Meskipun logika sudah bicara, emosi primitif terkadang masih suka mengambil alih kemudi. Hari itu, kemarahan sempat memporak-porandakan suasana hati saya hingga semuanya terasa salah. Masakan jadi terasa terlalu asin, bahkan dering telepon terdengar seperti suara alarm bencana. Saya merasa menjadi wanita paling malang yang tidak dihargai, padahal sudah banyak mengorbankan impian demi membantu keluarga.
Kini, jika mengingat kejadian itu, saya hanya bisa tertawa kecil menertawakan drama yang saya buat sendiri. Ternyata, Tuhan membekali kita dengan emosi negatif sebagai mekanisme perlindungan diri. Masalahnya, kita sering memberikan porsi yang terlalu besar pada hal-hal negatif tersebut. Syukur yang kokoh memerlukan usaha terus-menerus untuk mengubah emosi negatif menjadi positif tanpa kehilangan makna awalnya.
Hikmah
Sebagai penutup, Sobat JEI, perjalanan panjang menggapai rasa syukur memang menuntut perjuangan yang tak kunjung usai. Saat kita berhasil mencapai titik imbang antara logika dan emosi, kita tidak hanya menjadi manusia yang pandai bersyukur, tetapi juga lebih bijaksana. Kita belajar bahwa marah itu manusiawi, namun menetap di dalam kemarahan adalah sebuah kerugian bagi kedamaian batin kita sendiri.
Menurut Sobat JEI, setelah kita memiliki rasa syukur, apakah kita benar-benar tidak boleh merasa marah lagi? Ataukah marah itu justru menjadi bumbu agar rasa syukur kita terasa lebih nikmat saat kembali? Mari kita terus berproses dalam perjalanan indah ini.
@eviindrawanto2026
Baca juga:
