
Jika kita bicara soal aksesoris etnik yang sarat makna, manik-manik Dayak adalah jawabannya. Etnis asli yang mendiami Pulau Kalimantan ini memang tidak bisa lepas dari manik-manik.
Hampir semua ritual sosial mereka melibatkan benda kecil berwarna-warni ini. Mulai dari perhiasan harian, benda sakral dalam upacara adat, prosesi pengobatan, hingga ritual kematian, semuanya penuh hiasan manik.
Jadi, saya tidak heran saat menjejakkan kaki di Lapangan Pelangi Intimung untuk memperingati ulang tahun Kabupaten Malinau ke-19 (FBIM 2018). Kios-kios suvenir di sana berkilau oleh ribuan manik.
Mata saya dimanjakan oleh anting, kalung, gelang, hingga hiasan kepala yang rumit. Kerajinan manik-manik Dayak bahkan menempel indah pada pakaian, dompet, tas, hingga sepatu. Intuisi belanja saya langsung meronta. Namun, saya mencoba menahan diri. Misi saya kali ini lebih dari sekadar wisata mata, tapi menyelami makna di balik kilaunya.
Apa Sebenarnya Manik-Manik itu?
Sobat JEI, apa sebenarnya apa sih definisi manik-manik itu? Secara sederhana, ini adalah benda kecil dengan lubang di tengah untuk menyisipkan benang. Bahannya sangat beragam. Mulai dari bebatuan, tulang, kaca, plastik, cangkang kerang, hingga gigi hewan. Manusia merangkainya dengan pola tertentu untuk mempercantik diri.
Pentingnya Manik-Manik Bagi Suku Dayak dalam Tradisi
Matahari mulai menguning di langit Kota Malinau yang biru terang. Cuaca terasa lebih menyengat daripada Jakarta. Namun, rasa penasaran membuat langkah saya ringan menyusuri stan pameran Festival Budaya Irau Malinau.
Pemerintah Kabupaten Malinau memang menjadikan ajang ini sebagai promosi wisata dan ekonomi kreatif. Berbagai UMKM hingga perusahaan besar hadir melingkari lapangan. Tentu saja, produk kerajinan manik-manik Dayak mendominasi. Ini adalah pesta besar orang Dayak se-Kalimantan Utara.
Lantas, seberapa besarkah pentingnya manik-manik bagi Suku Dayak?
Menurut para antropolog seperti Heidi Munan dalam bukunya Beads of Borneo, manik-manik bagi masyarakat Dayak bukan sekadar ornamen estetika. Manik-manik adalah benda yang memiliki “semangat” atau jiwa. Dalam strata sosial lama, jumlah dan jenis manik yang dipakai seseorang bahkan menunjukkan status bangsawan atau kemampuan ekonomi mereka. Manik-manik kuno (manik lawas) sering dianggap memiliki kekuatan pelindung dan penolak bala.
Baca juga:
Pesona Ani Ka’bo dan Rekor MURI
Bukti nyata peran vital manik-manik saya temukan saat meliput acara adat Dayak Sa’ban. Semua orang, tua muda, laki-laki maupun perempuan, mengenakan kalung dengan liontin merah berbentuk silinder.
Masyarakat setempat menyebutnya Ani Ka’bo. Ini bukan sekadar aksesoris, melainkan lambang status sosial yang berkaitan erat dengan spiritualitas. Agak kurang tepat jika kita menyebutnya jimat, namun benda ini memiliki filosofi pelindung yang kuat.
Saking tingginya nilai budaya ini, Festival Budaya Irau Malinau (FBIM) menghadirkan Ani Ka’bo raksasa. Identitas diri Suku Dayak Sa’ban ini bahkan berhasil memecahkan rekor MURI.
Bayangkan, kalung tradisional ini memiliki rantai sepanjang 2 meter! Liontinnya berdiameter 20 cm dengan panjang 30 cm. Kayu liontin tersebut dililit oleh sekitar 20.000 butir manik merah kecil. Sungguh sebuah mahakarya kerajinan manik-manik Dayak yang memukau.
Mengupas Filosofi Manik-Manik Dayak Lewat Warna

Sobat JEI pasti sering melihat manik-manik Dayak yang menggunakan warna-warna kontras dalam satu desain. Ada merah, hijau, hitam, biru, dan kuning. Ternyata, tabrakan warna ini adalah simbol harmonisasi kehidupan.
Berdasarkan literatur budaya Kalimantan, berikut adalah makna di balik warna-warni tersebut:
- Merah: Simbol semangat hidup yang menyala atau tangereng (tenaga).
- Biru: Mewakili sumber kekuatan dari alam semesta.
- Kuning: Melambangkan keagungan, keajaiban, dan sesuatu yang keramat.
- Hijau: Representasi kesuburan alam semesta dan kelimpahan.
- Putih: Lambang kesucian dan kemurnian hati.
Kombinasi warna ini adalah doa dan harapan pemakainya agar senantiasa selaras dengan alam dan Sang Pencipta.
Baca juga tentang :
Sejarah dan Bahan – Manik-Manik Dayak Terbuat dari Apa?
Lalu, sebenarnya manik-manik Dayak terbuat dari bahan apa saja?
Secara tradisional, manik-manik terbuat dari material alam seperti bebatuan (akik/karnelian), tulang hewan, kaca, cangkang kerang, plastik, hingga biji-bijian.
Sejarah mencatat, benda mungil ini sudah ada sejak zaman purba. Eropa menemukan jejaknya sekitar 250.000 hingga 130.000 Sebelum Masehi. Peradaban Mesir kemudian melanjutkannya sekitar 6500 tahun Sebelum Masehi.
Namun, ada fakta sejarah menarik yang perlu Sobat JEI tahu. Riset arkeologi menunjukkan bahwa banyak manik-manik “pusaka” di Kalimantan sebenarnya adalah manik-manik dagang (trade beads) yang berasal dari Eropa dan Tiongkok.
Manik-manik kaca (seperti manik lamat atau mutisalah) diproduksi di Venesia (Italia), Bohemia (Ceko), atau Tiongkok, lalu dibawa oleh pedagang ke Nusantara berabad-abad lalu. Karena daya tahannya, benda ini kemudian menjadi barang berharga yang diwariskan turun-temurun.
Di Indonesia, jejak manik-manik lokal juga ditemukan di situs Bukit Patenggeng, Subang (Jawa Barat) dan situs Tridonorejo, Demak (Jawa Tengah) yang berasal dari abad ke-12 Masehi.
Ternyata, tradisi manik-manik ini menyebar luas di Nusantara. Tidak hanya Dayak, Para Sikerei di Kepulauan Mentawai pun menggunakan manik-manik sebagai atribut sakral mereka.
Menarik sekali ya, Sobat JEI? Sebutir manik kecil ternyata menyimpan sejarah peradaban dan spiritualitas yang begitu dalam.
eviindrawanto.com


