
Merayakan malam tahun baru dengan keluarga selalu meninggalkan jejak cerita yang manis. Tahun ini, roda kendaraan kami bermuara di Living World Alam Sutera, menembus sisa hujan yang mengguyur Serpong sejak siang. Hawa dingin yang menyergap justru memicu sebuah renungan menjelang ledakan kembang api di penghujung malam nanti.
Halo Sobat JEI! Catatan kali ini merangkum sebuah perjalanan batin saya yang sedikit berayun. Kit akan berjalan dari kabut duka tragedi penerbangan, tawa hangat di depan food truck, salam perpisahan untuk legenda komedi dunia, hingga sorak sorai membelah langit.
Semua bisa jadi pengingat betapa berharganya merayakan detik ini bersama mereka yang kita cintai.
Renungan Menjelang Ledakan Kembang Api, Antara Duka dan Angka
Malam masih muda dan terasa lembap saat kaki kami menjejak halaman mal. Udara dingin seolah mengaminkan belasungkawa atas tragedi hilangnya Pesawat AirAsia QZ8501. Tragedi ini meletupkan renungan menjelang ledakan kembang api di kepala saya.
Bayangkan, pagi yang hening di tengah laut tiba-tiba berubah menjadi pusaran duka. Sebanyak 166 jiwa berpulang serentak. Dunia terkejut. Siapa yang tidak? Hati ini rasanya ikut gerimis membayangkan pesawat itu membawa keluarga yang sedang merajut angan liburan ke tempat tujuan mereka.
Penelitian psikologi menyebutkan fenomena ini sebagai dread risk atau ketakutan mendalam. Manusia cenderung jauh lebih terkejut dan takut pada kejadian fatal massal yang terjadi tiba-tiba. Padahal secara statistik global, kecelakaan lalu lintas merenggut ribuan nyawa setiap harinya secara ajek.
Meski logika memahami angka statistik tersebut, sebagai travel blogger yang sering bepergian, efek kejut tragedi pesawat terbang selalu sukses menyisakan lubang di dada saya.
Beruntung, kerlip lampu hias, pohon Natal raksasa, dan dentuman musik dari panggung di Living World perlahan mencairkan suasana sendu ini. Setidaknya pikiran saya mulai teralihkan. Tidak ada yang bisa saya lakukan, semua adalah takdir, bisik saya kepada diri sendiri.
Baca juga:
Merayakan Malam Tahun Baru dengan Keluarga di Food Truck Boulevard
Kami mengawali langkah menyusuri Food Truck Boulevard. Kawasan ini menyajikan aneka kuliner berkonsep modern. “Di sini tidak ada tempe mendoan, Mama,” keluh si bungsu. Ia berkali-kali protes dan menyatakan tidak suka rasa Tacos. Tapi anehnya, ia justru kembali menggigit Tacos tersebut sampai tiga kali saat saya sodorkan lagi.
Fenomena food truck ini rupanya punya sejarah panjang. Konsep ini lahir di Amerika pada akhir abad ke-19 dari gerobak kuda untuk melayani pekerja malam. Kini, ia berevolusi menjadi gaya hidup urban.
Riset kuliner modern menunjukkan bahwa mencoba makanan baru dalam suasana santai merangsang produksi dopamin di otak. Hormon kebahagiaan ini yang mungkin membuat wajah si bungsu pelan-pelan sumringah, meski ia sempat meratapi ketiadaan mendoan. Merayakan malam tahun baru dengan keluarga memang paling seru jika disisipi sedikit drama kuliner.
Drama Sinematografi Saat Merayakan Malam Tahun Baru dengan Keluarga
Waktu baru menunjuk pukul delapan malam. Mal belum terlalu tumpah ruah. Nanti menjelang detik-detik pergantian tahun, kawasan dari Bundaran Alam Sutera pasti akan disesaki manusia. Living World sudah terkenal menahbiskan diri sebagai penyaji kembang api terbaik di kawasan ini.
Malam itu tampak banyak anak muda wara-wiri menenteng kamera. Rupanya ada Fireworks Video Contest untuk memeriahkan acara. Saya langsung mencolek si bungsu yang kebetulan kuliah jurusan Sinematografi. “Ikut dong, lumayan buat nambah pengalaman. Tidak usah kejar menang, yang penting ikut,” goda saya.
Bukannya antusias, saya malah mendapat tatapan setajam silet. “Kita sedang menikmati pesta malam tahun baru, Mama!” protesnya telak.
Rupanya, sikap anak saya ini selaras dengan konsep mindfulness dalam psikologi. Studi dari Journal of Experimental Psychology mengungkap fakta menarik. Mengamati sebuah momen secara langsung lewat mata jauh lebih kuat melekatkan ingatan di otak daripada sibuk merekamnya lewat layar gawai. Anak ini ternyata lebih paham cara merayakan momen!
Night at the Museum dan Rahasia Kelam Robin Williams
Seluruh itinerary malam ini murni disusun si bungsu. Saya ikut saja karena memang tidak menyiapkan rencana liburan akhir tahun. Sambil menunggu tengah malam, kami masuk ke bioskop menonton “Night at the Museum: Secret of the Tomb”.
Sebagai penyuka museum dan sejarah, saya merasa alur ceritanya standar saja. Walau teknik sinematografinya sangat cantik, rasanya tetap tak masuk akal melihat Theodore Roosevelt dan kerangka T-Rex hidup gentayangan mencari jalan keluar.
Perhatian saya justru tersita sepenuhnya oleh sosok Robin Williams. Ini adalah penampilan terakhir sang legenda sebelum ia wafat. Entah karena pengaruh berita kematiannya yang tragis atau bukan, wajah sang aktor tampak menahan pedih.
Ada kontras yang jelas antara wajah orang tua yang menua dengan sehat dan mereka yang menyimpan sakit.
Firasat saya rupanya memiliki pijakan medis. Jurnal medis belakangan mempublikasikan bahwa Robin Williams ternyata menderita Lewy Body Dementia. Penyakit neurodegeneratif ini merusak jaringan otak progresif, memicu halusinasi, dan merampas kendali bahagia penderitanya.
Mengetahui fakta ini, senyum karakter Theodore Roosevelt di layar terasa menyayat hati.
Megashot Fireworks: Renungan Menjelang Ledakan Kembang Api Terjawab
Kami melangkah keluar bioskop saat waktu hampir habis. Bundaran Alam Sutera sudah tertutup lautan manusia, motor, dan mobil. Berjalan pun harus ekstra hati-hati. Sambil menunggu pertunjukan utama, banyak pengunjung asyik menyalakan kembang api sendiri secara gotong royong.
Tepat pukul 00.00, langit Living World meledak dan seolah terbelah. Tembakan kembang api raksasa dalam berbagai formasi membuat remaja di sekeliling kami menjerit takjub. “Bagus banget!” teriak mereka berulang kali. Saya sangat setuju. Renungan menjelang ledakan kembang api yang tadi sempat kelabu, kini menguap ditiup angin malam. Pendaran cahaya di atas sana tampak seperti galaksi yang pecah dilihat dari jendela pesawat luar angkasa.
Penjelasan sains di balik pesona ini terletak pada ilmu kimia dasar. Warna-warni kembang api murni tercipta dari pembakaran garam logam; stronsium memijarkan merah, sedangkan barium menghasilkan hijau. Ledakan cahaya dan suara ini menstimulasi amigdala otak, menghasilkan sensasi awe atau kekaguman yang luar biasa. Perasaan kagum ini menyusutkan ego manusia, membuat kita merasa lebih terhubung satu sama lain. Kamera memori di kepala saya merekamnya dengan sempurna. Sempurna karena merayakan malam tahun baru dengan keluarga kali ini, hati saya benar-benar hadir seutuhnya.
eviindrawanto.com
