Meningkatkan branding Indonesia di luar rupanya butuh lebih dari sekadar modal nekat dan setumpuk proposal. Halo Sobat JEI! Masih ingat kasak-kusuk media pada pertengahan 2015 silam? Kepergian aktor legendaris Didi Petet menyisakan duka, sekaligus membuka mata kita tentang beratnya mengenalkan budaya nusantara di panggung dunia.
Mengelola Paviliun Indonesia di World Expo Milano 2015 rupanya menguras tenaga, pikiran, hingga memicu asam lambung sang maestro. Di balik kisah sedih dan isu minimnya dana tersebut, terselip tekad baja untuk mengibarkan merah putih.
Saya mencoba melihat perjuangan almarhum, keunikan arsitektur paviliun kita, hingga turun tangannya Artha Graha Peduli menyelamatkan wajah bangsa. Yuk, mari kita napak tilas sejenak!
Mengenalkan Budaya Nusantara Lewat Desain “Bubu”
Pameran dunia ini bukan sekadar ajang pamer, tapi medan tempur diplomasi budaya. Desain paviliun kita kala itu sangat jenius dan filosofis. Mengusung bentuk Bubu atau alat tangkap ikan tradisional dari anyaman rotan. Mengapa Bubu? Tentu saja untuk mengenalkan budaya nusantara sebagai negara kepulauan dan poros maritim dunia.
Pemilihan desain ini sangat selaras dengan tema besar Milan Expo 2015 yakni “Feeding the Planet, Energy for Life”. Bubu mewakili kebijaksanaan lokal dalam menjaga ketahanan pangan bahari.
CNN bahkan terpesona dan menobatkan bangunan seluas 1.175 meter persegi ini sebagai satu dari 24 arsitektur terunik! Bayangkan, dari seratusan lebih negara peserta, jala ikan kita berhasil menangkap perhatian mata dunia. Sungguh keren, bukan?
Turun Tangan Swasta Menyelamatkan Wajah Bangsa
Kabar kurang sedap mengenai masalah pendanaan memang sempat bertiup kencang. Kurangnya kucuran dana konon jadi beban paling berat bagi Koperasi Pelestari Budaya Nusantara (KPBN) pimpinan almarhum. Saya sendiri baru melek detail isu ini setelah ikut meetup bareng Artha Graha Peduli beberapa waktu lalu.
Ternyata, sektor swasta langsung turun gunung membenahi keruwetan logistik dan finansial. Artha Graha Network merangkul raksasa bisnis lain seperti Indofood, Astra, hingga Djarum Foundation.
Mengurus hajatan besar yang berlangsung enam bulan nonstop tentu butuh napas panjang. Kolaborasi apik inilah yang sukses mengamankan agenda meningkatkan branding Indonesia di luar secara elegan.
Ngmong-ngomong saya iseng bermimpi, kalau punya perusahaan segurita ini, rasanya asyik juga bisa jadi pahlawan yang sukses menyelamatkan wajah negara?
Strategi Meningkatkan Branding Indonesia di Luar Lewat Perut

Ada pepatah lawas berbunyi, cara termudah merebut hati seseorang adalah melalui perutnya. Paviliun kita mengeksekusi strategi ini dengan sangat jitu. Mereka memanjakan panca indera ribuan pengunjung lewat eksibisi rempah-rempah yang wangi semerbak. Pengunjung Eropa bisa menyentuh, mencium, dan takjub pada kekayaan alam kita.
Tentu tidak berhenti pada pameran visual. Bogor Café Desa Restaurant hadir menyajikan kehangatan gado-gado dan menu tradisional lainnya. Berkat lobi cerdik pengusaha nasional Erick Thohir, bintang lapangan hijau Intermilan seperti Roberto Mancini dan Javier Zanetti ikut datang mencicipi kelezatan masakan kita. Kehadiran tokoh ternama internasional ini otomatis mendongkrak pemberitaan. Cara ini terbukti sangat efektif mengenalkan budaya nusantara ke publik Eropa secara natural dan berkelas.
Meneruskan Mimpi Mengenalkan Budaya Nusantara
Pembenahan tata kelola paviliun pada akhirnya bukan semata urusan untung rugi, tapi mengawal impian besar almarhum Didi Petet. Beliau sangat percaya bahwa World Expo adalah panggung sakral bagi ibu pertiwi. Ajang lima tahunan ini duduk gagah di posisi ketiga terbesar setelah Olimpiade dan Piala Dunia. Sekitar 90 persen negara di planet bumi berkumpul di sini.
Duta Besar RI untuk Italia saat itu, August Parengkuan, menargetkan 2 juta pengunjung sudi mampir ke dalam Bubu raksasa kita. Mengingat rekam jejak kesuksesan kita pada ajang Shanghai Expo 2010 lalu, target ini sangat masuk akal. Semua pihak, mulai dari pemerintah melalui ITPC Milan hingga konsorsium swasta, akhirnya bahu-membahu. Sinergi cantik ini memastikan bahwa niat mulia meningkatkan branding Indonesia di luar tidak berhenti hanya sebagai angan-angan sang Kabayan.
Bagaimana pendapat Sobat JEI? Pameran sekelas World Expo ini terbukti krusial untuk meluruskan persepsi dan mencitrakan kehebatan negara kita, kan?
Foto-foto dari Indonesia World Expo


eviindrawanto.com
Baca juga:

