
Key Takeaways
- Permainan kelereng tidak punah; anak-anak di Kampung Nelayan Kuala Stabas masih memainkannya dengan antusias.
- Sejarah permainan kelereng telah ada sejak 3000 SM di Mesir Kuno dan merupakan warisan budaya lintas peradaban.
- Cara main kelereng sederhana, melibatkan membuat arena, memasang taruhan, dan membidik kelereng lawan.
- Bermain kelereng membantu melatih motorik halus, konsentrasi, dan kecerdasan emosional anak-anak.
- Sebagai permainan tradisional, main kelereng perlu dilestarikan agar tetap menjadi bagian dari keceriaan anak-anak Indonesia.
“Klontang!” Bunyi dua bola kaca beradu itu terdengar renyah di telinga. Seketika, memori masa kecil menyeruak keluar, membawa saya kembali ke masa ketika kebahagiaan sesederhana memenangkan satu butir kelereng dari tangan lawan.
Pemandangan manis ini saya temukan saat berkunjung ke Kampung Nelayan Kuala Stabas. Pagi-pagi benar, ketika aroma laut yang amis namun hangat mulai menyapa, saya turun ke dermaga dan menemukan sekelompok anak sedang asyik main kelereng.
Walau kampung itu baru saja disiram hujan semalam, tawa mereka pecah di atas tanah berpasir. Mereka mengingatkan saya pada satu hal: permainan tradisional ini belum punah.
Keceriaan Main Kelereng di Pesisir Krui
Tadinya saya pikir permainan gundu—sebutan lain kelereng di beberapa daerah—sudah hilang ditelan zaman gadget. Namun, anak-anak Kuala Stabas memainkannya dengan sangat ahli. Taruhannya adalah kelereng kaca aneka warna yang di dalamnya tampak seperti irisan belimbing.
Saya sampai harus naik ke atas batu untuk mengamati mereka, mencoba mengumpulkan ingatan tentang aturan main kelereng masa lalu. Ada rasa bangga saat menceritakan kepada rombongan perjalanan bahwa saya dulu juga jagoan dalam permainan ini.
“Kalah mulu dong…” celetuk si Sulung tiba-tiba. Adiknya tertawa keras. Ah, anak-anak zaman sekarang memang kritis, tapi momen itu justru menyadarkan saya bahwa tawa kanak-kanak adalah bahasa universal.
- Baca juga : Pantai Tanjung Setia Lampung
Sejarah Permainan Kelereng: Dari Mesir Kuno Hingga Nusantara
Sambil melihat mereka membidik gundu, saya jadi penasaran, sejak kapan sebenarnya manusia mulai memainkan bola-bola kecil ini?
Setelah melakukan sedikit riset mendalam, ternyata sejarah permainan kelereng jauh lebih tua dari yang kita bayangkan. Jejaknya ditemukan sejak tahun 3000 SM di Mesir Kuno. Kelereng tertua koleksi The British Museum di London bahkan berasal dari tahun 2000-1700 SM, ditemukan di Kreta pada situs Minoan of Petsofa.
Di masa Romawi, anak-anak memainkannya menggunakan kacang-kacangan atau batu bulat, yang menjadi cikal bakal istilah nuts (permainan kacang). Di Indonesia sendiri, permainan ini populer dengan berbagai nama: gundu (Betawi), neker (Jawa), atau kaleci (Sunda). Ini membuktikan bahwa main kelereng adalah warisan budaya lintas peradaban yang harus kita lestarikan.
Cara Main Kelereng (Gundu) yang Benar

Bagi Anda yang ingin mengajarkan anak-anak atau sekadar bernostalgia, cara main kelereng sebenarnya cukup sederhana namun membutuhkan strategi. Berikut aturan dasarnya:
- Buat Arena: Gambar lingkaran di atas tanah datar atau berpasir.
- Pasang Taruhan: Setiap pemain menaruh jumlah kelereng yang sama di dalam lingkaran (pot).
- Tentukan Giliran: Lakukan hompimpa atau melempar kelereng gacoan (andalan) mendekati garis batas. Yang terdekat, dia main duluan.
- Membidik: Pemain harus menyentil kelereng gacoan dari luar lingkaran untuk mengenai kelereng lawan atau mengeluarkan kelereng taruhan dari lingkaran.
- Pemenang: Siapa yang paling banyak mengeluarkan kelereng dari lingkaran, dialah pemenangnya.
Melihat anak-anak Kuala Stabas membidik dengan presisi, saya sadar permainan ini bukan sekadar adu untung, tapi adu skill.
Manfaat Bermain Kelereng untuk Tumbuh Kembang Anak
Di era digital ini, manfaat bermain kelereng sangatlah vital untuk menyeimbangkan screen time anak. Tidak hanya seru, permainan ini melatih banyak aspek psikologis dan motorik:
- Melatih Motorik Halus: Gerakan menyentil kelereng melatih koordinasi mata dan tangan (hand-eye coordination).
- Mengasah Konsentrasi: Anak belajar fokus membidik sasaran kecil dari jarak tertentu.
- Kecerdasan Emosional: Belajar jujur, sportif menerima kekalahan, dan tidak sombong saat menang.
- Kemampuan Sosial: Permainan anak 90an ini memaksa anak berinteraksi, bernegosiasi aturan, dan bersosialisasi secara nyata, bukan maya.
Anak-anak Alam yang Bahagia

Di Krui belum ada mall besar, dan sepertinya anak-anak ini tidak menghabiskan liburan di depan PlayStation. Jika ada berkah dari keterbatasan fasilitas di kampung nelayan ini, itu adalah interaksi sosial yang intens.
Ruang bermain yang disediakan alam tidak menipu pandangan dengan lampu artifisial. Di sini, mereka bebas bergerak, melompat, dan tertawa. Setelah puas main kelereng, mereka berhamburan ke laut, berenang lincah bak lumba-lumba. Kepala-kepala hitam yang timbul tenggelam di air laut itu tampak begitu bahagia.
Saya sempat mencari sosok anak perempuan, barangkali ada yang ikut main atau mandi di laut. Namun nihil. Mungkin mereka sedang membantu ibu di rumah. Saat meninggalkan Kuala Stabas, saya menoleh sekali lagi. Doa saya untuk kalian, anak-anak alam. Semoga kelak pendidikan membawa kalian terbang tinggi, namun karakter tangguh dari laut ini tetap melekat di nadi.
Tips Aman Bermain Kelereng untuk Anak
Sebagai penutup, jika Anda ingin mengenalkan permainan tradisional ini pada buah hati di rumah, perhatikan beberapa tips berikut:
- Pilih Lokasi yang Tepat: Mainkan di tanah lapang atau ubin yang tidak terlalu licin agar kelereng tidak menggelinding liar.
- Pengawasan Orang Tua: Untuk balita, kelereng bisa berbahaya karena risiko tertelan (choking hazard). Pastikan anak sudah cukup umur (di atas 5 tahun).
- Cuci Tangan: Ingatkan anak mencuci tangan setelah bermain karena kelereng sering bersentuhan dengan tanah kotor.
Mari lestarikan permainan gundu ini agar tidak hanya menjadi dongeng tidur, tapi tetap menjadi bagian dari keceriaan anak-anak Indonesia.
Baca juga:
