Key Takeaways
- Penulis merasakan kedalaman sejarah saat mengunjungi Kompleks Makam Raja Gowa, tempat bersemayamnya Sultan Hasanuddin.
- Masjid Al Hilal Katangka berdiri sejak 1603, menjadi saksi bisu masuknya Islam di Gowa.
- Keberadaan Batu Pallantikang memiliki makna sakral, menjadi tempat sumpah setia para raja.
- Kompleks makam kini lebih terawat dengan informasi digital dan fasilitas yang lebih baik dibanding sebelumnya.
- Tips untuk pengunjung: datang pagi, pakai pakaian sopan, dan hormati adat setempat.
Pernahkah Teman-teman berdiri di sebuah tempat di mana angin seolah berbisik membacakan mantra masa lalu? Bukan sekadar gundukan tanah, melainkan sebuah ruang waktu di mana keberanian, darah, dan doa pernah beradu.
Itulah yang saya rasakan saat menjejakkan kaki di Kompleks Makam Raja Gowa. Di sinilah bersemayam sosok legendaris yang keberaniannya membuat penjajah gemetar hingga menjulukinya De Haantjes van Het OostenโSang Ayam Jantan dari Timur.
Artikel ini bukan sekadar catatan perjalanan biasa. Ini adalah sebuah ziarah rasa, menelusuri jejak Sultan Hasanuddin dan kemegahan Kerajaan Gowa yang masih tersisa di tahun 2026.
Tak Sengaja Menemukan Jejak Sejarah
Jujur saja, kunjungan ke kompleks makam ini awalnya tidak ada dalam rencana besar (itinerary) saya. Kami baru saja pulang dari Kompleks Makam Pangeran Diponegoro dan sedang melintas di Jalan Syekh Yusuf.
Mata saya tiba-tiba tertumbuk pada sebuah papan nama: Kompleks Makam Keluarga Keturunan Raja Gowa. Tepat di sebelahnya, berdiri Masjid Al Hilal Katangka, masjid tertua di Sulawesi Selatan.
Naluri traveler saya langsung berteriak. “Berhenti!”
Meski awalnya hanya berniat sekilas pandang, takdir membawa saya menyelami lebih dalam. Siapa sangka, ketidaksengajaan ini justru menjadi salah satu momen paling emosional dalam perjalanan saya di tanah Makassar.
Masjid Tua Katangka: Saksi Bisu Masuknya Islam
Sebelum menyapa Sang Sultan, saya terpaku pada Masjid Al Hilal Katangka. Bangunan ini didirikan pada tahun 1603 di masa pemerintahan Raja Gowa ke-14, Sultan Alauddinโraja Gowa pertama yang memeluk Islam.
Arsitektur yang Bercerita
Berdasarkan literatur sejarah yang saya pelajari, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Dulu, ia juga berfungsi sebagai benteng pertahanan. Jika diperhatikan detailnya (Update 2026: kini area ini sudah jauh lebih rapi dengan papan informasi digital), arsitekturnya adalah perpaduan unik:
- Gaya Jawa & Lokal: Atap tumpang bersusun tiga.
- Sentuhan Tiongkok: Pada mimbar dan keramik.
- Unsur Eropa: Pada tiang-tiang penyangga yang kokoh.
Di sekeliling masjid ini, terdapat makam para keturunan raja, kerabat, dan ulama. Pusara-pusara tua ini seolah memagari masjid, menjaganya dalam keabadian.
- Baca juga : Masjid Menara Kudus dan Makam Sunan Kudus
Kompleks Makam Sultan Hasanuddin: Jantung Sejarah Gowa
Dari Katangka, kami bergerak menuju lokasi utama: Makam Sultan Hasanuddin. Jaraknya sangat dekat, bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau berkendara kurang dari lima menit. Lokasinya berada di bukit Tamalate, yang konon merupakan bekas pusat istana Kerajaan Gowa.
1. Nuansa Magis di Area Cungkup
Begitu masuk, mata saya langsung bersirobok dengan pemandangan yang tak biasa. Bukan nisan biasa, melainkan bangunan-bangunan kubah besar (cungkup) yang menyerupai candi atau punden berundak.
Bentuk kubah yang seperti piramida ini merefleksikan akulturasi budaya pra-Islam dan Islam. Di dalamnya, bersemayam jasad para raja yang dimuliakan.
2. Batu Pallantikang: Sumpah Setia Para Raja
Sebelum mencapai makam utama, ada satu situs yang wajib Teman-teman perhatikan: Batu Pallantikang.
Batu andesit yang diapit batu kapur ini bukan batu sembarangan. Mitos yang beredar di masyarakat setempat menyebutnya sebagai batu dari kayangan yang bertuah. Secara historis, di atas batu inilah para Raja Gowa dan Tallo mengucapkan sumpah setia saat dilantik.
“Ata karaeng, tu bani menre…” (Hamba adalah raja, orang berani yang naik…) โ Mungkin kalimat seperti itu yang dulu bergema di sini. Merinding rasanya membayangkan prosesi sakral tersebut.
3. Pusara Sang Ayam Jantan: Hening di Usia Muda
Saya melangkah pelan menuju sebuah makam dengan patung ayam jantan di atas nisannya. Di sinilah beliau beristirahat: Sultan Hasanuddin (I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Mohammad Bakir Tumenanga Riballa Pangkana).
Suami saya sempat tertawa kecil melihat saya menahan napas saat membaca gelar beliau yang begitu panjang. Namun, tawa itu berganti hening saat kami menyadari fakta pedih di balik sejarahnya.
Beliau wafat pada 12 Juni 1670. Usianya baru 41 tahun.
Bayangkan, di usia semuda itu beliau sudah memimpin perang besar melawan VOC, dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya (1667) yang merugikan, hingga akhirnya turun takhta. Mungkin bukan hanya penyakit fisik yang merenggutnya, tapi juga siri’ (harga diri) yang terluka melihat tanah airnya dikuasai asing. Al-Fatihah untuk beliau.
- Baca juga : Makam Prabu Hariang Kancana atau Mbah Panjalu
Update 2026: Wajah Baru Wisata Sejarah Gowa
Bagi Teman-teman yang berencana berkunjung tahun ini, ada beberapa perubahan positif dibanding kunjungan pertama saya dulu:
- Fasilitas Lebih Terawat: Area makam kini jauh lebih bersih. Gangguan dari anak-anak kecil yang meminta-minta (seperti pengalaman saya dulu) sudah ditertibkan oleh pengelola.
- Informasi Digital: Terdapat QR Code di beberapa titik yang menjelaskan sejarah singkat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Sangat membantu bagi solo traveler.
- Area Parkir: Sudah tertata rapi dengan keamanan yang lebih baik.
Panduan Menuju Lokasi & Tips Traveler
Cara Menuju ke Sana
Kompleks ini terletak di Jalan Pallantikang, Katangka, Kec. Somba Opu, Kabupaten Gowa.
- Dari Pantai Losari/Pusat Kota Makassar: Jaraknya sekitar 7-8 km.
- Transportasi: Paling mudah menggunakan taksi online (Gocar/Grab) atau sewa motor. Jika naik Pete-pete (angkot), cari rute arah Gowa/Sungguminasa dan turun di perbatasan Katangka.
Tips Berkunjung (Edisi 2026)
- Waktu Terbaik: Datanglah pagi hari (sekitar pukul 08.00 – 10.00 WITA) agar tidak terlalu panas dan pencahayaan bagus untuk foto.
- Pakaian: Gunakan pakaian yang sopan dan tertutup karena ini adalah area pemakaman dan dekat dengan masjid tua.
- Bawa Uang Kecil: Meski tiket masuk kadang sukarela atau sangat murah (sekitar Rp5.000 – Rp10.000), siapkan uang lebih untuk donasi perawatan situs.
- Hormati Adat: Jangan duduk di atas batu nisan atau berkata kasar. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Berdiri di depan makam Sultan Hasanuddin membuat saya sadar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Dan hari ini, saya, Anda, dan kita semua, masih bisa menghirup udara kebebasan berkat darah juang mereka.
Sudah siap menyapa Sang Ayam Jantan dari Timur?
Tulisan ini telah diperbarui pada Januari 2026 untuk relevansi informasi.
Baca juga : Makam Prabu Hariang Kancana atau Mbah Panjalu
ย Baca juga :







