Pernahkah Teman-teman merasa bahwa sejarah itu hidup? Bukan sekadar tulisan kaku di buku pelajaran sekolah yang membuat kita mengantuk, melainkan sebuah jejak nyata yang menyisakan getar di hati.
Saat kaki saya menapak di Makassar, ada satu nama yang terus bergaung di kepala. Bukan tentang Coto atau Pantai Losari kali ini, melainkan sebuah kerinduan untuk “sowan” kepada Sang Pangeran. Ya, Pangeran Diponegoro. Sosok yang gambarnya sering kita lihat menunggang kuda dengan jubah putih berkibar, namun berakhir sunyi di tanah pengasingan.
Hari itu, saya memutuskan untuk menelusuri jejak akhirnya. Mari saya ajak Teman-teman menyusuri lorong waktu di Makam Pangeran Diponegoro Makassar.
🚨 Update Terkini 2026: Momentum 2 Abad Perang Jawa
Sebelum kita melangkah lebih jauh, ada kabar penting yang membuat kunjungan ke sini semakin bermakna di tahun 2026 ini.
Situs ini baru saja melewati momentum besar Peringatan 200 Tahun Perang Jawa (1825โ2025). Atmosfer penghormatan terhadap Sang Pangeran sedang terasa sangat kuat. Selain itu, status kompleks ini tengah diproses naik tingkat menjadi Cagar Budaya Nasional. Artinya, Teman-teman akan melihat kondisi situs yang jauh lebih terawat dan mendapat perhatian penuh dari negara dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menemukan Kedamaian di Tengah Hiruk Pikuk Kota
Lokasi makam ini sebenarnya sangat strategis, berada tepat di jantung kota, tepatnya di Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo.
Saat tiba di sana, kontras itu langsung terasa. Di luar pagar, kehidupan kota Makassar berdenyut kencang. Namun, begitu saya melangkah masuk melewati gapura, suasana hening langsung menyergap. Seolah-olah waktu berhenti di sini.
Ini adalah salah satu destinasi wisata sejarah Makassar yang wajib dikunjungi. Kompleks pemakaman ini tidak semewah makam raja-raja, namun kesederhanaannya justru memancarkan wibawa yang agung. Gerbang kokoh seakan menjaga tidur panjang Sang Pahlawan dari ingar-bingar dunia modern.
Baca juga : Bertamu ke Kompleks Makam Raja Gowa
Menelusuri Lorong Waktu: Sejarah Pengasingan yang Memilukan
Sebelum kita masuk lebih dalam, Teman-teman perlu tahu mengapa sosok sebesar Pahlawan Nasional ini bisa dimakamkan jauh dari tanah kelahirannya di Yogyakarta.
Dari Perang Jawa ke Benteng Rotterdam
Sejarah mencatat Perang Jawa sebagai salah satu perang terbesar yang menguras kas Belanda. Karena sulit dikalahkan di medan tempur, Belanda menggunakan taktik licik. Pangeran Diponegoro ditangkap saat perundingan.
Hati saya terasa mencelos saat mengingat perjalanan pengasingan beliau:
- Manado (1830): Awalnya beliau diasingkan ke Manado.
- Makassar (1833): Kemudian dipindahkan ke Benteng Rotterdam (Fort Rotterdam) di Makassar.
- Wafat (1855): Beliau menghabiskan 25 tahun sisa hidupnya dalam pengasingan di Makassar hingga wafat pada 8 Januari 1855.
Beliau tidak pernah diperbolehkan kembali ke Jawa. Di sinilah, di tanah Makassar ini, beliau menyatu dengan bumi.
Baca juga : Makam Sunan Gunung Jati Cirebon Jawa Barat
Arsitektur dan Suasana Makam: Perpaduan Jawa-Makassar
Saat Teman-teman masuk ke area inti, nuansa Jawa kental terasa, namun berpadu manis dengan arsitektur Bugis-Makassar.
Pusara beliau terletak berdampingan dengan makam istri tercintanya, R.A. Ratu Ratna Ningsih. Kedua makam ini terlihat lebih tinggi dan besar dibandingkan makam-makam lain di sekelilingnya. Tidak ada emas permata yang mencolok, hanya nisan sederhana yang terawat rapi, ditudungi cungkup yang melindungi dari panas dan hujan.
Siapa Saja yang Dimakamkan di Sini?
Selain Sang Pangeran, kompleks ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi anak cucu dan pengikut setianya. Total ada sekitar 66 makam, membuktikan bahwa meski diasingkan, beliau tidak benar-benar sendirian. Cinta dan kesetiaan pengikutnya tetap membersamai hingga akhir masa.
Panduan Wisata dan Tips Berkunjung (Update 2026)

Jika Teman-teman sedang traveling ke Makassar, saya sangat menyarankan untuk menyempatkan diri ke sini. Berikut adalah tips praktis agar kunjungan Teman-teman lebih nyaman:
1. Lokasi dan Akses
Ketik saja “Lokasi Makam Pangeran Diponegoro” di Google Maps. Lokasinya dekat dengan Pasar Sentral Makassar. Teman-teman bisa menggunakan ojek online atau Pete-pete.
2. Jam Buka dan Tiket Masuk
- Jam Buka: Setiap hari, pukul 08.00 โ 17.00 WITA.
- Tiket Masuk: Sukarela. Cukup isi buku tamu dan berikan donasi seikhlasnya untuk kebersihan cagar budaya ini.
3. Waktu Terbaik Berkunjung
Datanglah pagi hari (09.00) atau sore hari (15.00). Cahayanya bagus untuk foto dokumentasi, dan udaranya tidak terlalu menyengat.
4. Etika Berziarah
- Gunakan pakaian sopan dan tertutup.
- Jaga ketenangan, jangan berisik.
- Jaga kebersihan area makam.
Refleksi Akhir
Keluar dari kompleks makam, saya merasa lebih “penuh”. Mengunjungi tempat ini bukan sekadar wisata melihat nisan. Ini adalah perjalanan spiritual untuk menghargai arti kemerdekaan.
Bahwa di balik kebebasan kita traveling ke sana ke mari, ada pengorbanan darah, air mata, serta rindu yang tak sampai dari para pahlawan yang terbuang.
Jadi, Teman-teman, jika ke Makassar, jangan hanya cari kulineran saja, ya. Sempatkanlah menyapa Sang Pangeran. Percayalah, ada energi positif yang akan Teman-teman bawa pulang.
Selamat menjelajah sejarah!
Baca juga:

