
Filosofi dalam Semangkuk Soto, Perlukah Kita Tahu?
Terdengar “geje” atau tidak penting ya? Soto saja pakai pilosopi-pilosopian. Mengapa kita tidak langsung menghitung berapa kalori di dalamnya? Bukankah itu lebih berguna bagi Sobat JEI yang sedang diet dan kebetulan mampir ke blog ini?
Tapi, mengapa tidak? Jika secangkir kopi saja memiliki filosofinya sendiri, mengapa soto tidak boleh? Eksistensi segala sesuatu di muka bumi pasti memiliki sebab dan akibat. Kelahiran menu soto pun demikian. Ada cerita, sejarah, dan alasan kuat di belakangnya.
Apa yang Sobat JEI pikirkan sebelum menyantap soto ayam atau soto daging? Apakah hanya soal rasa, harga, atau justru sejarahnya? Kalau saya, sering terlintas pertanyaan nakal. Cerita apa yang tersembunyi di balik uap panasnya? Apa sebenarnya filosofi dalam semangkuk soto hingga kuliner ini begitu melegenda di Nusantara?
Jejak Sejarah dan Adaptasi Budaya dalam Soto
Tulisan ini lahir saat saya berwisata kuliner ke Pasar Lama Tangerang. Pagi itu, saya memutuskan mampir ke kedai soto kudus di Jalan Kisamaun. Sambil mengaduk kuah yang masih mengepul, pikiran saya melayang.
Sejarawan Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya, menyebutkan bahwa soto berakar dari kuliner Tionghoa, yakni Caudo atau Jao To. Awalnya, sajian ini menggunakan jeroan dan rempah. Namun, leluhur kita memodifikasinya sesuai lidah dan ketersediaan bahan lokal.
Filosofi dalam semangkuk soto sejatinya adalah tentang adaptasi dan akulturasi. Kita menerima pengaruh luar, lalu meraciknya kembali menjadi identitas baru yang otentik. Soto bukan sekadar makanan, melainkan bukti keterbukaan budaya Nusantara.
Strategi Bertahan Hidup – Memberi Makan Keluarga Besar
Saya sudah lama curiga. Menu berkuah ini adalah cara cerdas nenek moyang kita berhemat protein hewani. Coba perhatikan soto ayam yang saya nikmati. Dagingnya hanya beberapa iris tipis. Mangkok justru penuh oleh kuah, bihun, kol, tauge, perkedel, hingga koya.
Ini cerminan kondisi sosial ekonomi masa lalu. Filosofi dalam semangkuk soto sangat erat kaitannya dengan sistem keluarga besar (extended family) di Indonesia. Satu rumah bisa berisi kakek, nenek, paman, bibi, hingga cucu.
Bayangkan kondisi Nusantara saat masa penjajahan Belanda. Ekonomi sulit dan pasokan daging terbatas. Bagaimana cara membagi satu ekor ayam untuk 15 orang? Jawabannya adalah soto.
Kuah yang melimpah memungkinkan semua anggota keluarga kebagian rasa “kaldu” yang sama. Sosiolog sering menyebut ini sebagai mekanisme survival komunal. Kita tidak makan dagingnya saja, tapi kita berbagi “sari pati” kehidupannya. Jadi, soto adalah simbol keadilan sosial dalam lingkup keluarga. Bagi roto, bagi roso (bagi rata, bagi rasa).
Baca juga:
Berapa Kalori dalam Semangkuk Soto?
Sekarang, mari kita bicara angka bagi Sobat JEI yang sedang menjaga berat badan. Selain memikirkan filosofi dalam semangkuk soto, kita juga perlu tahu dampak kesehatannya.
Berapa sebenarnya kalori soto? Tentu tidak ada angka mutlak. Namun, dr. Tan Shot Yen, ahli gizi komunitas, sering mengingatkan bahwa soto (terutama yang bening) adalah salah satu contoh real food yang baik karena kaya rempah seperti kunyit yang anti-inflamasi.
Estimasi kasarnya sebagai berikut:
- Soto Ayam (Tanpa Santan & Nasi): Sekitar 250 – 300 kkal.
- Tambahan Nasi Putih (1 porsi): Sekitar 204 kkal.
- Perkedel Kentang/Kerupuk: Bisa menambah 100-150 kkal per potong.
Jadi, filosofi dalam semangkuk soto bisa berubah dari “kesederhanaan” menjadi “bencana diet” jika Sobat JEI kalap menambahkan lauk pendamping. Kuncinya ada pada pengendalian porsi nasi dan kerupuk, bukan pada kuah sotonya.
Soto Adalah Kita
Jadi, jika ada yang bertanya apa filosofi dalam semangkuk soto? Bagi saya, jawabannya adalah kekeluargaan dan ketahanan. Ia mengajarkan kita untuk berbagi rasa dalam keterbatasan. Ia mengingatkan kita bahwa bahagia itu sederhana: menyeruput kuah hangat bersama orang-orang tercinta.
Bagaimana pendapat Sobat JEI? Apakah soto langgananmu punya cerita unik juga?
Baca juga artikel menarik lainnya:
