“Jika engkau ingin tahu seperti apa kehidupanmu sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, lihatlah teman-temanmu sekarang.”
Pernah mendengar ungkapan tersebut, Sobat JEI? Motivator terkenal dunia, Jim Rohn, pernah mencetuskan teori “The law of average”. Ia menyebut bahwa kita adalah rata-rata dari lima orang yang paling sering menghabiskan waktu bersama kita.
Awalnya saya hanya tertawa. Namun, makin lama dipikir, makin terasa kebenarannya. Hal ini sangat terasa pada perubahan cara pandang saya terhadap makanan. Pergaulan intens dengan Mb Bibong Widyarti, seorang penggiat hidup selaras alam, mengubah perspektif saya secara drastis. Beliau juga penulis buku “Hidup Organik: Panduan Ringkas Berperilaku Selaras Alam”.
Tulisan saya tentang ini disini.
Dulu, syarat makanan baik bagi saya cukup “sehat dan bergizi”. Kini, saya mulai kritis. Saya mempertanyakan asal-usul bahan hingga proses pengolahannya. Inilah awal mula saya mendalami pola konsumsi makanan organik.
Waspada Tanpa Paranoia – Memahami Keamanan Pangan
Sobat JEI mungkin menyadari, kejahatan pangan kian meresahkan. Kita sering mendengar kasus mengerikan. Susu bayi bermelamin, pewarna tekstil pada kudapan, hingga formalin untuk mengawetkan ikan dan tahu. Bahkan, kue pun bisa mengandung biji plastik agar kenyal.
Belum lagi isu impor kedelai hasil rekayasa genetik (GMO) yang membanjiri pasar. Data dari World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa keamanan pangan adalah masalah kesehatan global yang serius. Makanan yang tidak aman dapat memicu siklus penyakit dan malnutrisi, terutama pada anak-anak dan lansia.
Mengetahui fakta ini memang bisa bikin senewen. Namun, kita tidak boleh terjebak dalam paranoia berlebihan. Stres kronis justru bisa merusak imun tubuh, bukan? Kuncinya adalah waspada, bukan cemas tanpa ujung. Saya memilih untuk sadar penuh (mindful), tapi tetap santai.
Realitas Label Organik di Indonesia
Hidup organik mencakup spektrum luas, namun mari kita mulai dari piring makan. Faktanya, konsumsi makanan organik bersertifikat di Indonesia belum sepenuhnya mudah.
Dari sisi produsen, mendapatkan sertifikasi organik itu rumit dan mahal. Standar Nasional Indonesia (SNI) 6729:2016 tentang Sistem Pertanian Organik menetapkan syarat ketat mengenai lahan, air, hingga pupuk. Akibatnya, banyak produk di pasar yang asal tempel label “organik” tanpa sertifikasi resmi dari Lembaga Sertifikasi Organik (LSO).
Sebagai konsumen cerdas, Sobat JEI perlu teliti. Produk organik asli biasanya memiliki harga premium karena biaya produksinya tinggi (padat karya) dan hasil panennya lebih sedikit dibanding pertanian konvensional.
Saya sendiri belum 100% menerapkan konsumsi makanan organik. Namun, saya berusaha keras mengadopsi prinsip-prinsipnya dalam keseharian.
Baca juga:
Memilih Buah Lokal di Desember Ketika Manggis dan Rambutan Berbuah
Salah satu prinsip hidup organik adalah mengurangi jejak karbon (carbon footprint). Alih-alih membeli buah impor yang menempuh perjalanan ribuan kilometer, saya kini beralih ke buah lokal.
Konsep ini dikenal dengan istilah “Food Miles”. Semakin dekat jarak sumber makanan dengan piring kita, semakin segar nutrisinya dan semakin ramah lingkungan.
Sobat JEI, cobalah nikmati siklus alam. Desember ketika manggis dan rambutan berbuah adalah momen yang saya tunggu. Di Tangerang, dua buah eksotis ini melimpah ruah. Rasanya manis, segar, dan harganya sangat terjangkau saat musim raya.
Selain itu, biasakan membeli buah sesuai musimnya:
- Rambutan Parakan
- Duku Palembang
- Apel Malang
- Mangga Indramayu
- Nanas Sumedang
Dengan membeli buah lokal, Sobat JEI melakukan aksi nyata. Bayangkan jika setiap rumah tangga mengalokasikan 25% belanja dapurnya untuk produk lokal. Kita tidak hanya membantu petani sejahtera, tetapi juga menyelamatkan varietas tanaman lokal dari kepunahan.
Yuk, mulai langkah kecil untuk masa depan yang lebih sehat!



