Key Takeaways
- Kompleks Makam Sultan Suriansyah adalah titik nol sejarah Islam di Tanah Banjar dan tempat berdirinya peninggalan Kerajaan Banjar.
- Sultan Suriansyah, yang lahir sebagai Raden Samudera, memeluk Islam dan menjadi sultan pada 24 September 1526.
- Arsitektur kompleks ini menampilkan keindahan seni kayu ulin, menciptakan suasana tenang bagi pengunjung.
- Sumur keramat dan Museum Makam Sultan Suriansyah menyimpan banyak barang antik serta cerita sejarah.
- Teman-teman dapat mengunjungi kompleks ini dengan jalur darat atau menyusuri Sungai Martapura untuk pengalaman yang lebih otentik.
Teman-teman, pernahkah kalian merasa seperti terlempar ke lorong waktu saat mengunjungi sebuah tempat? Itulah yang saya rasakan saat menjejakkan kaki di Kuin Utara.
Bagi sebagian orang, Banjarmasin mungkin identik dengan Pasar Terapung. Namun, jika ingin menyelami jiwa kota ini, kita harus memulainya dari sini: Kompleks Makam Sultan Suriansyah. Ini bukan sekadar kuburan tua, melainkan titik nol sejarah Islam di Tanah Banjar. Bayangkan saja, di sinilah bersemayam sosok yang mengubah wajah Kalimantan Selatan ratusan tahun silam.
Mari saya ajak teman-teman menelusuri jejak spiritual dan sejarah di wisata religi Banjarmasin yang paling ikonik ini.
Sejarah Singkat: Dari Pangeran Samudera Menjadi Sultan
Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita buka lembaran sejarah sebentar. Sultan Suriansyah tidak lahir dengan nama tersebut. Beliau lahir sebagai Raden Samudera, cucu dari Maharaja Sukarama dari Kerajaan Negara Daha.
Kisah hidupnya penuh intrik layaknya drama kolosal. Terusir dari istana karena konflik perebutan takhta dengan pamannya, Pangeran Tumenggung, Raden Samudera mengasingkan diri ke daerah muara Sungai Barito.
Momentum besar terjadi ketika beliau meminta bantuan Kerajaan Demak untuk merebut kembali haknya. Demak setuju membantu dengan satu syarat: beliau dan rakyatnya harus memeluk Islam. Singkat cerita, kemenangan diraih, dan pada tanggal 24 September 1526, beliau memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah. Tanggal ini kemudian kita peringati sebagai hari jadi Kota Banjarmasin.
Jadi, saat teman-teman berdiri di sini, teman-teman sedang berdiri di atas tanah peninggalan Kerajaan Banjar yang menjadi saksi peralihan besar dari kerajaan Hindu ke Kesultanan Islam.
Menjelajahi Arsitektur Kompleks Makam
Saat memasuki area Makam Sultan Suriansyah, mata saya langsung dimanjakan oleh arsitektur khas Banjar yang kental. Cungkup-cungkup makam dengan ukiran kayu ulin yang rumit seolah bercerita tentang keagungan masa lalu. Tidak ada kesan angker, yang ada hanyalah ketenangan.
Di gerbang depan, biasanya kita akan disambut oleh para penjual kembang. Wangi melati dan mawar sering kali menyeruak, menambah syahdu suasana.
Makam Tokoh-Tokoh Penting
Di dalam kompleks ini, Sultan Suriansyah tidak sendirian. Beliau didampingi oleh orang-orang yang berjasa besar dalam hidupnya dan sejarah Banjar:
- Khatib Dayan: Beliau adalah ulama besar dari Demak (bernama asli Syekh Abdurrahman) yang mengislamkan Sultan Suriansyah sekaligus menjadi guru spiritualnya.
- Sultan Rahmatullah & Sultan Hidayatullah: Anak dan cucu Sultan Suriansyah yang meneruskan estafet kepemimpinan Kesultanan Banjar.
- Patih Masih & Patih Kuin: Tokoh kunci yang mengasuh dan melindungi Pangeran Samudera saat dalam pelarian.
Makam mereka ditandai dengan nisan-nisan kayu ulin yang kokoh, beberapa di antaranya ditutupi kain kuning dan hijauโwarna kebangsawanan Melayu Banjar.
Sumur Keramat yang Legendaris
Salah satu spot yang paling menarik perhatian peziarah adalah sebuah sumur tua di tengah kompleks. Konon, ini adalah sumur peninggalan Sultan Suriansyah yang dulu digunakan beliau untuk berwudhu.
Masyarakat setempat percaya air sumur ini memiliki “karamah”. Banyak peziarah yang membasuh muka atau meminum airnya dengan harapan mendapat berkah, tentu saja semua atas izin Allah. Saat saya melongok ke dalam, airnya tampak tenang, seolah menyimpan ribuan doa yang dipanjatkan para pengunjung selama berabad-abad.
Museum Sultan Suriansyah
Jangan buru-buru pulang setelah berziarah. Di sudut kompleks, terdapat sebuah bangunan kayu sederhana bertuliskan Museum Makam Sultan Suriansyah.
Meskipun ukurannya mungil, museum ini menyimpan koleksi benda-benda antik peninggalan kerajaan, seperti keramik kuno, pecahan piring, hingga silsilah Raja-Raja Banjar. Jujur saja, kondisinya memang butuh sedikit lebih banyak kasih sayang dan perawatan, tapi nilainya tetap tak ternilai bagi kita yang menyukai sejarah.
Lokasi dan Cara Menuju ke Sana
Alamat Makam Sultan Suriansyah terletak di Jalan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Ada dua cara seru untuk menuju ke sini:
- Jalur Darat: Teman-teman bisa menggunakan kendaraan pribadi atau ojek online dari pusat kota. Waktu tempuhnya hanya sekitar 15-20 menit. Jalanannya sudah beraspal mulus.
- Jalur Sungai (Recommended!): Untuk pengalaman yang lebih authentic, cobalah naik Kelotok (perahu mesin) dari Siring Menara Pandang atau Siring Pierre Tendean. Menyusuri Sungai Martapura hingga ke Kuin memberikan perspektif berbeda tentang kehidupan masyarakat sungai (“river life”) di Banjarmasin.
Tips Berkunjung ke Makam Sultan Suriansyah
Agar kunjungan teman-teman lebih nyaman dan bermakna, berikut beberapa tips dari saya:
- Berpakaian Sopan: Ini adalah area pemakaman dan situs religi. Pastikan memakai pakaian yang menutup aurat atau sopan untuk menghormati adat setempat.
- Siapkan Uang Kecil: Tiket masuk Makam Sultan Suriansyah sebenarnya gratis/sukarela. Siapkan uang tunai untuk kotak amal pemeliharaan makam, membeli kembang, atau bersedekah kepada penjaga makam.
- Waktu Terbaik: Datanglah di pagi hari saat udara masih sejuk dan pengunjung belum terlalu ramai. Jika ingin melihat keramaian budaya, datanglah saat Haul Sultan Suriansyah atau hari jadi Kota Banjarmasin (September), biasanya ada tradisi arak-arakan jukung hias.
- Jaga Kebersihan: Area ini adalah cagar budaya. Jangan buang sampah sembarangan, ya!
Ziarah ke Makam Sultan Suriansyah bukan sekadar wisata, tapi sebuah perjalanan spiritual untuk mengenang jasa mereka yang telah mendahului kita. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman yang berencana ke Banjarmasin.
Sampai jumpa di cerita perjalanan berikutnya!
Baca juga : Kompleks Makam Raja Gowa, Memberi Salam Kepada Sultan Hasanudin
Baca jugaย Makam Keramat di Pulau Angso Duo
Minta Izin Mengambil Foto-Foto Kompleks Makam Sultan Suriansyah

Baca juga : Makam Sunan Gunung Jati Cirebon Jawa Barat
Baca juga : Komplek Pemakaman Kesultanan Bima Dana Traha
Baca juga : Sultan Syarif Abdurrahman Masjid Tertua di Pontianak
Baca juga:







