Key Takeaways
- Lapau kopi di Minangkabau adalah tempat nostalgia, di mana orang berkumpul menikmati kopi, ketan, dan pisang goreng.
- Lapau berfungsi sebagai ruang sosial dan politik, menjadi arena diskusi dan pembelajaran bagi pria Minang.
- Budaya ‘ota’ di lapau mengajarkan retorika dan demokrasi, membuatnya menjadi tempat lahirnya banyak politisi ulung.
- Namun, aktivitas di lapau kini sedang sekarat, tergerus oleh teknologi dan perubahan nilai sosial.
- Meskipun begitu, lapau tetap menjadi institusi penting dalam budaya Minangkabau dan merupakan sumber kenangan dan cerita dari lapau kopi.
Halo Sobat JEI,
Jika kamu sedang pulang kampung yang sudah lama ditinggalkan, tiba-tiba ingin bernostalgia, minum kopi Bukik Apik sambil menikmati ketan dan pisang goreng, menurutmu ke mana kaki harus melangkah? Tepat! Pergilah ke Lapau!
Suasana Pagi di Pinang Balirik
Waktu sudah menunjukan pukul 06.30 WIB. Pinang Balirik, jalan di depan rumah kami, masih terbungkus kabut tebal. Dingin. Di belakangnya sayup-sayup menyembul Bukit Barisan. Di antara hamparan padang halimun yang luas itu, menyelinaplah warna keemasan. Mentari baru saja lahir di kampung saya. Biasanya memecah awan jadi banyak kepingan yang terserak sampai ke kaki langit.
Menuju Lapau Kopi Simpang Banto
Saya beringsut keluar dari rumah, menaikkan kerah jaket, siap menjalankan rencana semalam. Saya dan kakak ingin kembali mendengar cerita dari lapau kopi.
Oh ya, lapau dalam masyarakat Minangkabau adalah semacam coffee shop, kedai kopi tempat hangout kaum lelaki. Selain menyajikan kopi, lapau berfungsi juga sebagai kedai nasi dan camilan yang biasanya berupa ketan kelapa, pisang goreng, dan aneka kue kering.
Sekalipun secara umum dikunjungi kaum lelaki, tentu tak haram juga bagi dua perempuan yang mau bernostalgia duduk sejenak di sini. Mengulang pengalaman masa kecil, menikmati ketan plus pisang goreng hangat, makanan akrab dari masa lalu.
Sekejap saja kami sudah sampai di ujung jalan, tepat di mana Kedai Kopi Banto berdiri. Merasa sayang kehilangan momen alam yang indah, saya pun berhenti di depan pintu. Berbalik dan menatap ke arah jalan yang ditumbuhi pohon pinang di kanan-kiri. Seperti yang saya harap, pelintas muncul satu per satu dari dalam kabut. Motor, sepeda, dan pejalan kaki. Dari bayang-bayang kelabu perlahan berubah membesar saat jarak kami kian dekat.
Saya menengadah, mengisi paru-paru dengan udara dingin yang membawa aroma rumput basah. Tercium pula bau jerami lembap dari sawah, bercampur harumnya kopi panas dari dalam kedai. Saat itu seolah sedang berdiri di negeri antah-berantah.
Untungnya tak lama melintas pula angkot. Deru mesinnya melumat semua imajinasi. Berlari kencang memburu penumpang ke arah Pakan Sinayan. Kebisingan ini juga yang menyadarkan bahwa saya tidak berada di negeri awan seperti dalam cerita petualangan remaja. Saya sedang berada di kampung halaman yang sedang berubah.
Kenangan Interior Lapau Banto
Lapau Kopi Simpang Banto sudah berdiri di tempatnya sekarang sejak kesadaran kanak-kanak saya tumbuh. Bangunannya karena terbuat dari material sederhana seperti papan, berganti secara berkala. Yang tak berubah adalah pengaturan interiornya. Dua meja panjang berbentuk L mengisi pojok ruang. Di sisinya berdiri bangku kayu yang juga panjang mengikuti meja. Bangku itu terlihat halus berkat sering diduduki.
Berdiri di sana lantas saja seperti film, cerita dari kedai kopi kampung berpuluh tahun bermunculan di kepala. Di atas meja tampak berjejer gelas kopi tubruk, kopi susu, teh talua (telur ayam mentah dikocok bersama teh), piring ketan, dan kue kering dalam stoples.
Budaya “Ota” dan Diskusi Lapau
Dulu, bapak-bapak berpeci duduk takzim menatap kartu di tangan. Asap rokok bergulung-gulung di udara. Desahan dan celoteh ditingkahi bunyi kocokan kartu domino. Lalu suara bantingan ke atas meja. Sepanjang ingatan saya, bunyi-bunyian seperti itu bisa berlangsung dari pagi sampai malam.
Lalu di meja sebelahnya, bapak-bapak yang tak ikut main domino mengobrol tentang sawah, kebun, panen, atau kabar dari rantau. Tak jarang gosip kehidupan lokal melompat jauh keluar area geografis yang cuma langit batasnya. Cerita di lapau kopi juga menyentuh aspek politik dan agama. Misal di politik, saking banyaknya “ota” (obrolan) lahirlah olok-olok seperti ini: “Di Senayan orang masih rapat namun di Lapau masalah sudah selesai.”
Ada pendapat bahwa aktivitas Lapau seperti itulah yang membuat kebanyakan orang Minang jadi pandai berbalas pantun, berdebat, berpendapat, bicara, dan menulis. Pendapat yang saya pikir berpijak pada tokoh-tokoh lama Minangkabau seperti Buya Hamka, Sutan Syahrir, Tan Malaka, dll. Budaya Lapau seperti ini juga dianggap sebagai akar dari karakter egaliter suku yang menarik garis keturunan melalui ibu. Atau setidaknya demikianlah yang pernah saya baca dahulu kala.
Baca juga:
Surutnya Aktivitas Berlapau
Namun, pagi ini pemandangan seperti dalam kenangan saya tak terlihat lagi. Cara berpikir kaum terdidik rupanya sudah masuk ke dalam Lapau. Setelah mengunjungi dua lapau, saya menarik kesimpulan bahwa aktivitas berlapau sedang sekarat.
Pasalnya, siapa yang bisa membantah bahwa main domino dengan taruhan dianggap tidak “baampok” (berjudi)? Siapa yang tak mengakui bahwa aktivitas berjudi sangat tercela di kehidupan sosial yang hidup bersandikan syarak dan syarak yang bersandikan Al-Qur’an? Begitu pun duduk berlama-lama menikmati sarapan hanya akan memunculkan label pemalas dan kurang bertanggung jawab dalam sistem sosial yang menuntut agar manusia produktif.
Maka yang kami temui pagi ini adalah isi Lapau yang berantakan. Dua meja panjang masih di sana, permukaannya beralas karpet plastik, dan hanya satu yang terpakai untuk melayani tamu. Sisanya disesaki perabotan dapur dan bahan makanan menunggu dimasak. Agak pilu juga melihat langit-langitnya yang sudah tambal sulam. Namun terhibur mencium aroma seduhan kopi Bukik Apik yang mengalir dari dapur. Tungku apinya juga sedang menyala.
Lapau: Parlemen Jalanan dan Jantung Sosial Pria Minangkabau

Bagi orang luar, Lapau mungkin terlihat hanya sekadar kedai kopi kayu yang sederhana di pinggir jalan Sumatra Barat. Namun, bagi masyarakat Minangkabau, Lapau adalah institusi. Ia bukan sekadar tempat transaksi jual-beli kopi setengah atau ketan goreng, melainkan sebuah ruang sosial, politik, dan edukasi non-formal yang membentuk karakter pria Minang.
Berikut adalah uraian mendalam mengenai eksistensi Lapau dalam struktur sosial masyarakat Minang. Setidaknya begitu lah yang terjadi di zaman dahulu kala.
1. Filosofi “Tigo Tungku Sajarangan”
Untuk memahami Lapau, kita harus melihat struktur sosial Minangkabau. Ada istilah Tigo Tungku Sajarangan (Tiga Tungku Sejarangan) yang menjadi pilar kehidupan:
- Masjid/Surau: Pusat pendidikan agama dan spiritual (Hablumminallah).
- Rumah Gadang: Pusat adat istiadat dan pengaturan keluarga (Matrilineal).
- Lapau: Pusat interaksi sosial dan dinamika masyarakat (Hablumminannas).
Jika Surau mengurus akhirat dan Rumah Gadang mengurus kaum kerabat, maka Lapau adalah ruang penyeimbang yang mengurus hal-hal “duniawi”. Di sinilah egaliterianisme Minangkabau dipraktikkan secara nyata.
2. “Ota Lapau”: Seni Retorika dan Diplomasi
Aktivitas utama di Lapau bukanlah minum, melainkan Maota (mengobrol). Namun, ota lapau bukan sekadar bualan kosong. Ini adalah arena latihan retorika (public speaking) bagi pria Minang.
- Sekolah Demokrasi: Di Lapau, berlaku prinsip “Duduak samo randah, tagak samo tinggi” (Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi). Seorang petani bisa berdebat sengit dengan seorang datuk atau dosen tentang politik nasional tanpa sekat hierarki yang kaku.
- Ajang Asah Otak: Topik pembicaraan bisa melompat dari harga cabai, gosip kampung, hingga geopolitik Timur Tengah dalam hitungan menit. Kemampuan menyusun argumen, mematahkan pendapat lawan dengan metafora (kiasan), dan humor satir dilatih di sini. Tidak heran banyak politisi dan diplomat ulung Indonesia lahir dari budaya ini (seperti H. Agus Salim atau Sutan Sjahrir).
- Informasi Terkini: Sebelum ada internet, Lapau adalah “Kantor Berita”. Segala info, mulai dari siapa yang akan menikah, siapa yang meninggal, hingga harga komoditas karet, beredar pertama kali di Lapau.
3. Pelarian dari Matrilineal?
Sebuah analisis sosiologis menarik menyebutkan bahwa ramainya Lapau berkaitan erat dengan sistem Matrilineal (garis keturunan Ibu).
Dalam budaya Minang, rumah (Rumah Gadang) adalah milik kaum perempuan. Pria Minang, baik sebagai anak laki-laki maupun sebagai suami (Sumando), posisinya sering dianggap “menumpang” atau tamu.
- Di rumah istri, mereka adalah Sumando (tamu yang dihormati tapi punya batasan).
- Di rumah ibu kandung, mereka tidak memiliki kamar pribadi setelah dewasa (sebelum menikah tidur di Surau).
Maka, Lapau menjadi “Rumah Kedua”. Di Lapau-lah pria Minang merasa memiliki otoritas penuh, kebebasan berekspresi, dan kenyamanan tanpa sungkan. Ini adalah ruang maskulin di tengah sistem kekerabatan yang berpusat pada wanita.
4. Kuliner dan Hiburan Khas Lapau
Lapau memiliki ekosistem kulinernya sendiri yang unik dan tidak ditemukan di restoran Padang mewah.
- Teh Talua (Teh Telur): Minuman stamina khas pria Minang. Campuran teh pekat, gula, dan kuning telur (biasanya ayam kampung atau itik) yang dikocok hingga berbuih, lalu diberi perasan jeruk nipis. Ini adalah “bahan bakar” untuk diskusi panjang.
- Kopi Kawa Daun: Di beberapa daerah pedalaman (seperti Tanah Datar), yang diminum bukan biji kopi, melainkan daun kopi yang diseduh seperti teh, diminum menggunakan batok kelapa. Sejarahnya merujuk pada era Tanam Paksa kolonial di mana rakyat dilarang memetik biji kopi berkualitas.
- Domino dan Koa (Ceki): Permainan kartu ini adalah perekat sosial. Bunyi batu domino yang dihempaskan ke meja kayu (balak) adalah musik latar khas Lapau. Bagi sebagian orang, ini judi. Tapi bagi konteks budaya Lapau tradisional, seringkali yang dipertaruhkan hanyalah siapa yang membayar kopi atau hukuman fisik ringan (dijepit telinga).
5. Transformasi dan Tantangan Modern
Seperti yang Sobat JEI tulis dalam artikel sebelumnya, budaya Lapau di pedalaman sedang mengalami pergeseran:
- Masuknya Gadget: Dulu orang duduk melingkar untuk bicara. Sekarang, seringkali fisik ada di Lapau, tapi mata tertuju pada layar smartphone. Tradisi Maota mulai tergerus oleh media sosial.
- Pergeseran Religiusitas: Gerakan pemurnian agama di Sumatera Barat perlahan mengubah pandangan terhadap aktivitas di Lapau, terutama yang berkaitan dengan permainan kartu (domino/koa) yang semakin ditinggalkan karena dianggap mudharat atau mendekati judi.
- Kafe vs Lapau: Anak muda Minang (“Gen Z”) kini lebih memilih kafe modern dengan Wi-Fi dan kopi espresso, meninggalkan Lapau kayu yang dianggap kuno.
Bertemu Kerabat di Kampung
Meneruskan cerita tadi…
Selain kami, pengunjung pagi itu hanya seorang Bapak yang kebetulan masih Mamak (Om) bagi kami. Kami panggil Mak Acai, sedang khidmat dengan segelas teh manis, dua kepal ketan, dan sepotong pisang goreng.
Pertanyaan dan jawaban kapan pulang dan kapan kembali pun bergulir. Ini semacam salam tipikal di pertemuan pertama antara mereka yang tinggal di kampung dengan yang baru pulang dari rantau. Biasanya akan disambung, “Berapa hari di rumah? Berapa orang anaknya sekarang? Apakah mereka ikut?”, dan lain sebagainya.
Usai bertukar sapa dengan Mak Acai, kepada Ibu pemilik lapau, kami memesan kopi, teh talua, dan tentu ketan beserta pelengkapnya pisang goreng.
Keistimewaan Kopi Bukik Apik
Sekalipun kedai kopi kampung, namun kopi yang tersaji di Lapau Banto berasal dari kualitas prima. Ditanam di ladang kopi Bukik Apik. Daerah penghasil kopi di Sumatera Barat ini tak jauh dari Ngarai Sianok, sebuah lokasi wisata di Bukittinggi. Mereka menghasilkan biji kopi beraroma kuat dengan kepahitan di atas rata-rata.
Sambil mengguncang-guncang piring tatakan gelas, menatap kepulan asap tipis, saya berpikir tentang Tanam Paksa yang pernah terjadi sekitar abad 18 di Sumatera Barat. Bagaimana tanaman ini dipuja dunia, punya sejarah penuh air mata, dan telah memengaruhi kehidupan jutaan umat manusia.
Sekarang orang Sumatera Barat tak harus minum rebusan air kopi kawa pengganti kopi. Sekarang mereka bisa menikmati seduhan kopi bermutu di Lapau yang demikian kusam. Sekalipun kopi hitam yang saya pesan terlalu manis, namun tak mengurangi kenangan pada lagu Elly Kasim yang memuja Kopi Bukik Apik.
Rang Bukik Apik oi marandang kopi, Tampak nan dari lereang pandakian, Sungguah maramuak hai di dalam hati, Di muko jan sampai kanampakan….
Begitulah Sobat JEI, setelah Masjid (Surau) dan Rumah Gadang, Lapau adalah salah satu institusi sosial terpenting dalam budaya Minangkabau. Jika Surau berkiblat akhirat, Rumah Gadang berkiblat adat-istiadat, Lapau adalah ruang yang berpangkal dan berujung pada masalah-masalah keduniawian.
Baca juga:
Baca juga:
- Keripik Pedas Karupuak Lado
- Eksotisme Pakan Sinayan
- Mengenal Tradisi Suku Sasak di Dusun Ende Lombok
Salam, Evi



