Menjajal kekuatan kaki dengan trekking selalu menawarkan cerita tak terduga, terutama soal tantangan fisik yang harus dihadapi. “Gunung itu tampak tinggi dari bawah. Namun dari atas, daratan bawah terlihat rendah.
Isunya bukan soal tinggi, tapi seberapa tangguh kita mendaki.” Kalimat sok motivasi ini meluncur dari bibir kerabat saya. Dia pikir saya ragu menerima ajakan jalan-jalan ini. Padahal, saya cuma termangu menatap bukit curam di belakang rumahnya.
Ketika itu otak saya sedang berhitung. Bagaimana pohon pisang dan singkong itu tidak merosot jatuh ke bawah? Apakah telapak kaki petani di sini punya kampas rem otomatis, kok mereka mudah banget turun naik ke kebun tiap hari?
Haaha Sobat JEI, ikuti kisah saya menjawab tantangan kekuatan kaki dari saudara, meresapi pesona desa, membedah uniknya sistem tanam tumpang sari, hingga momen ngos-ngosan di puncak bukit.
Menyusuri Kontur Desa di Pelukan Pegunungan Halimun
Dusun asri ini bersembunyi manis di lembah kaki Pegunungan Halimun. Secara geografis, kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak menyimpan ekosistem hutan hujan dataran rendah yang masih perawan dan berfungsi sebagai menara air raksasa bagi daerah sekitarnya.
Tak heran ya, pasokan air di sini sangat melimpah. Rumah-rumah warga berdiri rapat berdampingan dengan sawah dan ladang. Selang air mereka, dengan paralon yang tersambung langsung ke sumber air pegunungan, mengalir 24 jam. Bening, sejuk dan bersih. Dan itu semua gratis.
Jalan utamanya hanya muat dilewati satu mobil. Jadi kalau ada mobil berpapasan, yang satunya wajib berhenti. Biasanya yang berhenti yang lebih aman, mepet ke dinding pegunungan. Atau numpang singgah di halaman warga.
Antar rumah terhubung oleh gang-gang sempit. Kalau ada yang bicara dalam satu rumah, biasanya bisa di dengar oleh tetangga. Begipun bila ada yang sedang masak, aroma dapur yang wangi itu berbagi dengan tetangga juga.
Hari itu saya menginap di rumah kerabat. Sorenya, melihat saya cuma malas-malasan di teras, ia mengajak saya dan suami jalana-jalan, keliling kampung, tempat ia bermukim beberapa tahun terakhir. Rutenya melintasi jalan dusun, membelah sawah, lalu naik ke bukit curam yang membuat saya termangu tadi.
Sejujurnya, baru membayangkan saja, betis ini sudah mulai pegal.
Menikmati Sawah Terasering dan Senyum Warga
Berjalan kaki melintasi bentang alam naik turun seakan tanpa ujung memang bukan hobi utama saya. Namun, sang mantan pacar (baca: suami) rajin menghibur. Ia menyebut ini sekadar pemanasan ringan sebelum kembali menjajal kekuatan kaki dengan trekking yang lebih serius.
Sepanjang jalan, senyum malu-malu para bocah desa sukses bertindak sebagai doping alami penangkal lelah.
Ketika sampai ke deretan sawah terasering yang menghampar hijau bak permadani, benaran menghibur hati saya yang sedang resah beberapa hari terkahir.
Menurut ahli, secara agronomis, sistem terasering berundak ini sangat jenius untuk mencegah erosi tanah vulkanik pegunungan sekaligus menahan laju air.
Sayangnya, pematang sawah lebar tempat saya sering berlarian saat kecil di pedalaman Sumatera Barat sana, kini tidak ditemukan di tempat itu. Rupanya petani sini memangkas pematang menjadi segumpal lumpur tipis demi mengefisienkan lahan dan menambah barisan padi.
Meski begitu, lanskap sawah berlatar masjid dan lambaian nyiur ini tetap saja atraksi alam mewah yang meneduhkan jiwa.
Tantangan Fisik yang Harus Dihadapi, Mendaki Kebun Cengkeh
Nah, tantangan fisik yang harus dihadapi sesungguhnya baru saja dimulai. Kami mulai menanjak menyusuri ladang bukit tanpa nama. Perkampungan memagari sisi kiri, sementara sungai jernih mengalir lincah di sisi kanan.
Kami sampai ke sebuah ladang yang berisi hamparan kebun cengkeh milik dua orang penduduk lokal. Batas tanah mereka hanya patok alam berupa aliran sungai dan beberapa pohon besar.
Menurut kerabat saya yang lulusan IPB itu, tanah pegunungan Halimun yang gembur dan kaya unsur hara vulkanik memang habitat paling ideal bagi tanaman cengkeh. Di sela-sela cengkeh, tumbuh subur pohon pisang, singkong, dan kapulaga.
Praktik tumpang sari ini berjalan dengan sistem bagi hasil yang brilian. Sang pemilik lahan tak perlu keluar uang tunai menggaji perawat kebun. Sang perawat bebas memanen hasil tumpang sari sebagai upah keringatnya merawat cengkeh.
Simbiosis mutualisme yang harmoni. Mengingatkan saya pada pepatah kuno: Bumi adalah ibu yang menyusui peradaban, maka rawatlah ia dengan penuh hormat.
Ngos-ngosan di Puncak dan Filosofi Seputar Dengkul
Meski kerabat saya berkeras bukit itu tidak seberapa tinggi, tubuh saya jujur merespons. Napas saya tersengal hebat. Peluh mengucur deras dari kening hingga ujung kaki.
Maklum lah ya, secara fisiologis, mendaki tanjakan curam tanpa pemanasan cukup memang memaksa otot betis bekerja ekstra dan memacu detak kardiovaskular secara maksimal.
Saya langsung ngedeprok lemas di hamparan rumput demi meredakan jantung yang berdegup bak dentuman bedug.
Seandainya bukit ini sepuluh meter lebih tinggi, bentangan Samudera Hindia di pesisir selatan mungkin akan terlihat. Beruntunglah tidak. Jika iya, bisa-bisa saya sudah pingsan duluan sebelum sempat berswafoto.
Namun, di atas rumput ini, saya harus mengakui kebenaran celoteh kerabat saya tadi. Dari puncak ketinggian, daratan di bawah sana memang terlihat lebih rendah dan mudah dijangkau. Ah sudah lah, setelah beristirahat, segala rasa lelah menguap bersama keringat dan semilir angin bukit.
Tinggal sekarang memikirkan bagaimana cara turunnya. Agar saya tidak terlalu menderita, suami saya mencarikan sebuah ranting agar bisa saya gunakan sebagai trekking pole nanti. Alhamdulillah, doi selalu pengertian.
Nah, Sobat JEI sendiri, seberapa sering menjajal kekuatan kaki dengan trekking ringan di akhir pekan?
@eviindrawanto
