
Desa cantik dalam tempayan ini sukses mencuri perhatian saya di tengah perjalanan menuju Tasikmalaya. Memang begitu kebiasaan saya kalau traveling, mata ini memang sering iseng mencari hal-hal unik untuk bahan cerita. Kali ini, sebuah resto Sunda di Jalan Banjaran Raya, Bandung, menyuguhkan kejutan manis. Sebuah tempayan tanah liat berisi miniatur lanskap pedesaan lengkap dengan gemercik air buatan sukses membuat saya terkesima. Siapa sangka, karya penawar stres yang memadukan pahatan dan lukisan ini merupakan mahakarya bocah berusia 12 tahun! Mari kita bedah pesonanya bersama.
Menemukan Oase di Resto Sunda Banjaran
Perjalanan darat sering kali melelahkan, bukan? Maka kami memutuskan istirahat sejenak sambil makan siang dengan mampir ke sebuah rumah makan. Banyak resto yang bisa dipilih di sepanjang jalan tersebut, dan kami memutuskan mampir di tempat yang mengusung arsitektur vernakular khas Sunda. Tentu dengan dominasi ornamen bambunya.
Ohya, riset arsitektur menyebutkan, material bambu ternyata mampu menurunkan suhu ruangan secara alami dan memberi efek psikologis yang menenangkan. Makanya gak heran ya, meski tidak menggunakan AC tempat tersebut terasa adem saat kami masuk.
Setelah ke Toilet dan cuci tangan, suami saya mulai memilih menu. Seperti biasa, mata saya mulai jelalatan memperhatikan suasana sekitar. Rumah makan ini cukup menjaga kebersihannya sejak dari toilet sampai ke ruang makannya.
Nah, di atas sebuah meja pajang sudut ruangan, mata saya menemukan satu objek unik. Ada sebuah karya seni dengan deorama desa cantik dalam tempayan. Tempayan itu diletakan di meja yang menyandar ke dinding, berpadu serasi dengan suasana sejuk resto secara keseluruhan.
Saya tersenyum simpul, ah otak kreatif! Tempayan tanah liat ini bukan sekadar wadah air biasa rupanya, tapi mereka ubah jadi kanvas lukisan pedesaan di Tanah Sunda yang permai. Saya yakin karya ini butuh ketekunan kelas dunia untuk akhirnya jadi sebuah karya seni tiga dimensi yang terasa hidup dan bernapas seperti yang saya lihat.
Perpaduan Seni Relief dan Diorama yang Hidup
Saya sempat menerka-nerka, apa nama aliran seni ini? Menggabungkan teknik mematung, memahat relief, dan melukis sekaligus sungguh butuh ketelitian ekstra.
Dari riset kecil-kecilan di internet, dalam dunia kriya, saya akhirnya mengenal desa permai dalam tempayan itu sebagai seni diorama tiga dimensi atau mixed-media relief. Seniman harus membentuk kontur tanah liat basah, memahat detail bangunan mini, mengeringkannya, lalu melukisnya dengan pewarna agar tampak nyata.
Cakep!
Saya sangat menikmati cerita visual di dalamnya. Lanskap pedesaan ini berlatarkan kemegahan gunung yang menjulang. Mari kita bayangkan itu sebagai Gunung Ciremai, atap tertinggi di Jawa Barat yang memiliki ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut.
Di bawah kaki gunung kokoh itu, terhampar sawah hijau, deretan pohon kelapa melambai, beberapa pondok bambu mungil, dak aktivitas warga desa. Sungguh pemandangan puitis yang memanjakan mata.
Gemercik Air Penawar Stres di Ruang Sempit
Keunikan karya ini tak berhenti pada visualnya saja. Di sebelah muka, seniman cilik ini membuat ceruk penampungan air bening. Air ini mengalir dari selang plastik kecil yang tersembunyi cerdik di sebelah kiri. Di kanannya, terselip lampu bohlam mini. Saat lampu menyala, pendar cahayanya menonjolkan setiap lekuk relief. Miniatur desa ini pun tampil semakin eksotis.
Sebuah sungai kecil membelah tengah desa, menjadi jalur sirkulasi air yang berdesah pelan. Ini berkataitan dengan ilmu psikoakustik, bahwa suara gemercik air berfungsi sebagai white noise alami bagi lingkungan sekitar. Untuk manusia, gelombang suara ini secara ilmiah mampu menurunkan detak jantung dan meredakan kecemasan dengan cepat.
Saya langsung berpikir, desa cantik dalam tempayan ini sangat cocok mengisi ruang kerja kita. Benda ini bisa menjadi solusi brilian bagi Sobat JEI yang tinggal di apartemen. Terutama buat hunian yang minim halaman hijau. Kita mendapat keteduhan ekstra tanpa harus menyita banyak ruang.
Yah sebuah karya yang jenius.
Mahakarya Bocah 12 Tahun yang Menginspirasi
Selesai menyantap hidangan lezat, rasa penasaran saya membawa melangkah ke kasir dan bertanya. Siapa gerangan maestro di balik ide brilian itu? Jawaban sang kasir sungguh membuat saya merinding kagum.
Ternyata, pencipta mahakarya ini adalah anak salah seorang karyawan yang baru berusia 12 tahun! Duh, sungguh talenta yang luar biasa. Secara neurologis, otak anak usia pra-remaja memang berada pada puncak plastisitasnya. Masa ini sangat ideal untuk menyerap imajinasi dan mengekspresikan kreativitas seni tingkat tinggi. Tapi tidak semua anak 🙂
Sebelum kembali melanjutkan perjalanan, saya merapal doa kecil di dalam hati. Semoga anak berbakat ini kelak menemukan jalan terang untuk terus berkreasi sesuai passion-nya. Dunia kita selalu butuh lebih banyak tangan terampil yang mampu menciptakan kedamaian lewat karya seni yang tulus.
eviindrawanto.com
