Key Takeaways
- Penulis merindukan kegiatan menulis dan menyadari pentingnya konten orisinal untuk blognya.
- Menulis bisa membantu mengatasi writer’s block dan memiliki manfaat bagi kesehatan mental.
- Menulis menurunkan stres, menjadi sarana healing trauma, dan meningkatkan kualitas tidur.
- Strategi untuk kembali menulis meliputi menulis jurnal rasa syukur dan menghilangkan ekspektasi kesempurnaan.
- Penulis ingin berbagi pengalaman positif dan mengajak pembaca untuk kembali menulis.
Halo Sobat JEI!
Weleh, sudah berapa lama jurnal blog ini tidak di-update? Rasanya tidak perlu dihitung dengan jari, karena pasti jari saya tidak cukup. Yang jelas, rasanya sudah sekian purnama terlewati. Maaf ya, bukan maksud hati menelantarkan Sobat JEI dengan sajian basi.
Sebelum menulis post ini, saya sempat membayangkan berbagai alasan klise untuk pembenaran. “Sibuk” adalah top of mind. Entah sibuk benaran atau cuma excuses. Antara kenyataan dan “ngeles” itu bedanya memang setipis kulit bawang, kan?
Namun, ada dorongan kuat untuk kembali membuka dashboard. Seperti pohon yang perlu disiram agar tumbuh subur, blog ini pun butuh pupuk berupa konten orisinal agar tetap membawa manfaat. Kali ini, saya tidak hanya ingin curhat, tapi juga berbagi hasil deep research tentang kenapa aktivitas sederhana ini ternyata sangat powerful untuk kita.
Mengapa Kita Sering Mengalami Writer’s Block?
Sebenarnya, bukan tidak mau kembali menulis, tapi seringkali ide itu seperti asap—melayang-layang dan susah ditangkap. Duduk di depan laptop, jari-jari kaku, dan pikiran mendadak kosong (blank).
Di era modern ini, fenomena tersebut wajar. Kita sering terjebak dalam gangguan digital dan tuntutan produktivitas yang serba cepat. Akibatnya, otak kita kelelahan sebelum sempat menuangkan kata. Padahal, menulis adalah gerbang menuju dunia imajinasi tanpa batas.
Baca juga:
Manfaat Menulis Bagi Kesehatan Mental (Berdasarkan Riset)
Ternyata, Sobat JEI, menulis bukan sekadar merangkai kata. Berbagai studi psikologi modern menunjukkan bahwa menulis memiliki dampak terapeutik yang nyata.
1. Menurunkan Tingkat Stres dan Kecemasan
Sebuah studi dari National Center for Biotechnology Information (NCBI) mengungkapkan bahwa ekspresi tertulis dapat menurunkan level kortisol (hormon stres). Saat kita menuangkan kekhawatiran ke atas kertas, kita sedang melakukan detoksifikasi mental. Beban yang menumpuk di kepala perlahan terurai, membuat perasaan menjadi lebih lega.
2. Sarana Healing Trauma (Expressive Writing)
Metode expressive writing atau menulis ekspresif terbukti ampuh membantu seseorang pulih dari pengalaman traumatis. Dengan menuliskan emosi terdalam secara jujur, kita membantu otak memproses kejadian menyakitkan menjadi narasi yang lebih terstruktur. Ini adalah bentuk self-therapy yang murah namun efektif.
3. Meningkatkan Kualitas Tidur
Sering susah tidur karena overthinking? Cobalah menulis to-do list atau jurnal singkat sebelum tidur. Memindahkan “beban pikiran” ke dalam tulisan memberi sinyal pada otak bahwa masalah tersebut sudah “ditangani”, sehingga kita bisa beristirahat dengan lebih tenang.
Menulis Sebagai Hobi Produktif dan Pengasah Otak
Selain untuk kesehatan mental, menjadikan menulis sebagai hobi produktif juga melatih ketajaman kognitif kita.
- Melatih Fokus dan Disiplin: Menulis memaksa kita untuk single-tasking di tengah dunia yang memuja multitasking. Ini melatih otot fokus kita agar tidak mudah terdistraksi.
- Memperkuat Memori: Menulis dengan tangan (atau mengetik dengan sadar) meningkatkan retensi informasi. Kita cenderung lebih mengingat apa yang kita tulis daripada apa yang sekadar kita baca.
- Meningkatkan Kreativitas: Seperti otot, kreativitas akan melemah jika tidak dilatih. Rutin menulis, meskipun hanya satu paragraf per hari, menjaga aliran ide tetap lancar.
Strategi Kembali Menulis di Era Modern
Dulu saya mungkin mengandalkan konsep Law of Attraction (LoA) atau buku The Secret untuk memvisualisasikan keinginan menulis.
Sebuah buku yang memaksa saya menengok kembali ke belakang, ke masa kanak-kanak dan remaja. Kala itu, kalau bicara soal menghayal, Alhamdulillah, saya dibekali bakat sebagai penghayal alami.
Baca juga: Blog Dalam Perjalanan Hidup Saya
Kekuatan Imajinasi: Dari Lamunan Menjadi Visi
Dulu, kebiasaan ini sering mendatangkan masalah. Tak jarang saya kena tegur Nenek, Ibu, dan orang-orang sekitar karena dianggap terlalu asyik dengan dunia sendiri. Apalagi kalau disuruh membayangkan yang enak-enak dan yang asyik-asyik, wah, itu sih makanan sehari-hari saya. Sangat mudah!
Namun, siapa sangka bakat masa kecil yang dulu dianggap “masalah” itu, kini justru menjadi aset berharga.
Kemampuan berimajinasi ini mestinya bisa saya gunakan sebagai acuan untuk kembali menulis. Mestinya, saya tidak akan menemui kendala “buntu ide” kalau diminta membayangkan masa depan bisnis kami. Saya bisa dengan mudah memvisualisasikan perkembangannya, kenaikan omsetnya, hingga kesempatan membuat hidup orang-orang yang terlibat di dalamnya menjadi lebih baik.
Mulai dari perbaikan kepribadian, spiritual, sampai ekonomi tim kami. Logikanya sederhana: kalau kehidupan mereka lebih baik, lingkungan sekitarnya akan membaik juga. Dan perlahan, dunia ikut membaik.
Yah, kalau digunakan dengan benar, sebenarnya pikiran saya tidak pernah sepi. Energi dari imajinasi inilah yang akan saya gunakan sebagai bahan bakar agar rajin update blog lagi. Mengubah lamunan menjadi visi yang tertulis.
Jadi, konsep The Secret masih relevan, tapi kini saya melengkapinya dengan strategi taktis:
- Mulai dari Jurnal Rasa Syukur: Tidak perlu menulis esai panjang. Cukup tuliskan tiga hal yang disyukuri hari ini. Ini membangun kebiasaan positif tanpa beban.
- Lupakan Kesempurnaan: Draf pertama pasti berantakan, dan itu tidak apa-apa. Izinkan diri sendiri menulis hal yang “buruk” dulu, edit belakangan.
- Jadikan Rutinitas Kecil: Luangkan waktu 15 menit saja. Konsistensi jauh lebih penting daripada durasi.
Jadi, Sobat JEI, menulis adalah perjalanan ke dalam diri. Di tengah kesibukan mengurus bisnis atau rumah tangga, menulis menjadi ruang jeda yang menyehatkan jiwa.
Sekarang, saya sudah kembali. Semoga tulisan ini menjadi penanda bahwa semangat itu masih menyala. Bagaimana dengan Sobat JEI, kapan terakhir kali menuangkan isi kepala ke dalam tulisan?
- Baca juga tentang cita-cita saya di hari tua, menulis diantaranya: Menyiapkan Hobby Untuk Hari Tua
Menjaga Pikiran, Mewujudkan Kenyataan
Sekarang, rasanya saya sudah menemukan “tambang emas” untuk kembali menulis. Inspirasi itu datang dari buku The Secret. Saya mencoba mempraktikkannya, namun dengan satu catatan penting: saya harus berhati-hati mengelola isi pikiran sendiri.
Ternyata, tidak salah orang tua dulu sering menasihati agar kita selalu waspada dengan apa yang kita batin. Sebab, isi pikiran yang dominan perlahan akan memadat menjadi realita. Artinya, PR saya sekarang adalah memastikan pikiran-pikiran tersebut menunjang perkembangan pribadi, bukan sebaliknya.
Buktinya sudah ada di depan mata. Alhamdulillah, saat ini perkembangan usaha kami lumayan pesat. Omset meningkat. Rasanya senang, walau tak dipungkiri sering membuat saya kalang-kabut. Harus bekerja dari subuh sampai subuh lagi.
Lelah? Pasti. Tapi lelah ini adalah jawaban dari Allah semesta alam.
Pikiran-pikiran sukses yang selama ini saya pelihara, perlahan mengambil bentuk menjadi realita. Maka, kembali menulis di blog ini adalah bentuk rasa syukur saya. Saya ingin membagi pengalaman, agar Sobat JEI yang membaca juga ikut terpercik inspirasi. Bahwa apa yang kita pikirkan, bisa kita wujudkan.
Yuk, mulai menulis lagi!
Baca juga: Ungkapan Cinta Anak Berbudi
- Baca juga tentang cita-cita saya di hari tua, menulis diantaranya: Menyiapkan Hobby Untuk Hari Tua


