Membuat Gula Semut Aren Sebagai Usaha Sampingan

Membuat gula semut aren
Ibu Pembuat Gula Semut

Membuat gula semut aren  bukan lah mata pencaharian utama bagi sebagian besar perajin. Mereka adalah petani yang bercocok tanam di sawah dan ladang. Utamanya padi.  Disusul dengan menanam aneka rempah seperti cengkeh dan kapol (kapulaga). Bahkan jika datang musim cengkeh dan kapol, mereka tidak membuat gula semut aren. Pohon aren ditinggalkan dan tidak disadap. Keterbatasan tenaga membuat mereka memilih karena keuntungan dari cengkeh dan kapulaga jauh lebih besar.

Hasil ladang yang lain adalah kayu-kayuan. Lalu ada pisang, durian dan nangka.

Usaha yang di dukung sumber daya alam berlimpah bila di kelola dengan baik tentu akan mensejahterakan masyarakatnya. Tambahkan kreativitas, ketekunan dan semangat mensejahterakan keluarga , Insya Allah usaha tersebut akan berbuah manis.

Lebih Suka Menjual Pada Tetangga

Seperti salah seorang ibu yang membuat gula semut aren yang pernah saya temui. Tiap minggu dia menyetor 50-60 Kg  gula semut aren kepada pengumpul. Terkadang dia tidak perlu menyetor karena tetangga yang akan hajatan membeli lansung ke rumahnya.

Sebetulnya si ibu lebih suka menjual produknya kepada tetangga dari pada kepada pengumpul. Tetangga  membeli lebih mahal ketimbang pengumpul. Maklum end user. Disamping dia juga tak perlu keluar ongkos ojek untuk membawa gula semut dari tempat tinggalnya ke tempat pengumpulan.

Sayangnya tetangga tidak hajatan  tiap hari. Kebutuhan mereka terhadap gula aren musiman. Mau tidak mau ibu perajin gula semut aren ini harus membuang produksinya ke pasar. Gula semut aren dibutuhkan pasar sepanjang tahun. Sebagian disebarkan dalam pasar tradisional dan sebagian lain ditampung industri makanan.

Petani Tak Selalu Miskin

Menurut saya jumlah 50-60 Kg/Minggu  lebih dari lumayan. Ingat ini hanya usaha sampingan. Apa lagi jika harga gula sedang meningkat. Contohnya pada saat bulan Ramadhan pasti terjadi  lonjakan permintaan yang disusul kenaikan harga. Maklum semua orang kan ingin makanan dan minuman yang manis-manis. Kalau sudah begitu harga gula aren bisa mencapai 25.000/Kg.

Kebanyakan petani Indonesia memang miskin. Tapi jadi petani tak selalu miskin. Contohnya petani yang menyambi membuat gula semut aren ini.

@eviindrawanto

29 thoughts on “Membuat Gula Semut Aren Sebagai Usaha Sampingan

  1. lho cengkeh sekarang emang udah bagus lagi harganya ya..?
    ga pernah ngikutin lagi sejak cengkeh ancur dan kebun di kampung dibabat habis..

      1. sungguh saya sangat sedih mengingat cengkeh dikampung di lereng semeru sana harus dibabat habis, padahal sebelumnya meski nggak banyak ia menjadi sumber samping pendapatan orang-orang di kampung saya. Anak manja yang bikin sengsara banyak orang, semoga ALloh Ta’ala memberikan hidayah pada nya.

        1. Amin. Pakies, aku juga berharap anak manja itu mengembalikan kekayaan rakyat yg dirampasnya dulu. Entah dalam bentuk sedekah atau program sosial 🙂

  2. Baru tahu kalo cengkeh dan kapulaga harganya lebih mahal dari gula semut aren Mba Evi. Kebayang kalo seminggu bisa menghasilkan 50-60 kg. Kalo diseriusin bisa jadi penghasilan rutin yang menguntungkan ya Mba Evi.

    1. Sebetulnya sih begitu Mas Dani. Tapi bercocok tanam merupakan kultur yg sudah tewariskan dari jaman nenek moyang. Sawah dan padi sebagai sentral ekonomi dan sumber pangan utama lebih penting dari pohon aren 🙂

  3. iya, sudah saatnya mindset petani itu orang miskin harus di ubah. Tidak semua petani miskin, bertani juga bisa membuat orang jadi kaya

    1. Betul sekali Mbak. mindset bertani identik dengan kemiskinan mesti dibuang jauh-jauh. Kalau tidak, tak seorang anak mudapun akan mau menerjunkan diri ke sektor pertanian..Itu kan juga penyebab lulusan universitas pertanian pada kerja di bank hehehe…

  4. Mungkin para petani perlu memenej pendapatannya dg lebih baik ya mbak…sehingga penghasilannya relatif stabil untuk menunjang kesejahteraan keluarganya… Semoga saja yg sdh berhasil mau menularkan pengetahuannya kepada yg belum berhasil shg sama2 berhasil dan petani2 tak miskin lagi 🙂

    1. Amin. Dan yah mereka juga konsumtif Mbak Mechta. Biasanya sih terhadap motor, gadget, alat2 elektronik dan pulsa 🙂

  5. Sayangnya, anak-anak muda sekarang sudah banyak yang tidak tertarik pada pertanian. Mereka banyak yang memilih pekerjaan di luar itu (asal bukan petani). Memangnya kenapa dengan pekerjaan ini ?, padahal potensi SDA baik lahan maupun SDM kalo dikembangkan secara maksimal, menjadi petani adalah pilihan yang tepat.

    1. Mungkin karena selama ini pertanian diidentikan dengan kerja keras tapi hasil sedikit Pakies. Kebanyakan petani kita kan emang lahannya sempit. Lahan sempit hasil kan sedikit. Sudah begitu tidak ahli pula dalam marketing.Ditambah lagi kebijakan pemerintah kurang berpihak ke pada petani seperti ini. Yah tali bertali deh masalahnya. Yang membuat anak2 muda berpikir bahwa bertani masa depannya suram. Lagi pula cuma sedikit yang seperti Bob Sadino Pak 🙂

  6. Mbak Eviiii…sepanjang kita mau bekerja keras, rezeki itu pasti datang…contohnya pembuat gula semut aren ini.
    Kreativitas mereka selain bercocok tanam, menghasilkan imbalan yang lumayan 🙂

  7. baru tahu mbak ada gula smeut aren, belum pernah dengar.
    bagus jg ya kalau usaha sampingannya spt di atas mbak

    btw, mbak Evi, aku tetap hrs nulis data data lagi nih sebelum ngirim komen, maaf y ambak kl aku ngeluh

    1. Mbak Ely, sudah aku hapus centangannya untuk mengisi data. Aku bingun nih Mbak kok begini terus…Ntar aku coba buka lagi . Tak apa mengeluh kok Mbak, terima kasih malah. itu kan demi kebaikan aku juga . Makasih ya Mbak 🙂

  8. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Evi…

    Seperti gula semut aren itu, seperti itu juga saya kemari. Maaf mbak, jika sibuk selalu jarang ngeblog ke sana sini.

    Inilah pertama kalinya saya mendengar gula aren ya. Sayangnya tidak difotokan rupa dan bentuk gula aren itu agar dapat dilihat bentuknya. Tapi saya yakin gula aren memang enak seperti yang digambarkan oleh mbak di atas.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 😀

    1. Waalaikumsalam Mbak Siti,

      Hehehe..Iya saya tak menyertakan foto gula arennya. Tapi gula aren, kurang lebih sama dengan Gula Melaka kok Mbak. Kalau gula aren berasal dari pohon enau (arenga pinnata), kalau gula melaka dari pohon nipah (Nypa Fruticans). Jadi mereka sama-sama berasal dari pohon palem (palmae). Maka keduanya disebut juga palm sugar 🙂

      Salam manis gula aren Mbak 🙂

  9. ya.. lumayan banget ya Mbak Evi..Apalagi jika diingta itu adalah usaha sampingannya. saya juga setuju, petani tidak selalu miskin. Saya juga sering menemukan banyak petani yang cukup berhasil Mbak..

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?