Key Takeaways
- Penulis merasakan panggilan untuk mengunjungi Lembah Baliem di Papua setelah mengenal Suku Dani pada tahun 1973.
- Festival Budaya Lembah Baliem adalah saat terbaik untuk melihat tradisi Suku Dani, Lani, dan Yali berkumpul.
- Kampung Adat Mumi Sompaima menyimpan mumi Wim Motok Mabel, sosok panglima perang yang sudah hampir 300 tahun.
- Tradisi potong jari (Ikipalin) masih terlihat di kalangan generasi tua Suku Dani sebagai simbol duka cita.
- Pengunjung disarankan untuk menghormati adat dan meminta izin sebelum memotret Suku Dani Papua.
Teman-teman, pernahkah kalian merasa dipanggil oleh sebuah tempat yang jauh, yang namanya hanya pernah dibaca di buku atlas sekolah? Bagi saya, panggilan itu datang dari Lembah Baliem di Papua.
Saya pertama kali mengenal Lembah Baliem dan kehidupan Suku Dani Papua pada tahun 1973, saat masih duduk di bangku SMP. Kala itu, jagat media Indonesia geger oleh berita seorang jurnalis foto asal California bernama Wyn Sargent yang menikah dengan Ketua Suku Obahorok. Pernikahan di Desa Kurulu, Kabupaten Jayawijaya itu memicu kontroversi luar biasa. Ada yang bilang itu eksploitasi, ada yang curiga dia mata-mata. Namun, di balik semua drama itu, imajinasi saya justru melayang ke dataran tinggi yang dikelilingi pegunungan terjal itu.
Mimpi itu tersimpan rapi hingga puluhan tahun kemudian, semesta mengizinkan saya mendarat di sana. Bukan hanya untuk melihat Suku Dani, tetapi juga untuk menyaksikan Festival Budaya Lembah Baliem yang legendaris.
Jika teman-teman sedang merencanakan paket wisata Papua atau sekadar ingin tahu lebih dalam tentang sejarah mumi Papua, duduklah sejenak. Saya akan ceritakan perjalanan magis ini.
Berkenalan dengan Suku Dani, Sang Penghuni Lembah
Kehebohan Wyn Sargent dulu memaksa saya membuka peta. Ternyata, Lembah Baliem berada di Wamena, sebuah dataran tinggi di Papua Pegunungan (dulu Irian Barat), tak jauh dari kawasan Taman Nasional Lorentz.
Media internasional sering menjuluki mereka sebagai head hunters karena sejarah perang antar suku yang kental. Seorang pria Dani konon menunjukkan kejantanan dengan kepala musuh. Seram? Mungkin. Tapi itu tak menyurutkan niat saya.
Agustus lalu, saya terbang dari Jakarta menuju Jayapura, lalu lanjut dengan pesawat kecil ke Wamena. Momennya pas sekali, karena jadwal Festival Lembah Baliem sedang berlangsung. Ini adalah waktu terbaik untuk melihat berkumpulnya tiga suku besar: Dani, Lani, dan Yali.
Tiba di Wamena: Gerbang Menuju Jantung Papua
Mendarat di Bandara Wamena, langit menyambut dengan warna biru yang tak masuk akal cerahnya. Guratan awan putih jernih menegaskan satu hal: di sini bebas polusi.
Dari jendela pesawat sebelum mendarat, hamparan hijau Lembah Baliem Wamena dengan Sungai Baliem yang berkelok-kelok sudah membayar lunas rasa lelah perjalanan 8 jam dari Jakarta. Udara sejuk langsung memeluk paru-paru begitu kaki memijak tanah. Karena akses darat yang sulit (hanya bisa tembus lewat Jalan Trans Papua yang menantang), bandara ini adalah nadi kehidupan. Semua logistik, dari semen sampai mi instan, diterbangkan ke sini. Tak heran jika biaya hidup dan harga barang di Wamena tergolong mahal.
Mengunjungi Kampung Adat Mumi Sompaima – Kurulu
Perjalanan bermobil dari bandara menuju Kampung Adat Mumi Sompaima di Distrik Kurulu memakan waktu sekitar 45 menit. Pemandangannya? Jangan tanya. Bukit-bukit berbatu yang telanjang dan gagah seolah berteriak, “Ini Papua, Kawan!” Rasanya seperti bukan di Indonesia yang biasa saya kenal di Jawa atau Sumatera.
Bertemu Mumi Wim Motok Mabel
Sesampainya di gerbang kampung, kami disambut oleh masyarakat Suku Dani asli. Para pria mengenakan koteka (penutup kemaluan dari labu air), sementara wanita tua bertelanjang dada dengan noken Papua (tas rajutan kulit kayu) tersandang di kepala.
Daya tarik utama di sini adalah Mumi Wim Motok Mabel. Mumi ini bukan sembarang mayat yang diawetkan, melainkan sosok panglima perang yang disegani. Usianya diperkirakan sudah hampir 300 tahun! Diawetkan dengan cara diasapi (balm) dan disimpan di dalam honai (rumah adat), mumi ini berwarna hitam pekat seperti arang. Posisinya unik, jongkok dengan kepala menengadah ke langit, seolah masih menjaga anak cucunya.
Tradisi Potong Jari (Ikipalin)
Di sini, saya melihat langsung bukti dari tradisi potong jari atau yang disebut Ikipalin. Seorang ibu tua menyambut kami dengan jari-jari tangan yang tak lagi utuh. Dalam budaya Suku Dani, memotong jari adalah simbol duka cita mendalam saat kehilangan anggota keluarga.
Mendengarnya saja membuat ngilu. Prosesnya bisa menggunakan pisau batu atau mengikat jari dengan tali hingga mati rasa sebelum dipotong. Meski pemerintah sudah melarang, jejak tradisi ini masih terlihat jelas pada generasi tua. Ini adalah bahasa cinta dan kesedihan yang ekstrem, namun nyata.
Tips Fotografi dan Etika Memotret Suku Dani
Teman-teman, ini poin penting. Tips memotret Suku Dani tidak sembarangan. Jangan mentang-mentang mereka terlihat eksotis, kita bisa jepret sana-sini seenaknya.
- Minta Izin Dulu: Selalu minta izin sebelum memotret, terutama foto close-up.
- Negosiasi Harga: Ya, ada “tarif” untuk memotret. Biasanya disepakati di awal per orang atau per grup. Apakah ini komersialisasi? Iya. Tapi menurut saya, ini adil. Kita mengambil gambar mereka untuk konten blog, Instagram, atau bahkan lomba foto, masa mereka tidak dapat apa-apa?
- Berbagi Rezeki: Anggaplah uang yang kita keluarkan (bisa puluhan ribu hingga ratusan ribu tergantung kesepakatan) sebagai cara mendistribusikan rupiah ke saudara kita di pedalaman.
Di Desa Wisata Sompaima, biasanya ada tarif paket untuk mengeluarkan mumi dari Honai dan berfoto bersama warga. Pastikan ketua rombongan kalian sudah membereskannya agar suasana tetap cair dan enak.
Kemeriahan Festival Budaya Lembah Baliem
Puncak perjalanan ini adalah Festival Lembah Baliem. Jika teman-teman berencana datang, catat bahwa festival ini biasanya digelar setiap bulan Agustus (cek jadwal Festival Lembah Baliem 2026 sekitar tanggal 6-10 Agustus). Lokasinya seringkali di Distrik Wosilimo/Usilimo.
Simulasi Perang Antar Suku
Atraksi utamanya adalah simulasi perang. Ribuan prajurit dari suku Dani, Lani, dan Yali turun ke lapangan. Tubuh mereka dilumuri lemak babi dan arang, wajah dihias garang, lengkap dengan tombak, panah, dan parang.
Dulu, perang antar suku adalah cara mereka mempertahankan harga diri, merebut kembali hak (seperti masalah perempuan atau pencurian ternak babi), dan menjaga wilayah. Namun sekarang, perang itu diubah menjadi tontonan budaya yang memukau. Suara teriakan perang, debu yang beterbangan, dan formasi “pusaran” yang saling melindungi benar-benar membuat bulu kuduk merinding. Tenang saja, ini aman kok untuk penonton!
Cara Menuju ke Lembah Baliem (Wamena)
Bagi teman-teman yang ingin menyusun itinerary wisata Wamena, berikut panduan cara menuju ke sini:
- Terbang ke Jayapura (DJJ): Cari penerbangan dari kota asal (Jakarta/Surabaya/Makassar) menuju Bandara Sentani, Jayapura.
- Penerbangan Sambungan ke Wamena (WMX): Dari Sentani, lanjutkan penerbangan ke Wamena. Maskapai yang melayani rute ini biasanya Trigana Air atau Wings Air. Waktu tempuh sekitar 45-60 menit.
- Jalur Darat? Belum disarankan untuk turis umum karena medan yang sangat berat dan faktor keamanan, kecuali kalian petualang ekstrem dengan persiapan matang lewat Jalan Trans Papua.
Tips Traveling ke Wamena Papua
Agar liburan kalian aman dan nyaman, simak tips berikut:
- Surat Jalan (SKJ): Dulu turis asing wajib lapor ke kepolisian (Surat Keterangan Jalan). Untuk turis domestik, peraturan bisa berubah-ubah, tapi sebaiknya bawa fotokopi KTP dan pas foto berjaga-jaga jika ingin masuk ke area pedalaman yang lebih jauh.
- Bawa Uang Tunai: ATM tersedia di kota Wamena, tapi di desa adat seperti Kurulu, cash is king. Siapkan pecahan kecil untuk membeli suvenir noken atau tips foto.
- Hormati Adat: Jangan sembarangan masuk ke area keramat atau Honai tanpa izin.
- Siapkan Fisik: Udara di sini tipis dan dingin karena dataran tinggi. Bawa jaket tebal dan obat-obatan pribadi.
- Beli Oleh-oleh: Belilah kopi Wamena yang harum atau noken langsung dari mama-mama Papua. Itu sangat membantu ekonomi mereka.
Lembah Baliem bukan sekadar destinasi wisata, ia adalah lorong waktu. Melihat ketangguhan mereka, saya belajar bahwa kebahagiaan dan kebanggaan bisa tumbuh subur meski di tengah keterbatasan dan alam yang keras.
Jadi, kapan teman-teman menyusul ke sini? Papua itu indah, dan saudaranya ramah-ramah!
Baca juga Festival Budaya Irau Malinau
Foto-Foto Kenangan
Baca juga:
- Festival Bau Nyale Lombok Pesta Rakyat
- Parade Budaya Festival Pesona Bau Nyale 2019
- Festival Budaya Irau Malinau
- Musik Bumiputra Dunia di Rainforest World Music Festival 2018
- Keunikan Festival Sinulog Cebu
Baca juga:
- Masak di Rumah Adat Lonthoir
- Upacara Adat Dayak Sa’ban
- Festival Teluk Semaka : Pemberian Gelar Adat di Lampung
- Mengenal Adat Lampung Lewat Pawai Budaya Festival Krakatau
Catatan Kecil Saya: Cara Hidup Yang Saling Melindungi
Satu ciri yang bisa saya tandai saat seperti ini adalah, mereka berkumpul, saling berhadapan membentuk pusaran. Tak begitu peduli kepada fotografer yang terus memotret, pusaran itu terus membelakangi seolah tak tertembus. Malah seolah saling melindungi agar jangan difoto semena-mena.
Tapi saya pikir ini lah bentuk relasi masyarakat Suku Dani  Sehari-hari. Sebagai suku yang terkenal gemar berperang, ikatan antar anggota adalah segalanya. Mereka harus saling melindungi guna bertahan dari kehidupan antar suku yang keras.
Baca juga:







