Daftar isi
Walimatul Hamli adalah tradisi syukuran atau selamatan yang dilaksanakan saat usia kehamilan mencapai 4 bulan (sekitar 16-17 minggu). Dalam tradisi Islam dan budaya masyarakat Indonesia, momen ini dianggap istimewa karena dipercaya sebagai waktu di mana ruh ditiupkan ke dalam janin.
Tujuan utama dari acara ini adalah memohon perlindungan kepada Allah SWT agar ibu dan janin diberi kesehatan, serta anak yang dikandung kelak menjadi anak yang saleh atau salehah.
Secara bahasa, Walimatul Hamli berasal dari dua kata, yaitu walimah (jamuan/kenduri) dan hamli (masa hamil). Jadi, secara harfiah istilah ini berarti jamuan makan yang diadakan pada masa kehamilan. Di beberapa daerah di Indonesia, tradisi ini juga dikenal dengan istilah “Ngapati” atau “Mapati” (berasal dari kata empat).
Makna Walimatul Hamli dan Dalilnya
Acara ini sejatinya adalah bentuk tasyakur bin ni’mah (wujud rasa syukur) pasangan suami istri kepada Allah SWT atas amanah keturunan yang diberikan. Selain bersyukur, momen ini dimanfaatkan untuk bersedekah (melalui jamuan makan) dan memohon doa dari kerabat serta tetangga.
Mengapa dilaksanakan saat usia 4 bulan?
Pemilihan waktu 4 bulan (atau sekitar 120 hari) bukan tanpa alasan. Hal ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW mengenai proses penciptaan manusia dan momen ditiupkannya ruh ke dalam janin.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nuthfah (sperma), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu juga, lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu juga. Kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan untuk mencatat empat hal: rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan apakah ia celaka atau bahagia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadis tersebut, usia 4 bulan adalah momen krusial di mana ruh ditiupkan dan takdir sang jabang bayi mulai ditetapkan.
Oleh karena itu, para ulama dan masyarakat Muslim mentradisikan pembacaan ayat suci Al-Quran dan doa bersama di waktu ini. Tujuannya adalah memohon kepada Allah SWT agar janin yang telah bernyawa tersebut ditetapkan takdir yang baik, menjadi anak yang saleh/salehah, sehat sempurna, dan membawa keberkahan bagi orang tuanya.
Lantas, apa saja yang perlu dipersiapkan untuk acara 4 bulanan ini? Berikut panduannya:
Susunan Acara Walimatul Hamli Sederhana
Walimatul Hamli 4 bulan untuk keponakan saya kemarin diselenggarakan bersama kelompok pengajian ibu-ibu Majelis Taklim. Berikut rangkaian acaranya step by step:
1. Membaca Doa
Berikut adalah doa yang masyhur dibaca saat syukuran 4 bulan kehamilan untuk memohon perlindungan dan kebaikan takdir bagi janin:
Doa Walimatul Hamli (Arab):
<p style=”text-align: center; font-size: 20px; line-height: 1.8;”> اَللّٰهُمَّ احْفَظْ وَلَدِيْ مَادَامَ فِيْ بَطْنِ زَوْجَتِيْ وَاشْفِهِ أَنْتَ الشَّافِيْ لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَايُغَادِرُ سَقَمًا. اَللّٰهُمَّ صَوِّرْهُ فِيْ بَطْنِ زَوْجَتِيْ صُوْرَةً حَسَنَةً وَثَبِّتْ قَلْبَهُ إِيْمَانًا بِكَ وَبِرَسُوْلِكَ. اَللّٰهُمَّ أَخْرِجْهُ مِنْ بَطْنِ زَوْجَتِيْ وَقْتَ وِلَادَتِهَا سَهْلًا وَتَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهُ صَحِيْحًا كَامِلًا وَعَاقِلًا حَاذِقًا عَالِمًا عَامِلًا. اَللّٰهُمَّ طَوِّلْ عُمْرَهُ وَصَحِّحْ جَسَدَهُ وَحَسِّنْ خُلُقَهُ وَأَفْصِحْ لِسَانَهُ وَأَحْسِنْ صَوْتَهُ لِقِرَاءَةِ الْحَدِيْثِ وَالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ بِبَرَكَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. </p>
(Catatan: Teks di atas menggunakan lafal “fi bathni zaujati” atau “di perut istriku” karena biasanya doa ini dipimpin oleh suami atau pemuka agama saat acara. Jika dibaca sendiri oleh Ibu hamil, ganti kata tersebut menjadi “fi bathnii” yang artinya “di perutku”.)
Bacaan Latin:
Allaahummahfazh waladii maa daama fii bathni zaujatii wasyfihi anta asy-syaafii laa syifaa-a illaa syifaa-uka syifaa-an laa yughaadiru saqaman.
Allaahumma shawwirhu fii bathni zaujatii shuuratan hasanatan watsabbit qalbahu iimaanan bika wa bi rasuulika.
Allaahumma akhrijhu min bathni zaujatii waqta wilaadatihaa sahlan wa tasliiman.
Allaahummaj’alhu shahiihan kaamilan wa ‘aaqilan haadziqan ‘aaliman ‘aamilan.
Allaahumma thawwil ‘umrahu wa shahhih jasadahu wa hassin khuluqahu wa afshih lisaanahu wa ahsin shautahu li qiraa-atil hadiitsi wal qur’aanil ‘azhiimi bi barakati sayyidinaa Muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Terjemahan Artinya:
“Ya Allah, jagalah anakku selama ia berada di dalam perut istriku, dan sembuhkanlah dia, sesungguhnya Engkau-lah Zat yang menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.
Ya Allah, bentuklah dia di dalam perut istriku dengan rupa yang bagus, dan tetapkanlah hatinya dalam keimanan kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu.
Ya Allah, keluarkanlah dia dari perut istriku pada saat kelahirannya nanti dengan mudah dan selamat.
Ya Allah, jadikanlah dia anak yang sehat, sempurna, berakal, cerdas, berilmu, dan beramal.
Ya Allah, panjangkanlah umurnya, sehatkanlah badannya, baguskanlah akhlaknya, fasihkanlah lisannya, dan merdukanlah suaranya untuk membaca hadis dan Al-Qur’an yang agung dengan berkah Baginda Nabi Muhammad SAW
2. Pembacaan Surat Yusuf
Lalu dilanjutkan dengan pembacaan surat Yusuf oleh ibu si calon bayi.
Seperti teman-teman ketahui, dalam agama Islam, Yusuf adalah seorang Nabi yang sangat rupawan disertai pribadi yang agung. Kemampuannya menafsir mimpi dan kepandaiannya dalam berdiplomasi diharap ikut menurun kepada anak yang sedang di kandung ibu. Itu lah sebab mengapa dalam tiap upacara kehamilan 4 atau 7 bulanan surat Yusuf selalu dikumandangkan.
3. Pembacaan Shalawat Nabi
Usai pembacaan Al Quran, diikuti Sholawat Badar oleh Majlis Taklim.
Sholawat Badar Merupakan Bacaan Wajib dalam Memanjatkan Berbagai doa dalam acara seperti walimatul hamli ini. Brisi pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW.
4. Nyanyian Rebana dan Penyemprotan Minyak Wangi
Saya sampai bergidik mengikutinya. Setelahnya kelompok Rebana Ketimpring memainkan lagu padang pasir yang meriah.
Saat musik berkumandang itu si calon ibu berkeliling menyalami tamu. Salain mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka juga menerima ucapan selamat karena sebentar lagi akan jadi ibu.
Di belakangnya mengiringi seseorang sambil menyemprotkan parfum kepada baju tiap tamu. Seketika ruangan berubah jadi semerbak.
Silmbol minyak wangi dalam walimatul hamli adalah harapan kelak anak yang akan lahir berbudi, dicintai banyak orang karena kehadirannya menyenangkan.
5. Tausiah dari Guru Pimpinan Majelis Taklim
Acara kemudian ditutup dengan wejangan dari guru ngaji seputar pendidikan anak. Bagaimana nama dan kata-kata yang kita ucapkan kepada anak adalah semacam doa. Maka beri mereka nama-nama yang baik dan panggil mereka dengan yang baik juga.
Berbagai Ritual Kehamilan di Indonesia
Upacara ritual ibu hamil di selanggarakan di berbagai daerah di Indonesia. Seperti Mappanre to-mangideng pada Suku Bugis. Pada saat menginjak kehamilan satu bulan, keluarga akan melakukan ritual menyuapi sang ibu yang disebut sebagai mappanre to-mangideng. Yang disuapkan adalah makanan kesukaan calon ibu dan juga makanan sehat.
Begitu pun upacara Mangirdak pada Suku Batak, kurang lebih sama seperti upacara tujuh bulanan suku Jawa. Di mana saat kehamilan tujuh bulan dibuatkan prosesi di rumah keluarga pihak wanita. Ibu sang wanitalah membuatkan makanan kesukaan anaknya. Seperti rendang di Minangkabau, ikan mas arsik sebagai “panglima menu” harus hadir dalam upcara Mangirdak ini.
Dengan upacara mappanre to-mangideng diharapkan ibu hamil akan senang dan bahagia. Sehingga bulan-bulan kehamilan dilalui dengan nyaman. Doa-doa juga dilontarkan agar ibu dan bayi selalu sehat, tidak ngidam sesuatu yang sulit didapatkan keluarga. Sebab mengidam yang tak mungkin dikabulkan akan membawa ketidak bahagiaan bagi sang ibu yang tentu juga berdampak paga bayi. Ini lah alasan dibelakang mengapa di bulan pertama kehamilan ibu hamil ibu-ibu pada suku Bugis langsung diberikan upacara ini. Menyenangkan mereka dengan doa dan suguhan makanan kesukaan mereka.
Baca juga Masak di Rumah Adat Lonthoir
Sang ibu akan menyuapi anaknya langsung sembari didoakan segala yang baik dan bermanfaat untuk kehamilannya. Dalam tradisi kehamilan ini pihak keluarga akan diundang dan orang-orang tuanya akan memberikan wejangan kepada ibu hamil bagaimana merawat kandungannya serta doa supaya ibu dan anak selamat ketika saat melahirkan tiba.
Bukan hanya Suku Bugis dan Batak, Suku Minangkabau, Aceh dan Dayak juga memiliki ritual kehamilan. Upacara intinya adalah kegembiraan menyambut anggota keluarga baru dengan syukuran berupa doa dan makan-makan.
Di Jawa, upacara usia kehamilan empat bulan disebut dengan mapati. Istilah ini diambil dari Bahasa Jawa papat yang berarti empat. Sedangkan untuk upacara selamatan tujuh bulanan disebut mituni atau sering diucapkan mitoni. Asal katanya adalah pitu yang berarti tujuh.
Makanan dalam Walimatul Hamli
Rujak tentu saja hadir. Berbeda dengan rujak biasa, rujak walimatul hamli buahnya diserut seperti untuk salad. Baru kemudian dituang bumbu berupa cabe dan gula merah. Ada kepercayaan kalau rujaknya kurang pedas, kelak akan lahir anak perempuan. Tapi kalau sebaliknya yang akan lahir laki-laki. Padahal sih menurut saya, itu hanya perkara banyak atau sedikitnya cabe. Atau daya tahan lidah si pembuat 🙂
Seperti halnya syukuran dimanapun, nasi kuning tak ketinggalan, bertabur kalapa gongseng, bawang goreng dan gula. Begitu pun untuk dinikmati bersama tersedia pula tumpeng nasi kuning dan lauk pauknya.
Karena keponakan saya berdarah Jawa-Minang sementara suaminya Sunda, jadi deh walimatul hamlinya dalam selera Nusantara. Itu berarti masakan pedas seperti rendang dan masakan manis seperti ayam kecap tersedia 🙂
Baca juga:






