
Terjebak dalam realita seringkali menjadi alasan mengapa kita merasa jalan di tempat, seolah hidup adalah naskah yang sudah final dan tak bisa diedit lagi. Artikel ini akan mengupas tuntas fenomena reality trap (jebakan realitas) melalui studi kasus sederhana, analisis psikologi bisnis, dan cara membongkar pola pikir lama agar Sobat JEI bisa melompat lebih tinggi.
Kisah Soto Betawi dan Warisan Stagnasi
Pernahkah Sobat JEI mengamati sebuah usaha yang rasanya enak, tapi penampilannya “lelah”? Saya punya cerita tentang satu keluarga penjual Soto Betawi. Dari kakek hingga cucu, profesi mereka tak berubah: meracik masakan berkuah santan.
Dimulai tahun 80-an, sang kakek merintis usaha tenda di Proyek Senen. Karena anak-anaknya “alergi” masuk universitas, titah kakek turun: “Jualan soto saja!”
Saat tenda tergusur proyek peremajaan Pasar Senen, mereka pindah ke kios kontrakan. Puluhan tahun berlalu, kakek sudah tiada. Kini, cucu si kakek yang memegang kendali. Lokasinya sama, menu sama, bahkan perabotnya pun tampak sama lelahnya dengan sejarah mereka.
Analisis Ahli tentang Pola Pikir Tetap (Fixed Mindset)
Mengapa mereka tidak berkembang? Prof. Carol Dweck dari Stanford University menyebut ini sebagai Fixed Mindset. Dalam bukunya Mindset: The New Psychology of Success, Dweck menjelaskan bahwa orang dengan pola pikir tetap percaya kualitas dasar mereka sudah terukir di batu.
Si cucu terjebak dalam realita bahwa “kami hanya penjual soto kecil”. Padahal menurut data Family Business Institute, hanya 30% bisnis keluarga yang bertahan hingga generasi kedua, dan 12% hingga generasi ketiga. Tanpa inovasi, mereka sebenarnya sedang menunggu waktu untuk punah.
Baca juga:
Zona Nyaman atau Penjara Tak Kasat Mata?
Saya sempat bertanya pada si cucu, “Dulu, semasa sedang jaya-jayanya, kenapa tidak buka cabang atau franchise? Rasanya enak lho, meski kuahnya agak kekentalan sedikit (maaf ya, Bang!).”
Jawabannya klasik dan tidak mengejutkan. “Buka cabang itu ribet. Izin ini-itu, biaya besar. Terbayang gimana sulitnya, sebab saya urus satu warung saja sudah mau pingsan rasanya.”
Di sinilah letak masalahnya. Mereka merasa aman dengan omset “biasa-biasa saja” asalkan cukup untuk makan dan sekolah anak.
Mengapa Kita Masuk ke dalam Reality Trap?
Dalam ilmu perilaku ekonomi, Daniel Kahneman, pemenang Nobel, mengenalkan istilah Status Quo Bias. Orang cenderung memilih situasi saat ini daripada mengambil risiko perubahan, meskipun perubahan itu membawa keuntungan besar.
Si abang soto sedang mendekam dalam reality trap. Dia melihat birokrasi dan biaya sebagai tembok raksasa, bukan sebagai tangga naik kelas. Riset dari Global Entrepreneurship Monitor menunjukkan bahwa di negara berkembang, “takut gagal” adalah faktor utama yang menghambat 40% calon pengusaha untuk melakukan ekspansi. Ketakutan ini membatasi pandangan mereka akan potensi diri sendiri.
Mendobrak Ilusi Realitas
Sambil menghabiskan potongan daging terakhir, saya melamun. Transformasi seolah haram di warung ini. Saya teringat para motivator yang sering lewat di timeline Facebook. Apakah mereka sadar bahwa bagi sebagian orang, realita itu sekeras beton?
Namun, apakah terjebak dalam realita adalah takdir? Tentu tidak. Martin Seligman, bapak Psikologi Positif, menyebut kondisi pasrah ini sebagai Learned Helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari). Si cucu belajar dari ayah dan kakeknya bahwa “hidup ya begini saja”. Ini adalah ilusi.
Mengubah Cara Berpikir untuk Hasil Berbeda
Tony Robbins pernah berkata, “Cara berpikir yang telah mengantar ke tempat kita berada sekarang, tidak akan mengantarkan ke tempat yang ingin kita tuju.”
Jika Sobat JEI ingin hasil berbeda, kita harus “mengganti” otak kita. Istilah kerennya: Neuroplastisitas. Otak bisa berubah jika kita memberinya tantangan baru. Jangan biarkan kita masuk ke dalam reality trap hanya karena malas mengurus izin usaha atau takut capek.
Realita itu cair. Yang membuatnya beku adalah pikiran kita sendiri. Jadi, mau tetap jualan soto di kios lusuh, atau jadi raja franchise kuliner? Pilihan ada di tangan Sobat JEI.
eviindrawanto.com
