
Pantai Merpati Bulukumba selalu menyimpan magnet tersendiri bagi para penikmat senja. Halo Sobat JEI! Artikel ini merangkum keseruan perjalanan saya ke Bulukumba, menyusuri lanskap budaya arsitektur Bugis, hingga menikmati sunset Pantai Merpati Bulukumba yang eksotis di balik aktivitas pasar nelayan. Yuk, ikuti kisah perjalanannya!
Lanskap Desa dan Arsitektur Bugis
Sinar matahari mulai condong ke ufuk Barat. Kami baru saja menyelesaikan pelatihan membuat gula semut. Saatnya kembali ke Hotel Agri. Kami keluar dari Desa Bukit Harapan, Kecamatan Gantarang. Rute perjalanan Bulukumba menuju Pantai Merpati Bulukumba ini menawarkan pemandangan yang sangat asri.
Kami menyusuri jalanan yang membelah perkebunan kakao, aren, kelapa, dan kopi milik penduduk setempat. Pelintasan ini memberi gambaran nyata betapa suburnya tanah Sulawesi Selatan. Pakar sosiologi pertanian mencatat bahwa sistem perkebunan multikultur seperti ini sangat krusial. Sistem ini sukses menjaga ketahanan ekologis dan kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan.
Di sepanjang jalan, rumah-rumah berarsitektur tradisional Bugis berbaris rapi di sisi kiri dan kanan. Rumah panggung dari material kayu ini memiliki atap seng dengan lambang khusus. Ahli arsitektur Nusantara menyebut bagian atap bersusun ini sebagai Timpalaja. Susunan Timpalaja secara historis menunjukkan status sosial pemilik rumah dalam masyarakat Bugis.
Menyapa Ikon Kota di Musim Panen
Tampaknya bulan September membawa kemarau dan musim panen padi secara beriringan. Kesimpulan ini muncul kala kami melintasi area persawahan yang terbuka lebar. Jerami kering bertebaran di mana-mana. Kerbau asyik merumput bersama kawanan burung pipit yang beterbangan. Pemandangan pedesaan ini membuat saya berkali-kali membuka kaca mobil untuk mengambil gambar.
Memasuki pusat kota, kesan perjalanan ke Bulukumba semakin terasa istimewa. Kami melewati Bulatan Pinisi, alun-alun kebanggaan warga setempat. Di tengahnya bertengger megah replika kapal Pinisi. Fakta menariknya, UNESCO telah menetapkan tradisi pembuatan perahu Pinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia sejak tahun 2017.
Menjelang malam, area alun-alun ini biasanya berubah fungsi menjadi kafe terbuka yang meriah. Namun, Mas Awaludin dari Sulawesi Community Foundation (SCF) selaku tuan rumah punya ide lain. Ia menawarkan rehat sejenak untuk menikmati sore di Pantai Merpati Bulukumba. Tentu saja, tawaran menggiurkan ini langsung saya sambut dengan gembira.
Realita Bersahaja di Pantai Nelayan
Kami memasuki area pesisir yang tenang. Ujung dari kawasan pesisir ini sering menjadi lokasi hangout favorit anak muda setempat dari pagi hingga malam. Kami menghentikan kendaraan di depan pasar pelelangan ikan. Suasana sore itu cukup sepi. Usai meminta izin kepada seorang bapak di sekitar sana, kami masuk melalui pintu pagar samping pasar.
Tepat di belakang tembok pasar, sebuah teluk mini menyapa mata kami. Ceruk laut dangkal ini berfungsi sebagai tempat nelayan menambatkan perahu-perahu mereka. Sayangnya, pasir pantai yang kelabu tampak buram oleh tebaran sampah yang kurang sedap dipandang.
Pakar lingkungan pesisir sering menyoroti tantangan manajemen limbah padat di pemukiman nelayan tradisional. Kondisi ini memang menuntut edukasi berkelanjutan dan penyediaan infrastruktur sanitasi yang lebih memadai dari pemerintah daerah. Meski begitu, kencangnya hembusan angin laut dan burung camar yang terbang bebas tetap membuat suasana terasa syahdu.
Magisnya Sunset Pantai Merpati Bulukumba
Beruntung, realita pesisir yang kurang bersih tak menghalangi pesona sang surya. Perlahan, sunset Pantai Merpati Bulukumba mulai menunjukkan magisnya. Cahaya jingga membias sempurna di atas permukaan teluk mini dan mendarat di badan perahu nelayan.
Fenomena perubahan warna langit senja ini terjadi akibat efek optik bernama hamburan Rayleigh. Atmosfer bumi menyaring spektrum cahaya biru, sehingga warna merah, jingga, dan kuning mendominasi pandangan kita secara visual. Di lokasi ini, matahari tidak tenggelam tepat di garis cakrawala laut. Matahari perlahan bersembunyi di balik tembok pasar ikan.
Siluet menara masjid dan pohon kelapa menjadi latar depan yang menciptakan komposisi pemandangan dramatis. Pertunjukan alam sunset Pantai Merpati Bulukumba pun akhirnya usai. Langit malam mulai menelan senyapnya kawasan nelayan. Kami berpamitan dengan bapak nelayan yang tersenyum ramah. Hiburan visual yang magis ini sukses menyuntikkan semangat baru bagi kami untuk melanjutkan sisa perjalanan ke Bulukumba.
Panduan Wisata: Tiket dan Rute
Harga Tiket Masuk
Sobat JEI tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk menikmati keindahan senja di sini. Harga tiket masuk kawasan Pantai Merpati Bulukumba, terutama di area pelabuhan nelayan dan pasar ikan, umumnya gratis. Pengunjung biasanya hanya perlu membayar retribusi parkir kendaraan. Siapkan uang receh sekitar Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil.
Cara Menuju Lokasi
Akses menuju destinasi ini sangat mudah karena letaknya strategis. Lokasinya berada persis di pusat kota, tepatnya di Kecamatan Ujung Bulu.
- Dari Kota Makassar: Sobat JEI butuh waktu tempuh sekitar 4 hingga 5 jam berkendara dengan jarak sekitar 150 kilometer.
- Dari Pusat Kota Bulukumba: Dari alun-alun Bulatan Pinisi, jaraknya sangat dekat. Waktu tempuhnya hanya sekitar 5 menit berkendara. Arahkan saja kendaraan Anda menuju kawasan pasar pelelangan ikan. Rute ini sudah terpetakan dengan sangat akurat di aplikasi navigasi digital di smartphone.
Baca juga:
Memasuki Pantai Merpati Bulukumba
Baca jugaย Nelayan Karimunjawa Pulang Melaut
Baca juga Pantai Marina Lampung Seksi atau Angker?
Baca juga Menginap Asyik di Derawan Fisheries Cottages
eviindrawanto.com
