
Renungan di hari ulang tahun kali ini membawa saya pada satu pertanyaan klasik: mengapa saya, kamu dan kita lahir? Seperti semua orang sudah tahu, bumi ini sudah sangat penuh sesak, lalu apa urgensinya alam semesta juga mengundang kita hadir? Untuk artikel memperingati ultah kali ini saya kepikiran untuk menggali misteri kelahiran, cinta tanpa syarat dari orang tua, hingga seni menerima takdir hidup yang kadang suka bercanda. Mari kita rayakan kehidupan ini bersama-sama, Sobat JEI.
Misteri Kelahiran dan Alasan Kita Hadir
Pernah gak sih kamu protes kepada Allah kenapa tidak bisa memilih orang tua? Jika pernah, kamu tidak sendiri. Setidaknya secara filosofis, pemikir eksistensialis Martin Heidegger memahaminya dan menyebut fenomena ini sebagai Geworfenheit atau “keterlemparan”.
Kita mendadak merasa “dilempar” ke dunia tanpa persetujuan. Kita tidak bisa memilih rahim siapa yang menjadi tempat kita bertumbuh. Kita menerima siapapun yang akan dijadikan ibu kita. Tidak ada jaminan wanita itu kelak akan menerima kita sepenuh hati dan menyangi seumur hidupnya, atau malah buru-buru membuang kita begitu lahir di bumi.
Ini lah Seni Kehidupan
Namun, justru di situlah letak seni kehidupan. Yang mengalami “gambling” ini bukan hanya saya, kamu tapi seluruh umat manusia. Lewat renungan di hari ulang tahun kali ini mengingatkan saya dan kamu bahwa ketidakmampuan memilih ini justru membuat perjalanan hidup menjadi kejutan yang epik.
Cinta Orang Tua dan Matematika Kasih Sayang
Orang bijak mengajarkan bahwa kelahiran adalah kado dari Sang Perencana. Kita wajib mensyukurinya tanpa perlu banyak bertanya. Jika kamu dicintai, sains membuktikan bahwa cinta orang tua ini punya dasar biologis yang kuat.
Penelitian menunjukkan hormon oksitosin langsung melonjak drastis saat ibu atau ayah pertama kali melihat bayinya. Hormon yang memicu rasa bahagia yang sulit dijelaskan.
Jadi, tidak heran ya jika orang tua tulus melayani tangis dan tawa kita. Mereka rela begadang semalaman untuk menenangkan kita. Akan pontang-panting merawat kala kita sakit. Mempertaruhkan separuh nyawa mereka agar kita sekolah dan hidup lebih baik.
Dan semua yang mereka lakukan bebas dari hitungan kalkulator matematika. Momen renungan di hari ulang tahun ini sangat pas untuk saya mengingat kembali cinta irasional yang begitu puitis dari ibu dan bapak.
Renungan di Hari Ulang Tahun : Doa, Harapan, dan Selamatan
Bapak mengumandangkan azan di telinga mungil saya sesaat keluar dari rahim ibu. Beberapa hari kemudian, ditengah menyusui saya, mereka mulai melekatkan nama yang akan saya sandang seumur hidup. Ibu sibuk menyiapkan selamatan. Nama sangat penting. Ilmu psikologi mengenal istilah Nominative Determinism, yaitu teori bahwa nama bisa mempengaruhi jalan hidup seseorang.
Orang tua menitipkan doa setinggi langit lewat nama yang mereka pilih. Berharap hidup kita akan selalu berkah dan bahagia. Mereka ingin nasib membawa kita ke tempat keselamatan. Sayangnya, GPS kehidupan tidak selalu mengarah ke jalan yang mulus.
Aturan Main Kehidupan yang Kadang Suka Bercanda
Kehidupan punya aturan mainnya sendiri. Harapan kita tidak selalu berkumpul di satu ladang emas bernama Bonanza hanya karena kita didoakan atau rajin berdoa. Alam semesta memilih keberuntungan dan kemalangan dengan gayanya sendiri yang misterius.
Orang-orang datang untuk mencintai, lalu kadang pergi berkhianat. Kamu mungkin sukses di karir, tapi gagal di asmara. Bahagia dan pedih datang bergantian seperti musim hujan yang mengusir kemarau.
Renungan di hari ulang tahun mengajarkan kita konsep Amor Fati dari filsafat Stoikisme. Kita harus mencintai takdir, baik atau buruk. Layaknya perajin besi, pola pedang yang cantik dan kuat hanya tercipta lewat kerasnya hentakan palu.
Banyak juga yang membaca:
Merayakan Hidup ala Rumi di Momen Spesial
Penyair sufi Jalaluddin Rumi pernah merangkum ini semua dengan sangat indah. “Look at water and fire, earth and wind, enemies and friends, all at once. Why think seperately, of this life and the next, when one is born from the last.” Rumi mengajak kita melihat keutuhan hidup. Air dan api, teman dan musuh, semuanya adalah satu paket perjalanan jiwa. Jadi, mari kita rayakan hidup ini, seperti apa pun bentuk yang sedang kita jalani.
Selamat ulang tahun! Mari rayakan dirimu hari ini.
eviindrawanto.com
