
Rahasia dominasi pikiran ala Tung Desem Waringin bukan sekadar mantra motivasi biasa, melainkan sebuah seni merakit ulang kemudi jiwa kita. Halo Sobat JEI! Pernahkah pikiran kamu melompat seliar ikan hidup yang tersiram garam? Artikel ini merangkum perenungan mendalam saya usai mengikuti seminar Financial Revolution. Kita akan mengupas tuntas inti rahasia dominasi pikiran, menelisik drama pertempuran antara otak kiri dan kanan, serta membedah Trik Menguasai Pikiran Sendiri Agar Lebih Sukses dan Produktif. Mari siapkan seduhan kopi atau teh, lalu kita selami bersama samudra pikiran kita sendiri.
Menyelami Rahasia Dominasi Pikiran ala Tung Desem Waringin
Ada satu kalimat yang terus berdansa dalam ingatan saya usai mengikuti seminar Financial Revolution kemarin. Tung Desem Waringin mengajarkan kalimat ini melalui pengulangan yang energik berserta gerakan tubuh yang khas. Tujuannya jelas, agar peserta memahatnya dalam ingatan hingga akhir hayat.
“Apa yang aku pikirkan dengan dominan dan meyakini kebenarannya di dalam hati, maka akan aku genggam dalam tangan.”
Kalimat epik ini merangkum rahasia dominasi pikiran ala Tung Desem Waringin. Secara ilmiah, pakar Neuro-Linguistic Programming (NLP) seperti Dr. Richard Bandler menyebut teknik ini sebagai anchoring. Menggabungkan kata-kata afirmatif dengan gerakan fisik terbukti secara riset mampu memperkuat jalur saraf di otak. Hasilnya, pesan tersebut terekam jauh lebih pekat di alam bawah sadar.
Mengelola Pikiran Liar Bagai Ikan Digarami
Sebenarnya, tidak ada yang seratus persen baru dalam petuah agung tersebut. Sejak berkenalan dengan Law of Attraction, saya mulai ketat menyeleksi isi kepala. Terkadang, pikiran ini suka melompat-lompat menabrak dinding tengkorak, persis ikan hidup yang kena garam! Lucu memang, tapi membuat lelah.
Kini, saya hanya mengizinkan pikiran positif bermukim dengan nyaman. Sementara pikiran negatif? Monggo silakan lewat pintu belakang, saya tidak butuh Anda. Dr. Joe Dispenza, seorang ahli saraf ternama, menjelaskan bahwa manusia memiliki kemampuan neuroplasticity atau membentuk ulang struktur otak. Saat kita fokus menahan pikiran positif, kita sedang memutus sirkuit saraf negatif yang usang. Ini adalah fondasi utama dari rahasia dominasi pikiran.
Trik Menguasai Pikiran Sendiri Agar Lebih Sukses dan Produktif
Memilah pikiran tentu tidak semudah membalik lembaran buku. Apalagi hari ini, informasi menggempur kita setiap detik. Kita sering menjadi saksi atas berbagai peristiwa yang meletup bak kembang api tahun baru. Cahayanya menyilaukan, membuat kita terkesima, dan tanpa sadar menyeret fokus kita menjauh dari tujuan semula.
Kalau badai itu datang, saya buru-buru banting setir. Saya arahkan kembali haluan kapal menuju pelabuhan harapan: pikiran positif.
Psikolog peraih Nobel, Daniel Kahneman, dalam bukunya Thinking, Fast and Slow, mengingatkan bahwa otak kita beroperasi dengan Sistem 1 (reaktif/emosional) dan Sistem 2 (analitis/lambat). Trik Menguasai Pikiran Sendiri Agar Lebih Sukses dan Produktif adalah secara sadar melatih Sistem 2 kita untuk segera mengambil alih kemudi saat emosi negatif mulai menyetir.
Baca juga:
Pertempuran Abadi Si Otak Kanan dan Kiri
Masalah bertambah seru karena Sang Pencipta membekali kita dengan dua keping otak yang kerap beda frekuensi. Saat keping kiri dengan logisnya menyusun rencana A, keping kanan yang intuitif malah protes, “Tidak bisa begitu, ini harusnya B!”
Akibatnya? Mereka tawuran sendiri di dalam kepala dan membuat pemiliknya pusing tujuh keliling.
Dr. Iain McGilchrist, seorang psikiater dan penulis The Master and His Emissary, meneliti fenomena unik ini. Ia menemukan bahwa belahan kiri cenderung memecah belah dan mengontrol, sedangkan belahan kanan melihat gambaran besar kehidupan. Mendamaikan keduanya butuh jam terbang kesadaran yang tinggi.
Menavigasi Ironi dan Kerumitan Hidup
Terkadang, kita sendiri yang nakal mencari-cari pembenaran untuk menyerah pada keadaan. Kita berdalih, “Selalu berpikir positif itu menentang kodrat alam! Terang kan lahir dari gelap?” Argumen licin semacam ini sering menggeser perspektif kita dengan amat lembutnya. Tahu-tahu byur, kita sudah basah kuyup tercebur ke kubangan pikiran negatif.
Tokoh psikologi Carl Jung menyebut fase ini sebagai pertemuan manusia dengan Shadow atau sisi gelapnya. Mengakui adanya sisi negatif itu penting, tetapi menjadikannya sebagai tempat tinggal sungguh tidak ada enaknya.
Coba bayangkan rasanya meragukan Sang Pemberi Kehidupan saat doa belum kunjung terjawab. Kita lalu protes, “Mengapa Tuhan membuat aturan yang begitu rumit?” Untunglah lidah ini masih patuh pada rem otak, sehingga saya tidak menceracau dan mengundang label sebagai orang yang sedang goyah iman.
Merangkul Spektrum Kehidupan yang Penuh Warna
Belakangan ini, saya mengalami transformasi batin dalam memandang panggung sandiwara dunia. Saya menyadari, batas antara garis hitam dan putih itu sering kali memudar. Orang yang mengklaim dirinya sangat baik, kadang punya tabiat tersembunyi yang bikin amit-amit. Sebaliknya, perampok yang diburu hukum bisa saja beraksi murni atas nama kasih sayang untuk keluarganya yang lapar.
Setiap peristiwa menjahit logikanya sendiri. Filsuf dan psikolog Erich Fromm sering menekankan dualitas manusia ini. Ia berpendapat bahwa potensi kebaikan dan keburukan mengakar sama kuatnya pada kondisi eksistensial kita yang rentan.
Oleh karena itu, jika banyak orang punya alasan untuk tetap hidup dalam kemiskinan pikiran, saya pun berhak punya alasan untuk terus memupuk pikiran positif.
Apa alasan saya yang sebenarnya? Biarlah hal itu menjadi rahasia puitis antara saya dan Sang Maha Mengetahui.
eviindrawanto.com
