
Peran sosial vs jati diri seringkali menjadi konflik batin yang melelahkan, layaknya mengenakan kostum sempit yang memaksa kita menahan napas demi terlihat “pantas”. Padahal, keberanian untuk menanggalkan topeng sosial dan merangkul diri yang otentik adalah kunci utama meraih kesehatan mental yang prima. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa tuntutan sosial kerap memicu burnout, bagaimana norma budaya mendikte perilaku kita, dan mengapa menjadi “sedikit gila” terkadang justru menjadi satu-satunya cara untuk tetap waras.
Rumah Sebagai Tempat Pulang Bagi Jati Diri
Mudah sekali bagi kita untuk tenggelam dalam pekerjaan rumah tangga. Terutama jika aktivitas tersebut mendatangkan rasa nyaman tanpa gangguan. Sobat JEI mungkin pernah merasakannya, bukan? Jika tidak kelelahan fisik atau memikirkan beban kantor, rasanya aku sanggup menghabiskan waktu 24 jam penuh hanya berkutat di rumah.
Ini bukan sekadar klise “rumahku istanaku”. Di rumah, aku merasa mampu menyentuh jiwa dan masuk ke relung terdalam. Di sinilah jati diri yang organik terbentuk. Tanpa embel-embel, aku ada karena diriku sendiri.
Menurut psikolog humanistik Carl Rogers, kondisi ini disebut sebagai congruence (keselarasan). Ini adalah keadaan ketika “diri ideal” (siapa yang kita inginkan) selaras dengan “perilaku aktual” kita. Di rumah, kita bebas menjadi otentik tanpa takut penghakiman, yang sangat krusial bagi kesehatan mental.
Peran Sosial vs Jati Diri : Dilema Wanita Modern dan Ekspektasi Sosial
Namun, hidup di era modern tidak sesederhana itu. Menjadi perempuan masa kini hampir mustahil menerapkan prinsip “bodo amat”. Kehidupan sosial telah melekatkan begitu banyak label pada diri kita.
Sejak lahir, skrip drama kehidupan sudah dimulai:
- Kita adalah anak, cucu, atau kakak seseorang.
- Melangkah ke sekolah, kita menjadi murid.
- Masuk dunia kerja, kita berubah menjadi bawahan atau rekan kerja.
- Menikah, kita tenggelam dalam peran istri dan ibu.
Sosiolog Erving Goffman dalam teorinya Dramaturgi, menyebut fenomena ini sebagai “panggung sandiwara”. Kita semua adalah aktor yang memainkan berbagai peran sosial di panggung depan (front stage) untuk memuaskan penonton, alias masyarakat.
Budaya Basa-Basi dan Hierarki Norma Sosial
Setiap segmen kehidupan punya aturan main. Perangkat reward and punishment (hadiah dan hukuman) siap menjaga keberlangsungannya. Dalam norma sosial masyarakat Indonesia yang kental dengan budaya Timur, hierarki adalah segalanya.
Sobat JEI pasti paham rasanya. Mustahil memanggil orang tua, guru, atau atasan hanya dengan nama. Itu tidak sopan!
- Sebagai bawahan, derajatku dianggap lebih rendah. Aku wajib menggunakan sapaan terhormat seperti “Bapak” atau “Ibu”.
- Namun, di peran lain, aku yang dihormati. Sebagai kakak atau atasan, giliran mereka yang menunduk padaku.
- Menurut Geert Hofstede, peneliti lintas budaya, Indonesia memiliki indeks Power Distance yang tinggi (skor 78). Artinya, masyarakat kita sangat menerima ketidaksetaraan hierarki. Tekanan sosial untuk menghormati hierarki ini seringkali menekan ekspresi emosi otentik individu demi menjaga harmoni kelompok.
Bahaya Tersembunyi dari Burnout Peran Ganda
Diri kita satu, tapi terpecah dalam seribu wajah. Semakin menonjol posisi seseorang di masyarakat, semakin berat tanggung jawab sosial yang ia pikul. Budaya menyebut ini normal. Tapi, apakah ini sehat?
Normal mungkin, tapi melelahkan. Kita harus membagi energi dari satu peran ke peran lain tanpa henti. Kita bukan Superman. Namun, kita dipaksa menopang struktur sosial yang rapuh seperti rumah kartu. Satu kartu ditarik, semuanya bisa runtuh. Karena itulah, makhluk sosial yang cinta keteraturan ini mati-matian menjaga agar tidak ada kartu yang terlepas.
Seringkali, kita terpaksa tertawa bersama orang lain padahal jiwa kita menangis sendirian. Ini adalah gejala awal kelelahan emosional atau burnout.
Baca juga:
Belajar dari Si “Gila”: Kebebasan Tanpa Validasi Sosial
Lalu, ada jenis manusia unik. Oleh satu dan lain sebab, mereka berhenti peduli pada peran sosial. Mereka tertawa atau menangis kapan pun jiwa meminta. Mereka tidak peduli tempat, waktu, atau standar kepantasan.
Yang mereka dengar hanya suara dari dalam diri sendiri. Mereka berpakaian mengikuti imajinasi, bukan tren mode. Orang menyebut mereka “gila”. Tapi bukankah ada rasa iri sedikit melihat kebebasan mereka?
Dalam studi tentang Non-Conformity, orang yang berani melanggar norma sosial kecil seringkali dianggap memiliki status atau kompetensi lebih tinggi karena mereka terlihat “bebas” dari aturan. Namun, tentu ada batas tipis antara jenius dan gila.
Hanya satu keraguanku pada si pecinta diri sejati ini: Apakah dia bisa bercinta dengan kekasihnya saat membutuhkan? Kecuali pasangannya juga punya level “kegilaan” yang sama, rasanya sulit menyatukan dua dunia yang terlalu bebas ini.
Jadi, Sobat JEI, mungkin kuncinya adalah keseimbangan. Dalam peran sosial vs jati diri ini, pakailah topeng sosial saat perlu, tapi jangan lupa lepaskan saat di rumah. Rawatlah kesehatan mentalmu dengan menjadi diri sendiri, setidaknya untuk beberapa jam sehari.
eviindrawanto.com
