
Penyebab suka dan tak suka mengenai buku seringkali menjadi misteri bagi para pembaca. Artikel ini akan membedah mengapa kita bisa terobsesi pada satu judul namun “alergi” pada yang lain, serta bagaimana mindset orang sukses mampu melampaui perasaan tersebut demi tujuan yang lebih besar. Berikut ringkasan pokok pikiran dan kata kunci yang akan kita bahas: psikologi membaca, kualitas terjemahan, The Alchemist, buku yang membosankan, dan visi kesuksesan.
Halo, Sobat JEI! Pernahkah kalian merasa mati gaya di depan rak buku sendiri?
Psikologi di Balik Memilih Bacaan
Pernahkah Sobat JEI merasa hampa saat saat berdiri di depan rak buku? Kita ingin bertualang mental di sana, sayangnya, tak ada satu pun yang mampu menggugah selera? Ternyata, keputusan untuk mengambil atau mengabaikan sebuah judul melibatkan proses mental yang lebih dalam dari sekadar ‘suka atau tidak’. Mari kita bedah mekanisme psikologis tersembunyi yang diam-diam mengendalikan tangan kita saat menghadapi dilema di depan rak perpustakaan.
Dilema Rak Perpustakaan
Saya sering membalik-balik buku di rak perpustakaan sendiri, mencari yang menarik, tapi sering tidak berhasil. Rasanya semua sudah terbaca, meski saya tak mampu menceritakan ulang isinya, mental saya sudah mencatat, itu tidak akan dibaca lagi. Dan inilah “kelebihan” aneh saya: anti membaca buku yang sama dua kali.
Secara psikologi membaca, fenomena ini berkaitan dengan Novelty Seeking atau pencarian kebaruan. Otak kita melepaskan dopamin saat menemukan informasi baru. Namun, jika saya sampai membaca satu judul berulang kali, alasannya ekstrem: buku itu bagus sekali atau jelek sekali.
Menurut Dr. Seema Yasmin dari Stanford, otak manusia memang dirancang untuk menyukai narasi yang memicu “teater mental”. Jika sebuah buku gagal memicu visualisasi ini di halaman-halaman awal, otak akan melabelinya sebagai buku yang membosankan, tidak menarik.
Keajaiban Storytelling Paulo Coelho
Tapi berbeda dengan penulis favorit saya. Ada alasan mengapa karya seperti Paulo Coelho, khususnya The Alchemist, tak pernah terasa usang meski dibaca berulang kali. Menurut saya, Om Coelho tidak sekadar merangkai aksara, dia mampu meniupkan ruh ke dalam setiap kalimatnya. Itu lah kiranya yang menciptakan ‘sihir’ literasi dan membuat saya terpaku.
Saya tertarik menyelami lebih dalam bagaimana sentuhan emas tangannya mampu memikat saya dan jutaan jiwa lainya di seluruh dunia lewat rangkaian kalimat-kalimatnya.
Mengapa The Alchemist Begitu Memikat?
Iya, novel The Alchemist saya baca berulang-ulang. Setiap baris kalimatnya seperti mengandung “kutukan”. Tentu saja ini kutukan kejeniusan seorang Paulo Coelho. Lelaki berambut dan berkumis perak ini punya kemampuan magis. Tak berlebihan jika tiap baris kalimat yang keluar dari kepalanya, saya anggap berirama seperti wahyu.
Dalam ilmu sastra, ini disebut Flow. The Alchemist memiliki struktur kalimat yang meminimalkan beban kognitif pembaca. Kita tidak perlu berpikir keras untuk mencerna kalimatnya, sehingga kita larut dalam cerita. Inilah salah satu penyebab suka dan tak suka mengenai buku yang paling utama: seberapa halus penulis menyihir kita masuk ke dunianya.
Tragedi Terjemahan yang Menguras Emosi
Namun, tak selamanya saya dimanjakan oleh aliran kata yang mulus bak jalan tol, seperti The Alchemist. Ada kalanya, semangat membara saya untuk melahap ilmu langsung padam kala berhadapan dengan tembok bahasa yang kaku.
Mari kita bedah realitas pahit ini, ketika alih bahasa bukannya menjadi jembatan pemahaman, malah menjelma menjadi penghalang yang menguras energi dan emosi kita sebagai pembaca.
Masalah Kualitas Terjemahan
Sebaliknya, sebuah buku berjudul Leadership Masa Depan juga saya baca berulang-ulang. Tapi tunggu dulu, ini bukan karena cinta. Saking tidak mengertinya apa yang penerjemah sampaikan, buku aslinya yang berbahasa Inggris itu sudah saya “peram” lebih dari satu tahun.
Saat menulis ini, bab pertama saja belum lewat. Padahal, kalau saja saya lebih bersemangat, buku tersebut pasti bermanfaat.
Riset dari Translation Studies menyebutkan bahwa kualitas terjemahan yang buruk seringkali terjebak pada struktur bahasa sumber (source language). Akibatnya, kalimat menjadi kaku dan tidak natural bagi pembaca Indonesia. Ini membuat otak bekerja dua kali lebih keras hanya untuk memahami satu paragraf. Pantas saja bikin saya puyeng!
Jebakan Zona Nyaman dalam Membaca
Kenyamanan membaca buku yang ditulis dengan bagus memang membuai. Apalagi jika kita hanya mau melahap bacaan yang sesuai selera hati. Di luar itu, haram hukumnya menyentuh buku itu. Namun ketahuilah wahai Sobat JEI, tanpa disadari, kebiasaan ini bisa menjelma menjadi ‘penjara emas’ yang mengurung wawasan kita lho.
Mari kita telisik bagaimana preferensi pribadi dan keengganan menantang diri seringkali menjadi jebakan manis yang menghambat pertumbuhan mental kita.
Tirani Suka dan Tidak Suka
Melawan arus perasaan memang berat, tapi justru di sanalah letak kunci keberhasilan sejati. Mari kita selami pola pikir para juara yang mampu melihat melampaui kenyamanan sesaat, menjadikan setiap tantanganโsuka atau tidakโsebagai batu loncatan menuju impian mereka.
Sobat JEI, sepertinya begitulah drama kehidupan. Kita jarang merasa bosan terhadap segala sesuatu yang kita suka. Namun, kita merasa amat tersiksa dan buntu saat berhadapan dengan hal yang tidak kita suka. “Suka” dan “tidak suka” tiba-tiba menjadi tuan besar yang mengatur nasib kita.
Dalam psikologi, ini disebut Hedonic Principle, di mana manusia secara naluriah mendekati kesenangan dan menjauhi ketidaknyamanan. Tapi, apakah menuruti prinsip ini akan membawa kita maju?
Jawabannya tentu saja tidak. Untuk melompat dari zona nyaman menuju pencapaian luar biasa, dibutuhkan revolusi mental yang radikal. Mari kita bongkar rahasia bagaimana para visioner memandang rasa ‘suka’ dan ‘tidak suka’ bukan sebagai penentu takdir, melainkan sekadar riak kecil dalam samudra ambisi mereka.
Rahasia Pola Pikir Pemenang
Mindset Orang Sukses Melampaui Mood
Mereka yang punya visi, punya target, dan tahu apa yang mereka mau (kerap disebut sebagai manusia sukses), tidak memberi batas jelas antara suka dan tidak suka. Ini adalah inti dari visi kesuksesan.
Kalau sudah menyangkut mewujudkan keinginan, semua menjadi “suka”. Bahkan mungkin mereka menghapus kata “tidak suka” dari kamus mereka.
Pernyataan ini bukan sekadar motivasi kosong, Sobat JEI. Dunia akademis pun mengakuinya lewat data yang valid. Mari kita simak bagaimana temuan riset psikologi terkini memvalidasi bahwa kemampuan bertahan dalam situasi yang ‘tidak menyenangkan’ adalah kunci emas yang membedakan para pemenang dari pemimpi belaka
Psikolog Angela Duckworth dalam bukunya Grit, menjelaskan bahwa kunci kesuksesan bukanlah bakat, melainkan kegigihan (passion + perseverance). Orang sukses melakukan hal-hal yang membosankan atau sulit (seperti membaca buku teks yang berat) karena mereka fokus pada tujuan jangka panjang, bukan kenyamanan sesaat.
Seperti kutipan bijak ini: “The past is not a place to park our soul. But something to accept, learn and grow from.”
Masa lalu (atau buku yang membosankan) bukan tempat parkir jiwa, tapi tempat belajar. Hehehe…
Tips Mengatasi Buku yang Membosankan Tapi Penting
- Metode 5 Menit: Paksa diri membaca hanya 5 menit. Seringkali, bagian tersulit hanyalah memulainya.
- Cari Versi Lain: Jika terjemahannya buruk, coba cari versi bahasa aslinya atau cari ringkasan audio-visualnya.
- Ubah Mindset: Jangan baca untuk “hiburan”, tapi bacalah untuk “mencari satu berlian”. Fokus temukan satu ide bagus saja, maka beban membaca akan berkurang.
- Google Terjemahan: Kadang, memahami satu istilah asing lewat Google bisa membuka sumbatan pemahaman di paragraf sulit.
Semoga Sobat JEI kini lebih paham penyebab suka dan tak suka mengenai buku dan bisa lebih bijak memilih bacaan!
eviindrawanto.com
